Bukan Sekadar Ideologi: Dosen UM Bongkar Akar Rumit Konflik Iran–AS–Israel

Malangpariwara.com – Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kerap dipahami secara sederhana sebagai pertarungan ideologi atau agama. Namun, di balik itu, terdapat dinamika sejarah, kepentingan negara, dan perubahan pola perang yang jauh lebih kompleks.

Hal tersebut disampaikan oleh Arif Subekti, S.Pd., M.A., dosen sekaligus Sekretaris Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM).

Ia menegaskan bahwa dalam perspektif sejarah, konflik tidak bisa dilihat secara instan, melainkan sebagai proses panjang yang terus bergerak dari waktu ke waktu.

“Sejarah melihat apa yang terjadi secara diakronik. Kalau geopolitik itu seperti papan catur, penuh strategi dan perhitungan,” ujarnya, Selasa (14/4).

Dalam kajian sejarah militer, perang bukanlah fenomena baru.

Sejak peradaban awal, konflik sudah menjadi bagian dari perjalanan manusia. Namun, bentuknya terus berkembang.

Jika dulu perang berlangsung terbuka di medan tempur, kini konflik hadir dalam bentuk yang lebih kompleks dan tidak langsung.

Salah satu bentuk modern tersebut adalah perang proksi, di mana aktor utama tidak selalu berhadapan langsung. Menurut Arif, banyak pihak yang terlibat sebagai “perpanjangan tangan” dalam konflik.

“Perang hari ini tidak selalu mempertemukan dua pihak secara langsung. Ada banyak aktor yang terlibat, seperti bidak catur yang digerakkan lebih dulu,” jelasnya.

Konsep ini menjadi kunci untuk memahami konflik di kawasan Timur Tengah saat ini.

Bahkan, istilah “Timur Tengah” sendiri disebut sebagai konstruksi perspektif Barat, yang sejak awal telah memposisikan kawasan tersebut dalam kerangka kepentingan global.

Arif juga menyoroti bahwa hubungan antarnegara di kawasan tersebut sangat dinamis. Koalisi yang terbentuk tidak bersifat permanen dan bisa berubah seiring waktu.

“Dulu Iran dan Israel pernah berada dalam posisi yang relatif dekat sebelum Revolusi Iran 1979,” ungkapnya.

Revolusi Iran 1979 menjadi titik balik penting dalam hubungan internasional Iran.

Perubahan dari sistem monarki menjadi republik Islam tidak hanya berdampak pada politik domestik, tetapi juga mengubah hubungan Iran dengan Amerika Serikat dari yang semula dekat menjadi penuh ketegangan.

Meski sering dikaitkan dengan ideologi, Arif menegaskan bahwa faktor utama dalam konflik tetaplah kepentingan nasional masing-masing negara.

Isu seperti pengembangan nuklir Iran, misalnya, tidak lepas dari perbedaan kepentingan dan persepsi antarnegara.

“Perang bukan semata soal ideologi. Yang paling menentukan adalah kepentingan hari ini, baik itu keamanan maupun ekonomi,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa sejarah memang memberikan latar belakang, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu konflik.

Mengutip pemikiran filsuf Bertrand Russell, Arif menyebut bahwa peristiwa masa lalu memang meninggalkan bayang-bayang, namun tidak selalu menjadi faktor utama dalam dinamika saat ini.

Dalam konteks Indonesia, Arif menilai pentingnya menjaga prinsip dan kedaulatan dalam menyikapi konflik global yang terus berkembang.

“Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip dan kewibawaan dalam hubungan internasional,” katanya.

Melalui pendekatan sejarah, konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel dipahami sebagai fenomena yang berlapis dan dinamis. Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak terjebak pada narasi sederhana yang berpotensi menimbulkan bias, melainkan mampu melihat persoalan global secara lebih utuh dan jernih.( Djoko W)