UNITRI Dorong Biochar Berbasis Komunitas, Buka Jalan Pertanian Regeneratif dan Kredit Karbon

MALANGPARIWARA.COM – Biochar mulai mendapat perhatian sebagai salah satu pendekatan untuk memperbaiki pengelolaan lahan sekaligus membuka peluang pengembangan kredit karbon.

Di tengah kebutuhan pertanian yang lebih berkelanjutan, Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang ikut mendorong model penerapan biochar yang menempatkan petani dan komunitas lokal sebagai aktor utama.

Peran tersebut ditunjukkan UNITRI melalui keterlibatannya sebagai co-partner Workshop on Carbon Credit Methodology to Strengthen Agricultural Extension for Biochar Application in Land Management and Regenerative Agriculture di Jakarta, Selasa (29/9).

Workshop ini mempertemukan peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, penyuluh pertanian, asosiasi biochar hingga pelaku usaha.

Forum tidak hanya membahas teknologi biochar, tetapi juga bagaimana penerapannya dapat diperkuat melalui metodologi kredit karbon yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Keterlibatan UNITRI datang dari dua unsur akademik. Prof. Dr. Ir. Widowati, MP tampil sebagai salah satu pemateri utama, sementara Wakil Rektor II UNITRI, Dr. Erwin Ismu Wisnubroto, SP., M.Phil, dipercaya menjadi anggota Tim Perumus hasil workshop.

Dalam paparannya bertajuk Community-Based Biochar Model for Indonesian Regenerative Agriculture and Carbon Credit Readiness, Prof. Widowati menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas.

Menurut model tersebut, petani dan kelembagaan lokal tidak ditempatkan hanya sebagai pengguna teknologi. Mereka menjadi bagian dari rantai pengelolaan biomassa, mulai dari produksi, pemanfaatan biochar, hingga pencatatan data yang dibutuhkan untuk memastikan penerapannya dapat diukur.

Dengan pendekatan itu, biochar tidak berhenti sebagai produk teknologi, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pertanian berbasis masyarakat.

Kualitas biochar, kesesuaian dengan karakteristik tanah dan tanaman, pendampingan, kelembagaan lokal, hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat desa menjadi aspek yang harus berjalan bersamaan.

Kesiapan komunitas juga tidak serta-merta diarahkan pada proyek kredit karbon. Tahap awal dimulai dari kemampuan memproduksi dan menggunakan biochar secara tepat. Setelah itu, penerapan dapat diperluas melalui dukungan fasilitas dan model usaha. Tahap berikutnya barulah diarahkan menuju kesiapan proyek karbon yang membutuhkan standar, verifikasi, pengukuran, serta mekanisme pembagian manfaat yang jelas.

Sementara itu, Dr. Erwin Ismu Wisnubroto mengambil peran dalam Tim Perumus yang menyusun sintesis dari berbagai pemaparan dan diskusi. Rumusan tersebut berupaya mempertemukan aspek ilmiah, kebijakan, penyuluhan, kesiapan petani, serta peluang kerja sama antar lembaga.

Salah satu penekanan forum adalah menempatkan kesehatan tanah, produktivitas pertanian, dan kesejahteraan petani sebagai tujuan utama pengembangan biochar. Kredit karbon bukan tujuan akhir, melainkan peluang insentif tambahan yang harus dibangun di atas data, perhitungan yang dapat diverifikasi, dan tata kelola yang transparan.

Pembahasan workshop juga menyinggung rancangan pedoman ASEAN mengenai biochar, pengembangan metodologi Joint Crediting Mechanism (JCM), pengalaman Thailand, serta pentingnya menyesuaikan penerapan biochar dengan karakteristik tanah di Indonesia.

Persoalan di tingkat petani pun menjadi perhatian. Mulai dari keterbatasan pengetahuan, biaya produksi dan aplikasi, akses terhadap peralatan, hingga kebutuhan panduan Good Agricultural Practices (GAP) yang secara khusus mengakomodasi penggunaan biochar.

Dari forum tersebut, terbuka ruang kolaborasi yang cukup luas bagi UNITRI. Di antaranya riset bersama, uji lapangan, penguatan kapasitas laboratorium, pelatihan penyuluh dan petani, hingga pertukaran pengetahuan dengan mitra nasional maupun internasional.

Tindak lanjutnya diarahkan pada identifikasi mitra dan lokasi percontohan, pembagian peran, kebutuhan sumber daya, serta penyusunan rencana kerja yang realistis.

Bagi UNITRI, keterlibatan dalam workshop tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keterhubungan antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan persoalan nyata di sektor pertanian.

Biochar pun tidak hanya dilihat dari sisi teknologinya. Ketika dirancang berbasis komunitas dan didukung data yang kuat, penerapannya berpotensi menjadi bagian dari upaya memperbaiki kesehatan tanah, memperkuat pertanian regeneratif, sekaligus membuka akses terhadap skema insentif karbon yang lebih kredibel.(Djoko W)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *