Panen Raya Melimpah, Kota Malang Catat Deflasi 0,20 Persen pada Juli 2026

MALANGPARIWARA.COM – Kota Malang mencatat deflasi sebesar 0,20 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Juni 2026 yang mengalami inflasi 0,43 persen (mtm), menunjukkan perkembangan harga berbagai komoditas di daerah ini tetap terkendali.

Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi menyampaikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Kota Malang tercatat sebesar 2,83 persen.

“Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur sebesar 2,87 persen (yoy) maupun nasional sebesar 2,88 persen (yoy), sekaligus masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen,” ungkap Indra.

Ditambahkan Indra, Deflasi pada Juli 2026 terutama dipicu turunnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 0,31 persen.

Penurunan harga didorong melimpahnya pasokan komoditas hortikultura seiring puncak panen raya yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus 2026.

Komoditas bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,11 persen, disusul cabai rawit 0,07 persen dan cabai merah 0,06 persen.

Selain itu, harga telur ayam ras juga turun dengan andil deflasi 0,08 persen akibat stok yang melimpah di tingkat peternak di tengah melemahnya permintaan.

Penurunan harga emas dunia turut menekan harga emas perhiasan dengan andil deflasi sebesar 0,07 persen.

Di sisi lain, laju deflasi tertahan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas. Bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,09 persen akibat efek basis penyesuaian harga pada pertengahan Juni.

Harga beras juga meningkat dengan andil 0,05 persen karena kenaikan harga gabah dan biaya kemasan.

Memasuki tahun ajaran baru, biaya pendidikan jenjang sekolah dasar turut menyumbang inflasi sebesar 0,02 persen.

Sementara itu, gangguan rantai pasok komponen mikrocip dan meningkatnya biaya logistik internasional mendorong kenaikan harga telepon seluler dengan andil 0,02 persen.

Pelemahan nilai tukar rupiah juga menyebabkan harga bawang putih naik dengan andil 0,01 persen.

Stabilitas inflasi di Kota Malang tidak lepas dari sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui implementasi strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Selama Juli 2026, TPID Kota Malang secara intensif melakukan pemantauan harga bahan pokok, memperkuat Kerja Sama Antar Daerah (KAD) Government to Government (G2G) dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang sebagai pemasok aneka cabai, serta menyusun Neraca Pangan Daerah melalui rapat koordinasi teknis.

“Ke depan, Bank Indonesia Malang bersama Pemerintah Kota Malang berkomitmen terus memperkuat sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) guna menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” pungkasnya.(Djoko W)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *