1700 Siswa SMKN 4 Malang Diedukasi, Bakesbangpol dan Polisi Tekankan Bahaya Bullying

Malangpariwara.com – Penguatan karakter pelajar tidak cukup hanya melalui pembelajaran di kelas. Kesadaran menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan menolak segala bentuk kekerasan juga perlu ditanamkan sejak dini.

Hal inilah yang menjadi fokus sosialisasi wawasan kebangsaan yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang bersama Satreskrim Polresta Malang Kota di SMKN 4 Malang, Selasa (20/10/2026).

Sebanyak 1700 siswa kelas X dan XI mengikuti kegiatan tersebut. Selain memperkuat nasionalisme dan pemahaman nilai-nilai Pancasila, sosialisasi ini menyoroti bahaya kekerasan terhadap anak, mulai dari kekerasan fisik, perundungan verbal, kekerasan sosial, hingga perundungan di ruang digital.

Kabid Iwasbang Bakesbangpol Kota Malang, Sukristyono Apriyodarmo, S.Sos., M.AP (Ist)

Kabid Iwasbang Bakesbangpol Kota Malang, Sukristyono Apriyodarmo, S.Sos., M.AP., menegaskan, penguatan wawasan kebangsaan menjadi penting karena pelajar saat ini merupakan generasi yang akan menentukan masa depan Indonesia.

Pada 2045, mereka diproyeksikan memasuki usia produktif dan berperan dalam pembangunan nasional. Karena itu, generasi muda perlu dibekali karakter kuat, rasa cinta tanah air, serta kemampuan menjaga persatuan di tengah keberagaman.

“Hari ini kami berkunjung ke sekolah karena para siswa SMK merupakan generasi penerus bangsa. Pada tahun 2045 nanti, mereka akan berada di usia yang paling produktif,” ujar Sukris yang saat ini juga sebagai Plt sekretaris Kesbangpol Kota Malang.

Menurutnya, pemahaman kebangsaan harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, bukan sebatas pengetahuan tentang Pancasila atau simbol negara. Sikap toleran, saling menghargai, dan bertanggung jawab terhadap sesama merupakan bagian penting dari karakter warga negara.

Bakesbangpol Kota Malang, lanjutnya, menjalankan sosialisasi tersebut secara rutin di berbagai jenjang pendidikan. Program ini akan dilanjutkan ke sekolah-sekolah lain pada awal November mendatang.

Polisi Ingatkan Bahaya Perundungan di Dunia Nyata dan Digital

Penguatan karakter kebangsaan dalam kegiatan tersebut dilengkapi edukasi pencegahan kekerasan terhadap anak yang disampaikan Kaurbinopsnal Satreskrim Polresta Malang Kota, Iptu Putra Wicaksono.

Ia menjelaskan, perundungan tidak hanya berbentuk tindakan fisik. Ucapan yang merendahkan, pengucilan dalam pergaulan, hingga tindakan menyakiti orang lain melalui media sosial juga termasuk perilaku yang perlu diwaspadai.

“Jadi kita memberikan materi tentang pencegahan kekerasan terhadap anak, kekerasan fisik, kekerasan verbal yang disebut bullying, kekerasan sosial, maupun kekerasan siber atau kekerasan di media sosial,” jelas Putra.

Menurutnya, edukasi tersebut relevan bagi siswa sekolah menengah karena sebagian masih berusia di bawah 18 tahun dan membutuhkan pemahaman mengenai perlindungan anak serta pencegahan kekerasan.

Putra menyampaikan, berdasarkan pengamatannya, tren perundungan di Kota Malang pada tahun ini tidak menunjukkan peningkatan. Kasus kekerasan terhadap anak juga disebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, edukasi dan pencegahan tetap diperlukan agar pelajar mampu mengenali perilaku kekerasan, memahami dampaknya, serta tidak terlibat sebagai pelaku maupun membiarkan tindakan perundungan terjadi di lingkungan mereka.

Ia juga mengingatkan para siswa agar tetap fokus mengejar cita-cita dengan mengimbangi usaha dan doa.

“Terus fokuslah dalam menggapai cita-cita. Pasti adik-adik semua mempunyai cita-cita. Berusaha dan berdoa tidak akan mengkhianati hasil,” pesannya.

Sekolah Dorong Edukasi Berkelanjutan

Kepala SMKN 4 Malang, Dr. Drs. H. Gunawan Dwiyono, S.ST., M.Pd.(ist)

Kepala SMKN 4 Malang, Dr. Drs. H. Gunawan Dwiyono, S.ST., M.Pd., mengapresiasi kolaborasi Bakesbangpol dan kepolisian dalam memberikan pendidikan karakter kepada siswa.

Ia menilai, kegiatan semacam ini perlu dilaksanakan secara berkelanjutan, minimal sekali dalam setahun. Pergantian angkatan siswa setiap tahun membuat penguatan wawasan kebangsaan dan kesadaran anti kekerasan harus terus dilakukan.

“Ini kegiatan yang harusnya memang berulang. Berulang itu minimal setahun sekali, karena kami punya generasi yang selalu berganti tiap tahun,” ungkap Gunawan.

Keterlibatan narasumber dari luar sekolah, lanjutnya, memberikan sudut pandang berbeda bagi siswa. Pengalaman praktis aparat dalam menjaga keamanan dan menangani persoalan sosial dapat melengkapi pendidikan karakter yang selama ini diberikan guru.

Melalui kegiatan ini, Bakesbangpol dan Polresta Malang Kota mendorong pelajar agar tidak hanya memahami nilai kebangsaan secara teoritis, tetapi juga menerapkannya dalam pergaulan. Menghormati perbedaan, menolak perundungan, menjaga persatuan, dan berani membangun lingkungan yang aman menjadi bagian dari tanggung jawab generasi muda.

Penguatan nasionalisme pun diharapkan berjalan seiring dengan tumbuhnya budaya anti kekerasan di sekolah, sehingga lingkungan pendidikan menjadi ruang yang aman bagi setiap siswa untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita.(Djoko W) (ADV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *