11 Tahun MAC, Perjuangkan Akses Terapi Anak Autisme hingga Keluarga Tak Mampu

Sosial13 views

Malangpariwara.com – Sebelas tahun perjalanan Malang Autism Center (MAC) bukan sekadar cerita tentang pertumbuhan lembaga terapi. Di balik pengembangan gedung dan layanan, MAC membangun perjuangan lebih besar: membuka akses terapi bagi anak dengan autisme, termasuk mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Founder dan CEO MAC, Mohammad Cahyadi, SE, M.Pd., memaparkan, MAC memulai pelayanan dari satu gedung di Kabupaten Malang.(Foto: Djoko W)

Memasuki usia ke-11 pada Jumat (30/10/2026), MAC terus memperluas jangkauan pelayanan sekaligus memperkuat program sosial.

Mengusung tema “11 Tahun Bertumbuh, Berbagi, dan Terus Memberi Arti”, lembaga yang berdiri sejak Oktober 2015 ini berupaya memberikan ruang bagi setiap anak untuk berkembang dan mencapai kemandirian sesuai potensinya.

 

Suasana jumpa pers.(Foto:Djoko W)

Founder dan CEO MAC, Mohammad Cahyadi, SE, M.Pd., mengatakan, MAC memulai pelayanan dari satu gedung di Kabupaten Malang.

Sebelas tahun kemudian, pengembangan dilakukan melalui penambahan fasilitas, penguatan terapi, hingga program pemberdayaan dan kepedulian sosial.

Dalam pelayanan terapi, MAC menggunakan pendekatan Applied Behavior Analysis (ABA), yakni metode intervensi perilaku untuk membantu anak mengembangkan kemampuan belajar, keterampilan, komunikasi, dan kemandirian.

Pengembangan fasilitas juga terus berjalan

Setelah membangun gedung kedua pada 2025, MAC menyiapkan gedung ketiga di kawasan Manggar, Jalan Manggar Nomor 08, Sengkaling, Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

MAC juga mengembangkan gedung keempat di Jalan Ki Atas Angin, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso.

“Pengembangan ini untuk memperluas kapasitas pelayanan dan memberikan ruang yang lebih memadai bagi proses terapi serta pengembangan kemampuan anak,” jelas Cahyadi.

Biaya Bukan Penghalang Anak Mendapatkan Terapi

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian MAC adalah keterbatasan akses terapi akibat kemampuan ekonomi keluarga. Sebab, kebutuhan terapi anak dengan autisme tidak selalu dapat dipenuhi dalam waktu singkat, sementara biaya pelayanan kerap menjadi beban tersendiri bagi orang tua.

MAC menjawab persoalan tersebut melalui program Omah Terapi Autis (OTA). Program ini memberikan kesempatan kepada anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan terapi dengan pembayaran berdasarkan kemampuan ekonomi keluarga.

Dari awalnya hanya melayani dua anak, penerima manfaat OTA kini berkembang menjadi 10 anak. Jangkauannya juga diperluas melalui OTA Neptunus pada 2022 dan OTA Bululawang pada 2024.

Dampak program ini dirasakan langsung keluarga penerima manfaat

 

Ani Wahyuni, salah satu orang tua anak yang mengikuti terapi, mengaku melihat perubahan positif setelah anaknya menjalani terapi selama satu tahun.

Anaknya yang kini berusia delapan tahun mulai mengikuti terapi di MAC ketika berusia tujuh tahun karena mengalami keterlambatan bicara.

Sebelumnya, Ani sempat membawa anaknya menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Namun, keterbatasan biaya membuatnya mencari alternatif pelayanan yang lebih terjangkau.

Melalui program OTA, Ani hanya membayar Rp100 ribu per bulan dengan menyertakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

“Alhamdulillah perilakunya sudah ada perkembangan. Tidak terlalu seperti dulu,” ungkap Ani.

Kini, anaknya juga telah mengenyam pendidikan di sekolah dasar negeri dengan sistem inklusi.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana akses pelayanan yang lebih terjangkau dapat membuka kesempatan bagi keluarga untuk terus mendampingi perkembangan anak.

Dari Terapi Menuju Pelayanan Disabilitas yang Lebih Luas
Kepedulian MAC tidak berhenti pada pelayanan anak dengan autisme. Lembaga ini juga memperluas kontribusi melalui kolaborasi dengan Posyandu Disabilitas Kelurahan Penanggungan.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi dan mendata warga penyandang disabilitas yang membutuhkan penanganan fisioterapi.

Warga yang membutuhkan layanan selanjutnya dapat memperoleh penanganan di Klinik Patria, klinik fisioterapi milik MAC.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pelayanan bagi penyandang disabilitas, sekaligus memperkuat keterhubungan antara layanan masyarakat dan tenaga profesional.

Nasi Berkah, Sekaligus Ruang Belajar Kemandirian

Program sosial MAC lainnya adalah Nasi Berkah. Kegiatan berbagi makanan yang dimulai secara rutin setiap Jumat pada 2023 itu berkembang menjadi kegiatan setiap hari sejak 2025.

Namun, program ini tidak sekadar membagikan makanan kepada masyarakat. Di dalamnya terdapat proses pembelajaran bagi anak dengan autisme.

Melalui aktivitas yang terstruktur dan pendampingan sesuai kemampuan, anak dilibatkan dalam kegiatan praktis untuk melatih tanggung jawab, keterampilan, serta kesiapan menjalani aktivitas sehari-hari.

Dengan demikian, kegiatan sosial juga menjadi bagian dari proses pembentukan kemandirian anak.(Djoko W)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *