Di Tengah Disrupsi Teknologi, Rektor UM Tegaskan Kampus Bukan Sekadar Pabrik Pencetak Pekerja

Malangpariwara.com – Perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat telah mengubah banyak hal, termasuk cara masyarakat memandang pendidikan tinggi.

Di tengah munculnya kecenderungan yang menilai kampus harus sepenuhnya berorientasi pada dunia kerja, Universitas Negeri Malang (UM) justru menegaskan pentingnya pendidikan yang tetap memanusiakan manusia.

Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menilai pendidikan pada era disrupsi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja.

Menurutnya, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang kritis, reflektif, tangguh, dan mampu terus belajar menghadapi perubahan zaman.

“Pendidikan itu bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan satu bidang. Bekerja memang penting karena melalui pekerjaan manusia bisa beraktualisasi, tetapi manusia belajar juga untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia,” ujar Prof. Hariyono.

Pandangan tersebut muncul di tengah menguatnya tuntutan agar perguruan tinggi mampu mencetak lulusan yang langsung terserap industri.

Namun bagi Prof. Hariyono, jika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, maka nilai kemanusiaan dalam proses belajar akan semakin tergerus.

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial UM itu mengingatkan bahwa konsep pendidikan yang hanya memproduksi tenaga kerja pernah banyak dikritik karena menempatkan manusia layaknya “sekrup pembangunan” atau mesin produksi semata. Padahal, filosofi pendidikan Indonesia yang diwariskan Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia secara utuh.

“Belajar bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk memperkuat eksistensi manusia, bagaimana kita belajar agar kapasitas belajar terus berkembang,” katanya.

Menurutnya, keberadaan bidang ilmu seperti filsafat dan sejarah tetap memiliki peran penting di tengah perkembangan teknologi modern.

Ilmu-ilmu tersebut dinilai membantu manusia membangun cara berpikir, kesadaran kritis, serta memahami peradaban secara lebih mendalam.

Di tengah perubahan teknologi yang sulit diprediksi, UM kini mulai menggeser orientasi pembelajaran.

Kampus yang dahulu dikenal sebagai IKIP Malang itu tidak lagi hanya fokus pada materi apa yang dipelajari mahasiswa, melainkan bagaimana mahasiswa mampu terus belajar sepanjang hidupnya.

Transformasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan konsep dari The Learning University menuju tagline baru UM, yakni Excellent in Learning Innovation.

“Kita tidak lagi hanya fokus pada apa yang dipelajari, tetapi bagaimana seseorang belajar untuk terus belajar atau how learn to learn,” jelasnya.

Prof. Hariyono menilai kemampuan belajar menjadi modal paling penting di era sekarang. Sebab, ilmu dan keterampilan yang dipelajari mahasiswa hari ini bisa jadi telah berubah ketika mereka lulus beberapa tahun mendatang.

“Apa yang dipelajari sekarang bisa jadi sudah berubah ketika mahasiswa lulus nanti. Karena itu, yang paling penting adalah kapasitas belajar,” ujarnya.

Sebagai bagian dari adaptasi menghadapi perubahan zaman, UM juga mulai mendorong pendekatan pembelajaran lintas disiplin.

Menurut Prof. Hariyono, persoalan kehidupan modern tidak lagi bisa dipahami hanya dari satu sudut pandang ilmu pengetahuan.

“Pendekatan multidisiplin menjadi penting karena kehidupan tidak bisa dipahami hanya dari satu perspektif ilmu,” katanya.

Selain kemampuan akademik, UM juga menekankan pentingnya budaya refleksi dan otokritik di lingkungan perguruan tinggi.

Prof. Hariyono menyebut insan akademik harus memiliki keberanian untuk mengkritisi lingkungan di luar dirinya sekaligus berani mengevaluasi dirinya sendiri.

“Orang terdidik itu harus kritis terhadap lingkungan di luar dirinya, tetapi juga harus kritis terhadap dirinya sendiri. Kesadaran reflektif tidak hanya menuntut penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga keberanian moral,” tegasnya.

Ia menambahkan, ilmu pengetahuan sejatinya terus berkembang dan tidak bersifat mutlak. Perubahan teori dari masa Ptolemeus hingga Copernicus menjadi contoh bahwa kebenaran ilmiah selalu bergerak mengikuti perkembangan data dan perspektif baru.

“Kebenaran ilmiah sangat mungkin berubah seiring perkembangan zaman dan perspektif baru,” katanya.

Dalam praktik pembelajaran, UM kini juga mulai mengembangkan kurikulum berbasis kehidupan yang menempatkan pengalaman nyata sebagai bagian penting dari proses belajar.

Pendidikan, menurutnya, tidak cukup hanya mengandalkan teori di ruang kelas, tetapi harus melibatkan pengalaman hidup secara langsung.

Prof. Hariyono pun mengutip falsafah Jawa “ilmu ngono lelakone kanthi laku”, yang berarti ilmu hanya dapat diperoleh melalui praktik dan keterlibatan nyata dalam kehidupan.

Bagi UM, tantangan terbesar pendidikan tinggi saat ini bukan sekadar mencetak lulusan yang cepat mendapatkan pekerjaan, melainkan membentuk manusia yang mampu belajar sepanjang hayat, adaptif menghadapi perubahan, sekaligus tetap memiliki nilai kemanusiaan di tengah derasnya perkembangan teknologi dan zaman.( Djoko W)