Malangpariwara.com – Pasca sukses menggelar pertemuan besar komunitas pengusaha kost Malang Raya di Aula VIP 1 Hotel Swiss-Bellin Malang pada 2 Mei 2026 lalu, jajaran pengurus komunitas bergerak cepat melakukan konsolidasi internal.
Dalam sebuah rapat tertutup yang berlangsung santai namun penuh pembahasan strategis, para pengurus mulai merumuskan arah pengembangan komunitas, khususnya dalam menghadapi tantangan promosi usaha kost di era digital.
Rapat yang digelar di kediaman Ketua Komunitas di Desa Tumpang, Kabupaten Malang, Sabtu (16/05/2026), dihadiri langsung oleh Ketua Mohammad Mansyur, Sekretaris Febriyanti Rachma, Bendahara Citra Ayuna Agustin, serta Humas M. Fahrisuddin.
Meski berlangsung tanpa konsep formal dan dilaksanakan secara mendadak, forum tersebut justru melahirkan sejumlah gagasan penting yang dinilai mampu menjadi pondasi baru bagi perkembangan komunitas kost Malang Raya ke depan.
Fokus utama pembahasan tertuju pada strategi promosi digital melalui berbagai platform media sosial. Para pengurus menilai perubahan pola pencarian informasi masyarakat, khususnya generasi muda, menuntut pelaku usaha kost untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Sekretaris komunitas, Febriyanti Rachma, menjadi salah satu pengurus yang aktif mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi bersama.
Ia mengusulkan agar komunitas mulai membangun identitas digital resmi melalui akun media sosial komunitas sekaligus memanfaatkan fitur Live TikTok sebagai media promosi interaktif.
Selain itu, setiap anggota juga diharapkan mulai memperlihatkan identitas usaha kost mereka melalui akun media sosial masing-masing agar memiliki jangkauan promosi yang lebih luas.
Menanggapi usulan tersebut, Ketua Komunitas Mohammad Mansyur menegaskan bahwa transformasi digital sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh pelaku usaha kost.
Menurutnya, perilaku masyarakat saat ini telah berubah. Hampir seluruh kebutuhan informasi, termasuk pencarian tempat tinggal sementara atau rumah kost, kini dilakukan secara cepat melalui telepon genggam dan media sosial.
“Kita harus memaksimalkan penggunaan platform seperti Instagram dan TikTok. Anak-anak muda sekarang kalau mencari informasi cukup scroll layar HP kapan saja dan di mana saja, termasuk saat mencari rumah kost. Tinggal memilih mana yang sesuai kebutuhan mereka,” ujar Mansyur.
Ia menilai keberadaan akun resmi komunitas akan menjadi langkah penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus memperkuat identitas komunitas di ruang digital.
Karena itu, ia mendorong agar nantinya ada tim atau admin khusus yang benar-benar memahami pengelolaan konten media sosial secara profesional.
Tidak hanya berhenti pada promosi visual, komunitas juga mulai membidik potensi promosi interaktif melalui fitur Live TikTok. Menurut Mansyur, fitur tersebut memiliki peluang besar untuk mengenalkan unit kost milik anggota secara langsung kepada masyarakat.
Namun demikian, ia menekankan bahwa program Live TikTok harus dikelola secara serius dengan menghadirkan host yang berpengalaman dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
“Masing-masing pengurus yang punya rekomendasi host TikTok bisa diajukan. Nanti kita seleksi mana yang paling sesuai. Setelah itu baru kita bahas sistem pembayaran gaji maupun fee-nya,” jelasnya.
Ia menambahkan, kriteria host yang akan dipilih minimal pernah bekerja sebagai host TikTok ataupun host marketplace sehingga mampu membangun komunikasi promosi secara menarik dan profesional.
“Host ini nantinya bukan hanya mempromosikan unit kost milik anggota, tetapi juga membantu mengenalkan profil usaha dan pemilik kost agar lebih dikenal masyarakat,” tambah Mansyur.
Selain membahas strategi promosi digital, rapat juga menyinggung penguatan organisasi melalui pembentukan sistem iuran anggota.
Sekretaris komunitas, Febriyanti, mengusulkan skema pembayaran iuran yang lebih fleksibel, mulai bulanan, tiga bulanan hingga enam bulanan agar tidak memberatkan anggota.
Usulan tersebut kemudian diperkuat Bendahara komunitas, Citra Ayuna Agustin, yang menilai keberadaan kas organisasi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan program komunitas.
Menurut wanita yang akrab disapa Mommy Atta itu, dana kas nantinya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan operasional pertemuan rutin, tetapi juga kegiatan sosial dan bentuk kepedulian antar anggota.
“Iuran anggota nantinya digunakan untuk biaya operasional komunitas, kegiatan bakti sosial, hingga kebutuhan personal anggota seperti ketika ada yang sakit, melahirkan, atau pembukaan usaha baru,” ungkapnya.
Ia berharap seluruh anggota dapat semakin aktif mengikuti kegiatan komunitas sehingga solidaritas dan rasa kekeluargaan antar pengusaha kost tetap terjaga.
Tak hanya itu, komunitas juga berkomitmen terus membuka ruang bagi para pengusaha kost lain di Malang Raya yang belum bergabung agar ikut menjadi bagian dari komunitas.
Sebagai penutup rapat, para pengurus juga mulai menyusun visi, misi, dan tujuan organisasi sebagai arah bersama dalam membangun komunitas kost yang lebih solid, profesional, serta mampu berkembang mengikuti perubahan zaman.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa komunitas pengusaha kost Malang Raya tidak hanya ingin menjadi wadah silaturahmi semata, tetapi juga bertransformasi menjadi komunitas bisnis yang adaptif, modern, dan siap bersaing di tengah era digitalisasi usaha properti yang terus berkembang.(Djoko W)





