Malangpariwara.com – Mahasiswa penyandang disabilitas lakukan uji coba program Drone Pilot Academy hasil kolaborasi Universitas Brawijaya (UB) dan B One Corp.
Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi profesional sekaligus memperluas peluang kerja bagi mahasiswa difabel di berbagai sektor industri.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (9/3/2026) ini menjadi tahap awal pengembangan kurikulum pelatihan drone yang lebih inklusif.
Melalui program tersebut, mahasiswa difabel diharapkan memiliki keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja berbasis teknologi.
Commercial SPV B One Corp, Hamonangan J.K., menjelaskan bahwa kepemilikan sertifikasi resmi akan membuka peluang kerja yang lebih luas bagi lulusan.
Sertifikat tersebut menjadi bukti legalitas untuk bekerja di berbagai sektor seperti konstruksi, pertanian, hingga industri media yang membutuhkan operator drone profesional.
Tahap uji coba melibatkan tim instruktur, dua mahasiswa sebagai peserta pionir, serta staf dari Pusat Layanan Disabilitas UB.
Fokus kegiatan meliputi pengujian modul pembelajaran, simulasi navigasi drone, serta identifikasi kebutuhan pelatihan yang menyesuaikan ragam disabilitas peserta.

Uji coba ini menjadi tahap penting sebelum peserta mengikuti sertifikasi resmi. Nantinya, peserta diproyeksikan mengikuti ujian sertifikasi nasional dari Kementerian Perhubungan RI serta standar internasional di bidang pengoperasian drone.
“Salah satu yang sempat kita diskusikan adalah terkait aspek komunikasi pilot drone. Kita perlu mempertimbangkan, semisal untuk Tuli, apakah mungkin jika ada sektor tertentu dalam tugas mereka yang tidak terlalu mengandalkan pendengaran. Ini penting untuk memastikan keterlibatan banyak kalangan dengan berbagai kemampuan,” tegasnya.
Kapten pilot drone yang juga bertugas sebagai instruktur dalam uji coba tersebut, Danang, menjelaskan bahwa penyesuaian dilakukan pada metode pengajaran.
Namun demikian, standar keselamatan penerbangan tetap dipertahankan sesuai regulasi yang berlaku.
“Target kami adalah memastikan aspek ergonomis kontroler dan aksesibilitas perangkat terpenuhi. Standar kompetensi tetap merujuk pada regulasi ruang udara yang berlaku. Sehingga lulusan memiliki kualifikasi teknis yang setara dengan pilot drone profesional lainnya,” jelas Danang.
Hasil Uji Coba Jadi Evaluasi Standar Pelatihan Drone
Ketua Pusat Layanan Disabilitas UB, Zubaidah Ningsih AS., Ph.D, menyampaikan bahwa hasil uji coba ini akan menjadi bahan evaluasi penyusunan standar operasional pelatihan drone yang inklusif.
Evaluasi mencakup berbagai aspek seperti durasi pelatihan, rasio instruktur, hingga penyediaan alat bantu atau modifikasi perangkat kendali.
Secara kurikulum, pelatihan ini mencakup pengenalan sistem UAV (Unmanned Aerial Vehicle), prosedur keselamatan penerbangan, hingga pengolahan data hasil pemotretan udara.
Kompetensi tersebut dinilai memiliki prospek karier yang luas bagi penyandang disabilitas di berbagai sektor strategis.
Beberapa peluang profesi yang dapat diakses lulusan program ini antara lain operator pemetaan lahan berbasis GIS, inspektur infrastruktur, hingga analis data pemetaan wilayah bencana.
Bidang-bidang tersebut lebih menitikberatkan pada ketelitian analisis data dan kemampuan navigasi drone.
Dari sisi peserta, Fadhly, mahasiswa Tuli yang mengikuti uji coba ini, menilai bahwa penguasaan materi teknis menjadi bagian penting dalam pelatihan.
Ia juga menilai simulasi praktik membantu mempermudah pemahaman terhadap materi yang cukup kompleks.
“Pada dasarnya banyak sekali hal teknis yang sangat penting dipahami. Untuk teman-teman Tuli seperti saya misalnya, modul itu sangat banyak, namun secara praktis akan mudah dipahami ketika simulasi dilakukan,” ungkap Fadhly. (Djoko W)






