Malangpariwara.com – Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) kembali menghadirkan inovasi yang mendukung program konservasi air dan pembangunan kampus berkelanjutan.
Melalui tim laboran, FTAB UB berhasil mengembangkan pemanfaatan air kondensat dehumidifier sebagai alternatif pengganti akuades untuk kebutuhan chamber sonikator dan waterbath di laboratorium.
Inovasi ini sejalan dengan komitmen FTAB UB dalam mendukung program green campus serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 6 tentang akses air bersih dan sanitasi.
Air kondensat dehumidifier merupakan air yang dihasilkan dari proses pengembunan udara yang diserap oleh alat dehumidifier.
Selama ini, air tersebut umumnya dibuang begitu saja. Padahal, berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan tim laboran FTAB UB, kualitas air kondensat tersebut memiliki karakteristik yang setara dengan akuades sehingga berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan laboratorium.
Akuades sendiri merupakan air hasil destilasi yang banyak digunakan dalam proses laboratorium karena bebas dari kandungan mineral. Namun, proses produksinya membutuhkan energi yang cukup besar serta biaya yang relatif tinggi.

Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, S.T.P., M.App.Life.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa inovasi tersebut menjadi salah satu langkah nyata fakultas dalam mengimplementasikan prinsip keberlanjutan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional laboratorium.
“Selama ini akuades digunakan dalam analisis karena memiliki sifat bebas mineral. Penggunaan air kran pada waterbath maupun sonikator berpotensi menimbulkan endapan mineral yang dapat menyebabkan terbentuknya kerak pada alat, sehingga dapat mengganggu kestabilan dan akurasi suhu serta meningkatkan frekuensi perawatan dan pembersihan alat,” ujarnya.
Menurut Prof. Yusuf, penggunaan akuades pada waterbath dan sonikator bertujuan untuk meminimalkan risiko terbentuknya kerak yang dapat mengurangi kinerja peralatan laboratorium. Namun, tingginya biaya pengadaan akuades mendorong perlunya alternatif sumber air yang tetap memenuhi standar penggunaan.
Setelah melalui serangkaian perlakuan dan pengujian, tim laboran FTAB UB menemukan bahwa air kondensat dehumidifier memiliki kualitas yang memadai untuk digunakan sebagai pengganti akuades pada chamber sonikator dan waterbath laboratorium.
Selain membantu menekan biaya operasional, pemanfaatan air kondensat juga dinilai mampu mengoptimalkan penggunaan limbah cair yang dihasilkan dari sistem pendingin udara maupun dehumidifier.
Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mendukung upaya pelestarian lingkungan melalui pengurangan pemborosan sumber daya air.
Prof. Yusuf berharap inovasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi laboratorium lain untuk menerapkan praktik serupa dalam mendukung konservasi air dan pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
“Kami berharap inovasi ini dapat diaplikasikan di laboratorium-laboratorium lainnya dan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi air,” pungkasnya.
Melalui inovasi sederhana namun berdampak besar ini, FTAB UB kembali menunjukkan perannya sebagai institusi pendidikan yang aktif mengembangkan solusi berbasis teknologi untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus mendukung terciptanya kampus yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.(Djoko W)






