Malangpariwara.com – Industri fesyen di Kota Malang terus menunjukkan perkembangan yang semakin menjanjikan.
Tak hanya menjadi ruang bagi para desainer menampilkan kreativitas, sektor ini juga berkembang sebagai salah satu penggerak ekonomi kreatif yang mampu membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
Semangat tersebut kembali diwujudkan melalui Malang Fashion Runway (MFR) Series #7 “Fantastica” yang akan digelar pada 11–12 Juli 2026 di Grand Hall Malang Town Square (MATOS).

Memasuki tahun ketujuh penyelenggaraannya, MFR menghadirkan 58 desainer dari Kota Malang, berbagai daerah di Jawa Timur, hingga sejumlah kota di Indonesia.
Mengusung tema “Fantastica”, ajang ini mengajak para desainer menghadirkan karya yang memadukan kebebasan berimajinasi dengan keindahan estetika.

Konsep tersebut diwujudkan melalui tiga filosofi utama, yakni The Unbound Imagination, The Refined Beauty, dan The Sacred Seven, yang menjadi simbol perjalanan tujuh tahun MFR sebagai wadah tumbuhnya industri fashion kreatif.

Regional Mall Director Lippo Malls Jawa Timur, Fifi Trijanti, mengatakan Malang Fashion Runway tidak sekadar menghadirkan pertunjukan busana, tetapi menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan desainer, pelaku industri kreatif, UMKM, brand, hingga masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

“Industri fashion memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia melalui karya-karya yang inovatif dan berdaya saing.
Melalui MFR, kami ingin menghadirkan panggung yang mampu melahirkan talenta-talenta baru sekaligus memperluas peluang kolaborasi bagi para pelaku industri fashion,” ujar Fifi.
Menurutnya, Malang Town Square tidak hanya berfungsi sebagai pusat perbelanjaan, tetapi juga menjadi ruang berkembangnya komunitas kreatif.
Berbagai kegiatan yang digelar diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi sekaligus mengukuhkan Kota Malang sebagai salah satu destinasi industri kreatif di Indonesia.
Selain fashion show, MFR Series #7 juga menghadirkan Bazaar Fashion pada 8–12 Juli 2026 di Hall Lobby Utama MATOS. Bazaar tersebut menampilkan beragam produk fashion, kosmetik, karya desainer, tenant MATOS, hingga produk UMKM lokal, sehingga masyarakat tidak hanya menikmati peragaan busana, tetapi juga dapat berbelanja langsung produk kreatif karya anak bangsa.
Penyelenggaraan tahun ini turut dimeriahkan berbagai pertunjukan pendukung, seperti History Maker Dancer, Theatrical Dance by Patricia Dancer, hingga Fashion Kids, yang seluruhnya dikemas secara profesional di bawah arahan koreografer Agoeng Soedir Poetra.

Salah satu desainer yang tampil adalah Feyzion by Zizi dari Dekranasda Kota Malang yang menghadirkan koleksi bertajuk “Eclipse”.
Desainer Zizi menjelaskan, tema tersebut terinspirasi dari makna gerhana yang bukan diartikan sebagai hilangnya cahaya, melainkan perpaduan harmonis antara sisi gelap dan terang yang melahirkan karakter baru.
“Kami berani memadukan kontras antara gelap dan terang menjadi satu karakter baru. Unsur gelap diwujudkan melalui leather hitam dengan teknik jahit sashiko, sedangkan sisi terang menggunakan upcycled denim yang dipadukan cotton shimmer bernuansa light, gold, dan blue,” jelas Zizi.

Seluruh koleksi tetap mempertahankan identitas urban streetwear bergaya Korea yang menjadi ciri khas Feyzion by Zizi. Material utama berasal dari limbah jeans yang diolah kembali menjadi busana eksklusif bernilai tinggi sebagai bagian dari kampanye fesyen berkelanjutan.
Memasuki tahun keempat berkarya, Feyzion by Zizi telah menghasilkan sekitar 10 hingga 12 seri koleksi dengan hampir 200 busana. Seluruh desain dibuat secara one piece, sehingga tidak diproduksi ulang setelah terjual.
Koleksi yang masih tersedia juga dapat disewa melalui Fashion Room di Malang Creative Center (MCC).
Menurut Zizi, tantangan terbesar bukan hanya menciptakan desain baru, tetapi menjaga konsistensi karakter merek sekaligus mengubah pandangan masyarakat terhadap limbah jeans.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah denim bukan sampah, tetapi bisa menjadi karya fesyen premium yang memiliki nilai artistik tinggi,” katanya.
Untuk menjaga keberlanjutan bahan baku, Feyzion by Zizi secara rutin mengadakan program Regeneration, yakni pengumpulan donasi limbah jeans sebanyak tiga kali setiap tahun sebagai bahan utama proses produksi.
Koleksi mereka dipasarkan dengan harga mulai Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta per set dan banyak digunakan oleh MC, penyanyi, penari, duta wisata, musisi, hingga artis.
Sementara kalangan muda lebih banyak memilih menyewa koleksi tersebut untuk kebutuhan pertunjukan, pemotretan, maupun acara khusus karena desainnya yang eksklusif dan tidak diproduksi massal.
Melalui penyelenggaraan Malang Fashion Runway Series #7 “Fantastica”, MATOS berharap mampu terus melahirkan desainer-desainer baru, memperluas apresiasi masyarakat terhadap karya fashion Indonesia, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia usaha, pemerintah, dan pelaku industri kreatif.
Konsistensi penyelenggaraan MFR juga menjadi bagian dari upaya mengukuhkan Kota Malang tidak hanya sebagai kota pendidikan dan pariwisata, tetapi juga sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri fashion dan ekonomi kreatif di tingkat nasional.( Djoko W)









