Dosen Akuntansi Polinema Latih Kader Posyandu Azalia Olah Daun Kelor Jadi Cookies Bergizi

Berita, Edukasi6 views

Malangpariwara.com – Daun kelor tak hanya bisa diolah menjadi sayur. Di tangan kader Posyandu Azalia RW 13, Kelurahan Sawojajar, Kota Malang, tanaman kaya nutrisi tersebut disulap menjadi cookies tanpa pengawet sintetis yang berpotensi menjadi camilan bergizi sekaligus peluang usaha rumahan.

Ketua Tim PkM Rizky Prasetya, mengatakan bahwa inovasi ini diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tim dosen Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jumat (28/8/2026).

“Sebanyak 11 kader Posyandu mengikuti pelatihan yang tidak hanya mengajarkan teknik pengolahan daun kelor, tetapi juga membekali peserta dengan pengetahuan dasar pengelolaan usaha,” katanya.

Mengusung tema Pemberdayaan Kader Posyandu dalam Pembuatan Cookies Daun Moringa Bebas Pengawet untuk Meningkatkan Gizi Balita dan Efisiensi Ekonomi Keluarga, program tersebut didanai melalui Dana DIPA Polinema dan berlangsung di Balai RW 13 Kelurahan Sawojajar.

Tim PkM diketuai Rizky Prasetya, S.Akun., M.S.A., dengan anggota Drs. Apit Miharso, Ak., M.Pd., Annisa Fitriana, S.E., M.SA., Dr. Aang Afandi, S.E., M.M., serta Hesti Wahyuni, S.E.Ak., M.M. Kegiatan ini turut melibatkan delapan mahasiswa Jurusan Akuntansi Polinema.

Optimalkan Potensi Daun Kelor

Pemilihan daun kelor bukan tanpa alasan. Tanaman lokal ini dikenal memiliki kandungan nutrisi, antara lain protein, kalsium, zat besi, vitamin A, dan vitamin C yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi. Namun, pemanfaatannya di lingkungan masyarakat masih terbatas.

“Berdasarkan survei awal tim PkM, daun kelor umumnya hanya diolah menjadi sayur. Padahal, tidak semua balita menyukai olahan tersebut karena cita rasanya yang cenderung pahit,” ungkap Rizky.

Kondisi ini mendorong tim Polinema memperkenalkan alternatif pengolahan dalam bentuk cookies. Selain menawarkan variasi pangan, produk tersebut diharapkan lebih mudah diterima anak-anak.

Di sisi lain, para kader Posyandu yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan usaha berbasis pangan lokal.

“Hanya saja, keterampilan pengolahan produk serta kemampuan menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual masih perlu diperkuat,”tukasnya.

Karena itu, pelatihan dirancang tidak sebatas menghasilkan produk makanan, tetapi juga membangun kemampuan peserta dalam mengembangkan usaha skala rumah tangga.

Dilatih Produksi hingga Menghitung Harga Jual

Pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai kandungan gizi daun kelor, manfaatnya bagi tumbuh kembang balita, serta pentingnya memilih bahan pangan yang aman dan bebas pengawet sintetis.

Tim dosen juga memberikan pembekalan mengenai penghitungan biaya produksi sederhana. Peserta diperkenalkan pada berbagai komponen biaya, mulai dari bahan baku, tenaga kerja, hingga biaya overhead.

Tidak berhenti di situ, para kader dilatih menghitung harga pokok produksi (HPP) per kemasan dan menentukan harga jual yang wajar. Untuk memudahkan penerapan, tim menyediakan lembar kerja praktis yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi rumahan.

Setelah pembekalan teori, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan cookies daun kelor yang dipandu narasumber bidang kuliner bersama tim PkM dan mahasiswa.

Peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil agar setiap kader dapat terlibat dalam seluruh tahapan produksi.

Prosesnya dimulai dari penyiapan dan pengeringan daun kelor, pengolahan menjadi tepung, pencampuran bahan, formulasi adonan, hingga pemanggangan.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai teknik penyimpanan yang tepat untuk menjaga kualitas cookies tanpa menggunakan pengawet sintetis.

Formulasi produk yang diperkenalkan telah melalui beberapa kali uji coba. Tahapan tersebut dilakukan untuk mendapatkan rasa, tekstur, dan aroma yang diharapkan dapat diterima anak-anak, sekaligus memastikan proses pembuatannya memungkinkan diterapkan dalam skala rumah tangga.

Disiapkan untuk Berlanjut Menjadi Usaha Rumahan

Untuk mengukur efektivitas pelatihan, kegiatan ditutup dengan diskusi, tanya jawab, serta pengukuran pengetahuan akhir peserta.

Tim PkM juga menyerahkan modul pelatihan dan peralatan pendukung kepada Posyandu Azalia agar keterampilan yang diperoleh dapat terus dipraktikkan.

Keberlanjutan program menjadi perhatian tim Polinema. Pendampingan secara berkala direncanakan melalui kunjungan lapangan dan komunikasi daring.

Pendampingan tersebut diarahkan agar kader mampu memproduksi cookies daun kelor secara mandiri, menerapkan prinsip keamanan pangan, serta melakukan pencatatan biaya produksi secara konsisten.

Pelaksanaan pelatihan pada akhir Agustus sebelumnya telah disepakati bersama mitra melalui musyawarah. Penentuan jadwal mempertimbangkan agenda penimbangan balita bulanan dan rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI sehingga seluruh kader dapat mengikuti kegiatan tanpa mengganggu aktivitas rutin Posyandu.

Melalui program ini, cookies daun kelor diharapkan tidak berhenti sebagai alternatif camilan bagi balita. Lebih jauh, produk tersebut berpeluang dikembangkan menjadi pangan olahan rumahan bernilai ekonomi yang dapat menambah pendapatan keluarga.

Program ini sekaligus menunjukkan kontribusi Polinema dalam menerapkan keilmuan perguruan tinggi secara langsung di tengah masyarakat.

Melalui perpaduan pengetahuan gizi, keterampilan produksi, dan pengelolaan keuangan sederhana, pemberdayaan kader Posyandu diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi kesehatan keluarga sekaligus penguatan ekonomi masyarakat.(Djoko W)

http://Polinema.ac.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *