Polinema Dampingi UMKM Keripik Tempe Desa Tulusbesar Naik Kelas

Malangpariwara.com – Persaingan produk pangan tidak lagi hanya ditentukan oleh rasa dan kualitas bahan baku. Kemasan, label, higienitas, dan identitas merek turut menentukan apakah sebuah produk mampu menarik perhatian konsumen atau justru kalah sebelum dibeli.

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Negeri Malang (Polinema) melalui pendampingan pengemasan dan pelabelan produk keripik tempe bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Dilaksanakan pada 26 September 2026, kegiatan yang melibatkan 25 peserta dari masyarakat dan pelaku UMKM tersebut diarahkan untuk memperbaiki kualitas tampilan produk sekaligus memperkuat daya saing keripik tempe lokal. Program ini didanai melalui DIPA Politeknik Negeri Malang Tahun Anggaran 2026.

Di balik potensi keripik tempe sebagai produk olahan pangan, terdapat persoalan yang kerap dihadapi UMKM: produk yang memiliki potensi pasar belum tentu mampu tampil meyakinkan di hadapan konsumen.

Kemasan yang masih sederhana, identitas produk yang belum kuat, serta keterbatasan pemahaman mengenai pengemasan higienis dapat menjadi hambatan dalam membangun kepercayaan pembeli dan memperluas pemasaran.

Pendampingan Polinema mencoba menjawab persoalan tersebut melalui perbaikan yang dapat diterapkan langsung oleh pelaku usaha, bukan sekadar memberikan pengetahuan secara teoritis.

Kemasan Bukan Sekadar Pembungkus, tetapi Penentu Daya Saing

Dalam pemasaran produk pangan, kemasan memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar melindungi isi. Kemasan yang rapi dan sesuai kebutuhan produk membantu menjaga kualitas, memberikan informasi kepada konsumen, serta membentuk kesan profesional terhadap usaha yang memproduksinya.

Bagi UMKM keripik tempe di Desa Tulusbesar, penguatan aspek tersebut menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya tarik produk. Produk dengan kualitas yang baik membutuhkan penyajian yang mampu memperlihatkan kualitas tersebut kepada calon pembeli.

Label juga memegang peran penting. Identitas merek yang mudah dikenali dan informasi produk yang jelas dapat membantu konsumen membedakan produk satu dengan lainnya. Tanpa identitas yang kuat, produk berisiko sulit membangun pengenalan merek, terutama ketika harus bersaing dengan produk sejenis di pasar yang lebih luas.

Praktek Pengemasan.(Ist)

Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Baroroh Lestari, S.Sos., M.AB., menjelaskan bahwa program dirancang berdasarkan persoalan yang ditemukan pada mitra. Permasalahan tersebut mencakup penggunaan kemasan sederhana, lemahnya identitas produk, keterbatasan pemahaman tentang teknik pengemasan higienis, serta belum optimalnya pemanfaatan label dan branding sebagai instrumen peningkatan daya saing.

Atas dasar itu, tim tidak hanya memberikan materi, tetapi juga melibatkan peserta dalam praktik pengemasan dan penerapan label agar keterampilan yang diperoleh dapat digunakan dalam kegiatan produksi sehari-hari.

Dari Materi ke Praktik: Menimbang, Menyegel, hingga Memasang Label

Pendampingan disusun melalui beberapa tahapan, mulai dari pre-test, penyampaian materi, pengenalan desain label dan mockup kemasan, praktik langsung, diskusi dan tanya jawab, penyerahan peralatan, hingga evaluasi melalui post-test.

Materi yang diberikan mencakup fungsi kemasan, kebersihan selama proses pengemasan, penggunaan timbangan, teknik penyegelan menggunakan alat sealer, pemasangan label, serta pentingnya informasi produk yang jelas dan mudah dibaca.

Dalam sesi praktik, peserta mengikuti proses pengemasan keripik tempe secara bertahap. Produk disiapkan, ditimbang untuk menjaga konsistensi berat, dimasukkan ke dalam plastik kemasan, kemudian disegel menggunakan sealer. Tahap berikutnya adalah memasang label agar produk memiliki identitas yang lebih jelas.

Praktik tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena perbaikan kemasan tidak cukup berhenti pada pemahaman desain. Pelaku usaha juga perlu mampu menerapkan prosedur pengemasan secara konsisten, menjaga kebersihan, dan menggunakan peralatan dengan tepat.

Dengan proses yang lebih teratur, UMKM diharapkan dapat menghasilkan kemasan yang lebih rapi dan seragam. Konsistensi ini menjadi salah satu fondasi untuk membangun citra produk yang lebih profesional.

Nilai Pre-test 52, Naik Menjadi 92

Salah satu hasil yang dilaporkan dalam kegiatan ini adalah peningkatan nilai evaluasi peserta. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test terhadap 25 peserta, rata-rata nilai meningkat dari 52 menjadi 92.

Selisih tersebut mencapai 40 poin, atau meningkat sekitar 76,9 persen dibandingkan nilai awal. Capaian ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti rangkaian pendampingan.

Materi yang dievaluasi berkaitan dengan pengemasan, pelabelan, branding, higienitas, dan penggunaan peralatan pengemasan.

Meski demikian, peningkatan nilai tes perlu dibedakan dari peningkatan kinerja bisnis. Hasil tersebut menunjukkan perkembangan pemahaman peserta, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan adanya kenaikan omzet, keuntungan, jumlah pelanggan, atau perluasan pasar. Dampak ekonomi tersebut masih perlu diukur melalui pemantauan setelah program dilaksanakan.

Pembedaan ini penting agar keberhasilan pendampingan tidak hanya dinilai dari kegiatan yang terlaksana dan pengetahuan yang meningkat, tetapi juga dari sejauh mana keterampilan baru benar-benar diterapkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM.

Peralatan Diserahkan, Tantangan Keberlanjutan Menanti

Untuk mendukung penerapan hasil pelatihan, tim PkM menyerahkan sejumlah peralatan dan bahan pendukung kepada mitra, meliputi label produk, plastik kemasan, timbangan, sealer, dan sarung tangan.

Bantuan tersebut diharapkan memungkinkan peserta menerapkan keterampilan pengemasan secara mandiri pada produksi berikutnya. Keberadaan alat menjadi modal awal agar perubahan tidak berhenti ketika kegiatan pendampingan selesai.

Namun, keberlanjutan program tetap menjadi pekerjaan penting. Penggunaan kemasan yang lebih baik perlu diikuti konsistensi kualitas produk, pengendalian biaya bahan kemasan, ketepatan berat bersih, serta pencantuman informasi produk yang sesuai ketentuan.

Desain label pun perlu disesuaikan dengan karakter produk dan kebutuhan pasar, bukan hanya dibuat menarik secara visual.

Ke depan, pemantauan penerapan hasil pelatihan dapat menjadi langkah strategis untuk mengetahui apakah pelaku usaha terus menggunakan peralatan yang diberikan, mempertahankan standar kebersihan, serta menerapkan label secara konsisten.

Evaluasi lanjutan juga diperlukan untuk mengukur perubahan biaya pengemasan, harga jual, penjualan, dan jangkauan pemasaran.

Dengan demikian, pendampingan tidak hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan dalam jangka pendek, tetapi juga membuka peluang terbentuknya kebiasaan produksi dan pemasaran yang lebih baik.

Kolaborasi Perguruan Tinggi dan UMKM

Kegiatan ini melibatkan tim dosen yang terdiri atas Dr. Baroroh Lestari, S.Sos., M.AB. sebagai ketua, bersama Prof. Dr. Dra. Nilawati Fiernaningsih, M.AB., Diana Eka Poernamawati, S.Sos., M.AB., Ellyn Eka Wahyu, S.Sos., M.AB., Yekie Senja Oktora, S.E., M.M., dan Dr. Drs. Pudji Herijanto, M.AB. sebagai anggota.

Pelaksanaan kegiatan turut didukung tenaga kependidikan dan mahasiswa yang membantu kebutuhan teknis di lapangan.

Program tersebut menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi ini, pengetahuan dan keterampilan dari lingkungan akademik diterapkan untuk menjawab kebutuhan praktis pelaku usaha di tingkat desa.

Bagi UMKM Desa Tulusbesar, pendampingan pengemasan dan pelabelan membuka peluang untuk memperkuat identitas keripik tempe sebagai produk lokal yang lebih siap bersaing. Akan tetapi, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada konsistensi penerapan, kualitas produk, strategi harga, dan kemampuan menjangkau konsumen.

Pada akhirnya, kemasan yang lebih baik merupakan titik awal, bukan garis akhir. Peningkatan daya saing UMKM membutuhkan kesinambungan antara kualitas produk, identitas merek, proses produksi yang higienis, dan strategi pemasaran yang terukur.

Tantangan berikutnya bagi pelaku usaha dan pendamping adalah memastikan perubahan yang dimulai di ruang pelatihan benar-benar berlanjut ke proses produksi dan menghasilkan nilai ekonomi yang dapat dirasakan.

Melalui pendampingan ini, Politeknik Negeri Malang mendorong agar keripik tempe Desa Tulusbesar tidak hanya dikenal sebagai produk pangan lokal, tetapi juga memiliki tampilan, identitas, dan kesiapan pemasaran yang lebih baik untuk menjangkau pasar yang lebih luas.( Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *