TEP UB Sulap Potensi Pangan Lokal Klamono Segun Jadi 5 Produk SORASA

SORONG, MALANGPARIWARA.COM – Tomat, cabai, daun jeruk, jantung pisang hingga kepiting bakau selama ini lekat dengan kehidupan masyarakat di kawasan transmigrasi Klamono Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Namun, kedekatan dengan pangan lokal belum otomatis membuat komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi.

Melalui Program Ekspedisi Patriot 2026 Kementerian Transmigrasi, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya (UB) Kelompok 19 mencoba mengubah kondisi tersebut.

Bukan sekadar mengajarkan cara mengolah pangan, tim menghadirkan Sekolah Foodpreneur Pangan Lokal untuk mendorong masyarakat mengubah bahan baku lokal menjadi produk bernilai jual.

Program yang diketuai Dr. Eng. Elya Mufidah, S.Pi., MP, bersama Dina Aqilla Salsabila, Annisa Rosadilla, Virda Agfinasari Prayitno, Dian Sari, dan Izdihar Nabila itu menyasar masyarakat di kawasan transmigrasi Klamono Segun, khususnya Klamono dan Malabotom, termasuk Kampung Wariyau, Wonosari, Malamoja, dan Malasigit.

Pendampingan berlangsung bertahap sejak Agustus hingga September 2026 dan akan berlanjut sampai November. Rangkaian kegiatan mencakup sosialisasi, pelatihan, praktik produksi, pengemasan, pelabelan hingga pendampingan usaha.

Produk awal hasil pendampingan bahkan telah dipamerkan pada 15–16 September 2026.

Yang ditekankan bukan sekadar keterampilan membuat makanan. Warga diajak membaca potensi bahan baku, memilih bahan berkualitas, menjaga keamanan pangan, menyusun formulasi resep, menghitung biaya produksi, memperbaiki kemasan, membuat label, hingga mengenali peluang pasar.

Dari proses tersebut lahir lima produk pangan lokal bermerek SORASA, yakni SORASA Saos Tomat, SORASA Sambal Bawang, SORASA Bumbu Tabur Cabai Daun Jeruk, SORASA Sambal Kepiting Papua, dan SORASA Abon Jantung Pisang.

Lahirnya produk-produk itu menjadi contoh bagaimana komoditas yang selama ini dikonsumsi sehari-hari dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah.

Tomat tidak berhenti sebagai hasil panen segar, cabai dan daun jeruk diolah menjadi bumbu tabur, kepiting bakau Segun dikembangkan menjadi sambal khas Papua, sementara jantung pisang diolah menjadi abon.

Bukan hanya produk yang ditinggalkan.
Untuk menjaga keberlanjutan program, TEP UB menyiapkan kurikulum, silabus, modul pembelajaran dan paket SOP yang dapat digunakan masyarakat sebagai panduan produksi, pengemasan, pelabelan serta pengembangan usaha.
Tim juga menyerahkan sejumlah peralatan dan bahan produksi, di antaranya food dehydrator, blender, penghalus bumbu kering, kompor, sealer, kemasan, stiker label serta bahan produksi selama program berlangsung.

Pendampingan tersebut turut mendorong terbentuknya 10 kelompok UMKM SORASA sebagai embrio usaha pangan lokal di kawasan Klamono–Segun.

Kepala Bidang Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Papua Barat Daya, Ronald Noya, menilai program TEP UB memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

“Secara pribadi dan selaku Kepala Bidang Transmigrasi, saya sangat bersyukur atas kehadiran TEP UB. Tim Ekspedisi Patriot Kelompok 19 yang diketuai Dr. Eng. Elya dari UB ini memberikan sesuatu yang berbeda dan komplet sekali,” ujarnya.

Menurut Ronald, kekuatan program tersebut terletak pada paket pendampingan yang tidak berhenti pada pelatihan. Masyarakat mendapatkan pengetahuan, alat, pendampingan serta model yang dapat diteruskan setelah program berakhir.

“Paket pelatihan, pendampingan, bahkan model yang bisa direplikasi meskipun tim nanti sudah selesai programnya. Ini sangat kita butuhkan,” katanya.

Kepala Distrik Klamono, Oktafianus Koli, juga menyebut antusiasme masyarakat cukup tinggi. Pelatihan yang dikemas dekat dengan kebutuhan warga membuat proses pendampingan lebih mudah diterima.

Ketua tim TEP UB, Dr. Eng. Elya Mufidah, mengatakan program tersebut sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.

Sekolah Foodpreneur dikaitkan dengan pencapaian SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan, SDG 2 tanpa kelaparan, SDG 8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 industri, inovasi dan infrastruktur, SDG 12 konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 17 kemitraan untuk mencapai tujuan.

Bagi Elya, penguatan pangan lokal tidak cukup berhenti pada produksi. Potensi yang tersedia perlu diolah, dijaga mutunya, memiliki identitas, dan diarahkan menuju pasar agar mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Dari Klamono Segun, Sekolah Foodpreneur menunjukkan bahwa hilirisasi pangan bisa dimulai dari bahan yang paling dekat dengan kehidupan warga.

Ketika pengetahuan, peralatan, standar produksi dan akses pasar mulai dipadukan, pangan lokal tidak lagi sekadar menjadi bahan konsumsi, tetapi dapat tumbuh menjadi embrio usaha masyarakat.

Dari bahan pangan lokal lahir SORASA. Dari pendampingan tumbuh keterampilan. Dan dari keterampilan itu, masyarakat Klamono Segun mulai membangun peluang ekonominya sendiri.(Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *