Malangpariwara.com – Upaya membangun kesadaran lingkungan sejak dini terus digencarkan. Kali ini, mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Biologi dari Universitas Negeri Malang (UM) hadir langsung di SMK Negeri 3 Malang untuk menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Jumat (10/4).
Kegiatan yang menjadi bagian dari mata kuliah Global Sustainability and Social Responsibility (GSSR) ini mengusung tema praktik pengelolaan sampah berkelanjutan melalui metode Takakura dan Ecobrick.
Program ini melibatkan siswa kelas X Kuliner, para guru, koordinator Adiwiyata, hingga staf sekolah dalam satu gerakan kolaboratif peduli lingkungan.
Tidak sekadar penyampaian materi, kegiatan ini dirancang berbasis praktik langsung.
Para peserta diajak memahami sekaligus mempraktikkan cara mengolah sampah secara tepat guna, sehingga mampu membangun kebiasaan ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Dosen pembimbing, Mimien Henie Irawati Al Muhdhar, menegaskan bahwa pendidikan lingkungan merupakan bagian penting dari tanggung jawab sosial.
“Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan dalam mengelola sampah secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dukungan penuh juga datang dari pihak sekolah. Wakil Kepala Sekolah, Ivalatul Latifah, menyebut kegiatan ini selaras dengan visi sekolah sebagai institusi berwawasan lingkungan.
“Kegiatan seperti ini sangat mendukung program Adiwiyata di sekolah kami,” ungkapnya saat membuka acara.
Dalam sesi materi, Muhammad Khalil memaparkan metode Takakura, yakni teknik pengolahan sampah organik menjadi kompos skala rumah tangga.
Ia menjelaskan pentingnya komposisi bahan dan sirkulasi udara agar proses pengomposan berjalan optimal.
“Kompos harus lebih dominan dibanding sampah baru agar prosesnya cepat dan tidak menimbulkan bau,” jelasnya.
metode Ecobrick (ist)
Sementara itu, Rahman Fadli memperkenalkan metode Ecobrick sebagai solusi kreatif untuk mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai guna.
Ia menekankan bahwa kepadatan isi botol menjadi kunci utama kualitas Ecobrick.
“Semakin padat isi botol, semakin baik kualitas Ecobrick yang dihasilkan. Jangan sampai ada rongga udara,” tegasnya.
Antusiasme peserta terlihat saat mereka dibagi ke dalam lima kelompok untuk mempraktikkan kedua metode tersebut.
Pada praktik Takakura, siswa menggunakan wadah berlubang untuk sirkulasi udara, melapisi kardus untuk menjaga kelembapan, serta menambahkan sekam dan larutan EM4 guna mempercepat proses fermentasi.
Sementara dalam praktik Ecobrick, siswa memilah plastik, memotongnya kecil-kecil, lalu memadatkannya ke dalam botol hingga terbentuk bahan konstruksi sederhana yang kuat dan ramah lingkungan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga bentuk nyata implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pendidikan berkualitas, kota dan komunitas berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta aksi terhadap perubahan iklim.
Sebagai evaluasi, peserta mengikuti posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah kegiatan berlangsung.
Harapannya, ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kolaborasi ini, mahasiswa UM berharap SMKN 3 Malang dapat menjadi pelopor sekolah yang aktif mengelola sampah secara berkelanjutan sekaligus menginspirasi lingkungan sekitar.(Djoko W)







