Dari Rumah Kaca Pingtung, Dosen UB Dorong PMI Pulang Bawa Usaha

Berita58 views

MALANGPARIWARA.COM – Pengalaman bekerja di Taiwan tak harus berakhir ketika pekerja migran Indonesia (PMI) pulang ke kampung halaman. Dari rumah kaca tempat merawat melon hingga lini pengolahan pangan, keterampilan yang selama ini menjadi pekerjaan bisa diubah menjadi modal usaha.

Gagasan itu mengemuka dalam pelatihan “Pulang Bawa Usaha, Bukan Cuma Tabungan” yang digelar di Kantor Sekretariat PCINU Taiwan Ranting Pingtung, Sabtu (12/9/2026) malam.

Tiga dosen Agribisnis Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB), Dr. Rachman Hartono, S.P., M.P., Dwi Retnoningsih, S.P., M.P., Ph.D., dan Moh. Shadiqur Rahman, S.Pi., M.P., Ph.D., mengajak PMI mulai menyiapkan kepulangan bukan sekadar dengan tabungan, tetapi juga rencana usaha.

Pesannya sederhana: bukan semata-mata seberapa besar penghasilan selama bekerja di luar negeri, melainkan seberapa siap penghasilan itu diubah menjadi modal produktif.

Persoalannya, tabungan PMI kerap habis setelah kembali ke daerah asal. Rumah, hajatan, kebutuhan keluarga, hingga pinjaman kepada kerabat dapat menguras simpanan. Ketika usaha baru dimulai tanpa perhitungan, modal pun rentan habis sebelum bisnis berkembang.

Karena itu, peserta diajak menghitung usaha berdasarkan modal, perputaran uang, risiko, dan waktu balik modal. Salah satu simulasi membandingkan usaha melon rumah kaca seluas 300 meter persegi dengan kebutuhan modal sekitar Rp57 juta dan estimasi balik modal sekitar 12 bulan, dengan usaha keripik pisang kemasan bermodal sekitar Rp15 juta yang dalam simulasi dapat mencapai balik modal sekitar 2,5 bulan.

Simulasi tersebut menekankan pentingnya memulai dari usaha yang sesuai kemampuan modal dan memiliki perputaran relatif cepat.

Usaha berskala lebih besar dapat dikembangkan setelah modal dan pengalaman bertambah.
Pengelolaan penghasilan juga menjadi perhatian.

Peserta diajak membagi pendapatan ke dalam kebutuhan keluarga, modal usaha, dana darurat, dan kebutuhan pribadi. Dengan asumsi penghasilan Rp8 juta per bulan, menyisihkan 30 persen selama 24 bulan menghasilkan Rp57,6 juta yang dapat menjadi modal awal tanpa harus berutang.

Diskusi kemudian bergeser dari angka ke persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan PMI: bagaimana mempertahankan tabungan, meyakinkan keluarga agar tidak menghabiskan seluruh simpanan, serta menentukan usaha yang benar-benar sesuai dengan keterampilan dan kondisi kampung halaman.

Sebelum meninggalkan pelatihan, peserta membawa tiga pekerjaan rumah. Mereka diminta memetakan keterampilan yang dimiliki, memilih ide usaha melalui matriks penilaian, serta mulai memisahkan rekening untuk modal usaha.

Dengan demikian, pengalaman bekerja di Taiwan tidak berhenti sebagai cerita tentang mencari penghasilan.

Keterampilan, jaringan, disiplin kerja, dan tabungan diarahkan menjadi bekal untuk membangun sumber penghasilan baru setelah kembali ke Indonesia.

Kegiatan yang juga disiarkan melalui Zoom tersebut merupakan bagian dari kunjungan delegasi UB ke Taiwan pada 11–15 September 2026 atas undangan National Pingtung University of Science and Technology (NPUST).

Dalam rangkaian kunjungan itu, delegasi UB juga bertemu Dean of International College NPUST, Prof. Jik Chang Leong, dalam pertemuan strategis yang membahas penguatan kerja sama kedua perguruan tinggi. (Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *