DWP FBiPK UB Dorong Pola Asuh Modern, Anak Mandiri Tanpa Proteksi Berlebihan

Malangpariwara.com – Melindungi anak merupakan naluri setiap orang tua. Namun, perlindungan yang berlebihan justru berisiko membatasi kesempatan anak untuk belajar mengambil keputusan, menghadapi tantangan, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Dharma Wanita Persatuan (DWP) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) melalui edukasi parenting bertajuk “Panduan Parenting Modern: Strategi Menumbuhkan Internal Locus of Control Tanpa Proteksi Berlebih”.

Kegiatan yang dikemas bersama silaturahmi anggota tersebut berlangsung di Ruang Pertemuan Gedung Sentral FBiPK 1.1.

Forum ini menjadi ruang belajar bagi para anggota untuk memahami pola pengasuhan yang mampu menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri, serta tanggung jawab anak di tengah perubahan zaman.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FBiPK UB Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.P., Ph.D., Ketua DWP FBiPK UB Ibu Fiska, Sekretaris Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT), serta seluruh pengurus dan anggota DWP FBiPK UB.

Narasumber Luthfiatuz Zuhroh, M.Psi., Psikolog, mengupas pentingnya membangun internal locus of control, yakni keyakinan bahwa usaha, keputusan, dan tindakan seseorang turut memengaruhi hasil yang diperolehnya.

Konsep ini menjadi salah satu aspek penting dalam pengasuhan karena anak tidak cukup hanya diarahkan untuk mematuhi aturan. Mereka juga perlu memahami alasan di balik sebuah keputusan, mengenali konsekuensi tindakannya, serta menyadari bahwa keberhasilan membutuhkan usaha dan proses belajar.

Orang Tua Mendampingi, Bukan Mengambil Alih

Dalam praktik sehari-hari, pola asuh yang mendukung kemandirian dapat dimulai dari hal sederhana. Anak diberi kesempatan memilih, menyelesaikan tugas sesuai usianya, mencoba menghadapi kesulitan, hingga memperbaiki kesalahan yang dilakukan.

Orang tua tetap memiliki peran penting dalam memberikan batasan dan perlindungan. Namun, pendampingan tidak berarti mengambil alih seluruh persoalan yang dihadapi anak.

Ketika setiap kesulitan selalu diselesaikan oleh orang tua, anak berpotensi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Sebaliknya, ruang untuk mencoba dan belajar dari pengalaman dapat membantu anak mengenali kemampuan dirinya sekaligus memahami tanggung jawab atas pilihannya.

Karena itu, pengasuhan modern menuntut keseimbangan antara perlindungan, kebebasan yang terarah, dan pembiasaan bertanggung jawab. Anak tetap membutuhkan arahan, tetapi juga perlu memperoleh kepercayaan sesuai usia dan tahap perkembangannya.

Pendekatan Pengasuhan Harus Menyesuaikan Generasi

Luthfiatuz juga mengulas perbedaan karakteristik Generasi Z dan Generasi Alpha yang tumbuh dalam lingkungan sosial serta perkembangan teknologi yang berbeda.

Generasi Z memiliki kedekatan dengan teknologi digital dan cenderung menghargai otonomi serta komunikasi yang terbuka.

Dalam mendampingi generasi ini, orang tua perlu membangun dialog dua arah, memberikan ruang berpendapat, dan menerapkan pendekatan coaching agar anak mampu mengevaluasi keputusan serta menemukan solusi atas persoalannya.

Evaluasi juga perlu berfokus pada usaha, strategi, dan proses yang dijalani, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, anak dapat memahami bahwa kegagalan bukan semata-mata tanda ketidakmampuan, melainkan bagian dari proses belajar dan perbaikan diri.

Sementara itu, Generasi Alpha tumbuh di tengah lingkungan yang semakin terkoneksi secara digital. Mereka cenderung membutuhkan pengalaman belajar yang konkret, visual, dan interaktif.

Pendekatan pengasuhan dapat dilakukan dengan memberikan pilihan terbatas atau limited choices, mengenalkan konsekuensi logis, serta mengapresiasi proses belajar. Orang tua juga dapat mendampingi anak ketika menghadapi masalah tanpa langsung memberikan jawaban atau menyelesaikan persoalan tersebut.

Melalui cara ini, anak belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk melatih kemampuan mengambil keputusan secara bertahap, dengan tetap berada dalam batasan yang aman.

Seimbangkan Dunia Digital dan Pengalaman Nyata

Selain membangun kemandirian, edukasi parenting ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara aktivitas digital dan pengalaman langsung.

Kehadiran teknologi memberikan banyak peluang bagi anak untuk belajar dan mengakses informasi. Namun, pengalaman di luar layar tetap dibutuhkan untuk mengembangkan keterampilan sosial, kemampuan berkomunikasi, pengelolaan emosi, dan pemecahan masalah.

Orang tua dapat mendorong anak terlibat dalam kegiatan bersama keluarga, berinteraksi dengan lingkungan, mengeksplorasi hal-hal baru, serta menjalankan tanggung jawab sederhana di rumah.

Pengalaman tersebut membantu anak memahami hubungan sebab-akibat, melatih regulasi diri, dan membangun keberanian menghadapi tantangan. Proses ini juga menjadi kesempatan bagi orang tua untuk memberikan arahan tanpa menghilangkan ruang eksplorasi anak.

Dengan demikian, pengasuhan tidak hanya berorientasi pada kepatuhan, tetapi juga pada pembentukan kemampuan anak untuk mengelola diri dan bertindak secara bertanggung jawab.

Perkuat Peran Keluarga melalui Edukasi Parenting

Kegiatan silaturahmi dan edukasi parenting ini sekaligus memperkuat peran DWP FBiPK UB sebagai wadah pengembangan kapasitas perempuan dan keluarga di lingkungan fakultas.

Melalui kegiatan tersebut, para anggota diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pola pengasuhan positif, komunikasi terbuka, serta pemberian kepercayaan kepada anak sesuai tahap perkembangannya.

Pengasuhan yang efektif bukan berarti membiarkan anak menghadapi semua persoalan sendirian. Sebaliknya, orang tua tetap hadir sebagai pelindung dan pendamping, sembari memberi kesempatan kepada anak untuk belajar mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi, dan memperbaiki kesalahan.

Pada akhirnya, membangun kemandirian anak membutuhkan proses yang konsisten. Ketika perlindungan diimbangi dengan kepercayaan dan tanggung jawab, keluarga dapat menjadi lingkungan pertama yang membantu anak tumbuh sebagai pribadi yang mandiri, tangguh, dan mampu beradaptasi dengan perubahan sosial maupun perkembangan teknologi.(Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *