Sri Untari Gagas Transformasi 217 Koperasi Desa Merah Putih Ngawi Jadi Kekuatan Pangan Terintegrasi NGAWI

NGAWI, MALANGPARIWARA.COM – Penguatan ketahanan pangan Jawa Timur membutuhkan peran koperasi yang lebih strategis.

Ketua Umum Koperasi Setia Budi Wanita (SBW) Jawa Timur sekaligus Anggota DPRD Jatim, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP, menggagas konsep “Cetak Biru Transformasi Koperasi Pangan Terintegrasi Berbasis Rantai Nilai di Kabupaten Ngawi.”

Gagasan tersebut mendorong koperasi tidak hanya bergerak sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi menjadi penggerak rantai nilai pertanian dari hulu hingga hilir.

Konsep ini dinilai relevan dengan telah terbentuknya 217 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di seluruh desa dan kelurahan Kabupaten Ngawi.

Sri Untari menyebut Ngawi memiliki potensi besar sebagai lumbung pangan Jawa Timur. Pada 2025, produksi padi Ngawi mencapai 772.571 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau sekitar 7 persen produksi Jawa Timur, dengan produktivitas lahan mencapai 5,99 ton per hektare, tertinggi di tingkat provinsi.

Namun, besarnya produksi belum sepenuhnya meningkatkan kesejahteraan petani karena masih menghadapi persoalan akses pasar, keterbatasan informasi, serta ketergantungan pada tengkulak.

“Model koperasi harus naik kelas. Tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan modal, tetapi harus mampu menguasai rantai pasok agar petani memiliki posisi tawar lebih kuat,” ujar Sri Untari.

Dalam konsepnya, Sri Untari merancang tujuh pilar utama transformasi koperasi pangan, mulai dari penguatan input pertanian berbasis digital, modernisasi alat mesin pertanian, pembangunan agroindustri pengolahan beras, penguatan logistik dan distribusi, pengembangan pasar digital, pembiayaan pertanian, hingga pemanfaatan limbah pertanian berbasis ekonomi sirkular.

Salah satu program unggulan adalah pembangunan Rice Milling Unit (RMU) modern dengan teknologi color sorter untuk menghasilkan produk beras premium berlabel “Beras Ngawi” serta memperkuat rantai pasok pangan.

Sri Untari menegaskan, modernisasi pertanian tidak boleh menghilangkan peran tenaga kerja lokal, khususnya perempuan. Mereka justru harus diberdayakan melalui unit usaha baru seperti sortasi pascapanen, pengemasan, administrasi logistik, dan pemasaran digital.

Peta jalan transformasi ini dirancang berlangsung 2027–2032 melalui skema Koperasi Multi Pihak (KMP) yang mengintegrasikan kelompok tani, investor/offtaker, dan tenaga profesional.

Foto bareng dengan peserta sarasehan .(Ist)

Keberhasilan Ngawi diharapkan menjadi model pengembangan koperasi pangan di Jawa Timur yang dapat diterapkan sesuai potensi daerah masing-masing, seperti Bojonegoro dengan jagung dan bioetanol, Jember dengan kopi dan kakao, Banyuwangi dengan perikanan dan pariwisata, serta Malang dengan susu, tebu, dan hortikultura.

“Dengan sinergi antar-klaster, Jawa Timur tidak hanya menjadi benteng ketahanan pangan nasional, tetapi juga mampu menjadikan petani sebagai pelaku industri pedesaan yang mandiri dan berdaya saing,” pungkas Sri Untari.(Djoko W)

 

Posting Terkait

Jangan Lewatkan