Malangpariwara.com –
Suasana hangat penuh haru dan kebahagiaan menyelimuti pertemuan alumni SDK Sangtimur angkatan 80 yang digelar di HMC Raya Sengkaling 245, Dau, Kabupaten Malang, Minggu (17/5/2026) pukul 10.00 WIB.
Reuni bertajuk “Temu Konco Cilik” itu menjadi ruang perjumpaan yang sarat makna bagi para sahabat lama kelahiran tahun 1960-an yang pernah tumbuh bersama di bangku sekolah dasar.

Puluhan tahun berlalu sejak mereka menapaki halaman sekolah yang sama. Waktu membawa masing-masing menjalani kehidupan dengan jalan dan cerita berbeda.
Ada yang menetap di Malang, ada pula yang datang dari luar kota Malang seperti Pasuruan, Tulungagung, bahkan rela menempuh perjalanan jauh dari Bali demi kembali bertemu sahabat masa kecil yang telah lama terpisah oleh jarak dan kesibukan hidup.
Namun hari itu, semua seakan kembali sederhana. Tawa masa kecil terasa hidup kembali.
Wajah-wajah yang dulu akrab di ruang kelas, kini hadir dengan rambut yang memutih dan usia yang tak lagi muda. Sebagian telah menjadi kakek dan nenek, sementara beberapa nama hanya tinggal kenangan karena telah lebih dahulu berpulang.
Meski demikian, kenangan masa sekolah tetap hidup di hati mereka.
Reuni tersebut bukan sekadar temu kangen biasa, melainkan menjadi momentum merawat persaudaraan yang telah terjalin sejak masa kanak-kanak.
Obrolan tentang kenakalan semasa sekolah, perjuangan belajar, hingga kisah-kisah sederhana di masa lalu mengalir begitu hangat, menghadirkan nostalgia yang membekas mendalam.

Dalam kesempatan itu, Wisnu mewakili Ketua Alumni Taru Girutno yang berhalangan hadir menyampaikan pesan penuh makna tentang pentingnya menjaga ikatan persaudaraan.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Ibu Trisni yang telah menyiapkan segala sesuatunya dengan penuh ketulusan sebagai tuan rumah reuni.
Menurutnya, kebersamaan yang telah terjalin selama puluhan tahun harus terus dirawat agar tidak terpecah oleh keadaan dan waktu.
Ucapan apresiasi juga disampaikan kepada Petrus yang selama ini tanpa lelah menjadi penghubung dan terus mencari jejak teman-teman kecil yang lama tak bertemu.
Peran tersebut dinilai menjadi jembatan penting sehingga reuni penuh kehangatan itu dapat kembali terwujud.
“Persaudaraan ini harus terus dirawat. Jangan sampai terpecah. Kita mungkin sudah menempuh jalan hidup masing-masing, tetapi ikatan masa kecil ini terlalu berharga untuk dilupakan,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan alumni.

Kemeriahan semakin terasa ketika seluruh alumni larut dalam suasana penuh kegembiraan.
Lagu-lagu nostalgia rancak dinyanyikan bersama, diselingi joget penuh canda dan gelak tawa yang membuat suasana semakin akrab.

Momen swafoto bersama pun menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk mengabadikan kebersamaan yang mungkin sulit terulang dengan lengkap di masa mendatang.

Tak kalah menarik, suasana semakin semarak saat pembagian doorprize dan suvenir yang dibawa Titin dari Bali.
Kehangatan dan perhatian kecil itu menjadi simbol bahwa meskipun terpisah jarak bertahun-tahun, rasa persaudaraan tetap tumbuh dan hidup di antara mereka.

Dalam sambutannya, tuan rumah Trisni juga menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya reuni tersebut.
Ia berharap pertemuan itu tidak berhenti hanya menjadi acara seremonial semata, melainkan menjadi awal untuk terus menjaga komunikasi dan mempererat silaturahmi antar sesama keluarga besar SDK Sangtimur angkatan 80.
“Semoga kebersamaan ini membawa kebahagiaan, memperpanjang silaturahmi, dan menjadi kenangan indah bagi kita semua. Persaudaraan ini semoga tetap terjalin erat, saling mendukung, saling mendoakan, dan terus menjaga kekompakan,” ungkap trisni penuh haru.

Senada Romo Petrus mengatakan bahwa ditengah derasnya perubahan zaman, reuni sederhana itu menjadi pengingat bahwa persahabatan sejati tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu waktu untuk kembali dipertemukan. Dan di HMC Raya Sengkaling hari itu, waktu seolah berhenti sejenak, memberi ruang bagi hati-hati lama untuk kembali pulang pada kenangan masa kecil yang tak ternilai harganya.(Djoko W)






