UB Hadirkan Pakar Internasional Bahas Krisis Air dan Kesetaraan Gender di Guest Lecture World Water Week 2026

Malangpariwara.com – Universitas Brawijaya (UB) menggelar Guest Lecture internasional bertajuk “Water for All People: Science, Policy, and Inclusive Action” dalam rangka peringatan Hari Hemat Air Sedunia 2026 atau World Water Week 2026, Senin (11/5/2026), di Gedung Pandhita Majapahit, Auditorium Brawijaya.

Kegiatan yang mengusung tema “Water Future for All 2026” dengan subtema “Alirkan Keadilan: Bijak Gunakan Air, Beri Ruang untuk Sesama” ini menghadirkan dua pembicara internasional, yakni Dr. Engin Koncagul dari UNESCO Regional Office Jakarta dan Prof. Ananto Kusuma Seta, Ph.D dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).

Acara dibuka oleh Wakil Rektor IV UB Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, Prof. Dr. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc.

Wakil Rektor IV UB Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, Prof. Dr. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc. (Djoko W)

Prof. Andi Kurniawan menegaskan, bahwa persoalan air kini telah menjadi tantangan global yang berkaitan erat dengan lingkungan, kesehatan, ekonomi, pangan, hingga kemanusiaan.

Menurutnya, perubahan iklim, pertumbuhan populasi, pencemaran lingkungan, serta ketimpangan akses air bersih membuat isu pengelolaan air harus ditangani melalui kolaborasi lintas negara dan lintas institusi.

“Kami melihat bahwa isu air bukan lagi persoalan lokal, tetapi persoalan global yang membutuhkan kerja sama internasional. Karena itu Universitas Brawijaya ingin menghadirkan forum yang tidak hanya membahas persoalan ini secara akademik, tetapi juga membangun aksi nyata dan jejaring global,” ujar Prof. Andi.

Ia menjelaskan, kegiatan internasional tersebut menjadi bagian dari komitmen UB dalam memperkuat pengelolaan sumber daya air, keberlanjutan lingkungan, serta pengembangan jejaring akademik dunia melalui kolaborasi bersama UNESCO dan berbagai UNESCO Chair.

UB juga tengah mendorong penguatan posisi menuju UNESCO Chair tentang Integrated Ecohydrology and Water Security in Coastal Areas (SEACoM) atau Ekohidrologi Terpadu dan Keamanan Air di Wilayah Pesisir. Karena itu, forum ini menjadi momentum penting untuk memperluas networking internasional dalam bidang keberlanjutan lingkungan dan konservasi air.

“Kegiatan ini menjadi ruang jejaring berbagai UNESCO Chair dan mitra internasional. Kami berharap ke depan berkembang menjadi kerja sama penelitian, pertukaran akademik, publikasi internasional, hingga program keberlanjutan bersama,” katanya.

Dari kiri Dr. Engin Koncagul dari UNESCO Regional Office Jakarta dan Prof. Ananto Kusuma Seta, Ph.D dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).(Djoko W)

Sementara itu, Prof. Ananto Kusuma Seta menyampaikan apresiasi kepada Universitas Brawijaya yang dinilai aktif menjadi penggerak kerja sama UNESCO di Indonesia.

Menurutnya, UB merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang secara konsisten menghadirkan isu-isu UNESCO ke dalam berbagai program internal kampus.

“Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO sangat mengapresiasi Universitas Brawijaya karena menjadi driver dalam kerja sama dengan UNESCO. UB berani menggelorakan isu-isu UNESCO di lingkungan kampus dan kini sedang berproses menuju UNESCO Chair yang akan meningkatkan pamor UB di level dunia,” ungkapnya.

Ia menambahkan, semangat kejayaan Brawijaya pada era Majapahit diharapkan dapat diterjemahkan dalam konteks kekinian melalui kontribusi global di bidang pendidikan, lingkungan, dan kemanusiaan.

Dalam sesi kuliah tamu, Dr. Engin Koncagul memaparkan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang inklusif dan berkeadilan gender. Ia menyampaikan bahwa UNESCO bersama sistem UN-Water setiap tahun menerbitkan laporan global mengenai kondisi sumber daya air dunia, dan tahun 2026 mengangkat fokus tentang gender.

Menurutnya, Universitas Brawijaya memiliki peran penting karena menjadi perguruan tinggi yang mengambil inisiatif menerjemahkan laporan global tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

“Universitas Brawijaya menunjukkan peran aktif dalam isu pengelolaan sumber daya air dan kesetaraan gender di sektor air. Atas nama UNESCO Jakarta, kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Brawijaya dan seluruh tim penyelenggara World Water Week,” ujarnya.

Dr. Engin menjelaskan, ketimpangan gender masih menjadi tantangan besar dalam sektor air dunia. Meski perempuan berperan besar dalam pengelolaan air di tingkat rumah tangga, keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan masih sangat rendah.

“Baru sekitar 25 persen tenaga kerja di sektor air adalah perempuan. Padahal perempuan merupakan pihak yang paling dekat dengan pengelolaan air sehari-hari. Selama tidak ada kesetaraan gender dalam partisipasi, manajemen, dan investasi, maka pembangunan berkelanjutan sulit terwujud,” jelasnya.

Ia juga menilai Indonesia memiliki potensi besar menjadi role model dalam pengelolaan sumber daya air, terutama dalam pelibatan perempuan, anak muda, dan masyarakat dalam pengambilan keputusan.

 

Foto bareng bersama narasumber sebelum forum ilmiah di laksanakan. (Djoko W)

Melalui Guest Lecture “Water Future for All 2026”, Universitas Brawijaya berharap forum ilmiah ini tidak hanya memperkuat diskusi akademik, tetapi juga memperluas jejaring internasional UNESCO, mempertemukan berbagai mitra global, serta melahirkan kolaborasi nyata demi keberlanjutan sumber daya air bagi generasi mendatang.(Djoko W)