MALANGPARIWARA.COM – Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan, SDN Lesanpuro 3 Kota Malang menghadirkan sebuah terobosan yang memadukan kepedulian terhadap anak dengan pemanfaatan teknologi digital.
Inovasi bertajuk BESTIE (Bilik Ekspresi Solutif Terintegrasi Inspiratif Empati) dikembangkan sebagai media deteksi dini sekaligus ruang aman bagi peserta didik untuk melaporkan berbagai persoalan yang mereka alami tanpa rasa takut.
BESTIE menjadi salah satu kontribusi SDN Lesanpuro 3 dalam mendukung gerakan inovasi Pemerintah Kota Malang.
Berdasarkan rekapitulasi hingga 13 April 2026, sebanyak 326 dari 465 unit kerja atau 70,11 persen telah melaporkan inovasi melalui sistem Sigma.malangkota.go.id, sedangkan 139 unit kerja lainnya masih dalam proses pelaporan.
Pelaporan tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Wali Kota Malang Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pelaporan Inovasi Perangkat Daerah, BUMD, RSUD, kelurahan, puskesmas, UPT hingga satuan pendidikan negeri. Kebijakan itu juga diperkuat melalui Surat Sekretaris Daerah Kota Malang Nomor 000.9/500/35.73.501/2026 mengenai perpanjangan batas waktu pelaporan inovasi daerah.
Di sektor pendidikan, BESTIE menjadi bukti bahwa inovasi tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran atau pembangunan sarana, tetapi juga menghadirkan sistem perlindungan anak yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.

Kepala SDN Lesanpuro 3, Supriyatin, S.Pd., M.Pd., mengatakan inovasi tersebut lahir dari komitmen sekolah dalam memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik dan mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta ramah anak.
“Prioritas kami adalah melayani peserta didik dengan sebaik-baiknya. Sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying. Kami berharap BESTIE tidak hanya bermanfaat bagi siswa SDN Lesanpuro 3, tetapi juga dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain,” ujarnya.
Menurut Supriyatin, gagasan BESTIE muncul dari forum Komunitas Belajar guru saat mengikuti ajang inovasi pendidikan. Salah seorang guru mengusulkan adanya aplikasi yang memungkinkan siswa menyampaikan keluhan secara aman.
“Selama ini banyak anak yang takut melapor kepada wali kelas atau kepala sekolah. Dengan adanya BESTIE, mereka lebih berani menyampaikan apa yang dialami tanpa rasa khawatir,” katanya.
Ia menjelaskan, laporan yang masuk hanya dapat diakses oleh admin sehingga identitas pelapor tetap terjaga. Selanjutnya, sekolah melakukan pemetaan terhadap setiap persoalan dan menindaklanjutinya bersama wali kelas serta kepala sekolah dengan pendekatan pembinaan, bukan hukuman.
“Kami juga melibatkan orang tua apabila diperlukan agar penyelesaian masalah dilakukan secara kekeluargaan. Kami tidak ingin persoalan anak berkembang menjadi konflik di luar sekolah,” jelasnya.
Lebih dari sekadar media pelaporan perundungan, BESTIE juga menjadi sarana bagi siswa untuk menyampaikan kesulitan belajar, persoalan psikologis, hingga kendala ekonomi keluarga yang dapat memengaruhi proses pendidikan.
Informasi tersebut menjadi dasar bagi guru untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik.
“Kalau ada anak yang kesulitan memahami pelajaran, mengalami masalah di rumah, atau membutuhkan bantuan perlengkapan sekolah, kami bisa segera memberikan solusi. Jangan sampai ada anak yang memendam masalah sendirian,” ungkap Supriyatin.
Ia menambahkan, setiap persoalan yang disampaikan siswa menjadi bahan evaluasi dalam forum Komunitas Belajar sehingga guru dapat saling berbagi praktik baik dalam menangani berbagai persoalan peserta didik.
Keberadaan BESTIE juga mendapat respons positif dari para orang tua. Menurutnya, siswa yang sebelumnya menjadi korban ejekan kini merasa lebih nyaman berada di sekolah karena memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan keluhan.
Sementara itu, Ketua Tim Inovasi SDN Lesanpuro 3, Suratin Zeeshan, mengatakan gagasan BESTIE berdasarkan kesepakatan
bersama, Penanggung Jawab Kepala SDN Lesanpuro 3 Supriyatin, S.Pd., M.Pd, Ketua tim Inovasi Suratin, S.Pd, beranggotakan Nur Liya Arini, S.Pd dan Moch. Aqireza Hermawan.
Berawal dari masih banyaknya korban maupun saksi perundungan yang memilih diam karena takut dicap sebagai pengadu, khawatir mendapat intimidasi, atau ragu laporannya akan ditindaklanjuti memantik SDN Lesanpuro 3 membuat aplikasi BESTIE.
“Program ini bermula dari implementasi Sekolah Ramah Anak. Ketika Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) dibentuk, kami merasa perlu menghadirkan media pelaporan yang mudah diakses, aman, serta mampu menjaga kerahasiaan identitas pelapor,” jelas wali kelas VI yang akrab disapa Bu Attin.
Melalui BESTIE, sekolah menyediakan bilik digital yang memberikan ruang privat bagi siswa untuk mengisi kuesioner mengenai kondisi yang mereka alami. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) guna membantu mengidentifikasi potensi perundungan, kekerasan, maupun persoalan lain yang membutuhkan perhatian sekolah.
Suratin menegaskan, penggunaan AI bukan untuk menggantikan peran guru ataupun konselor sekolah, melainkan sebagai alat bantu membaca pola laporan secara lebih cepat sehingga proses deteksi dini dapat dilakukan secara lebih efektif.
“BESTIE bukan sekadar aplikasi pelaporan. Yang paling penting adalah membangun keberanian anak untuk berbicara ketika menghadapi masalah sehingga sekolah dapat memberikan pendampingan sebelum persoalan berkembang menjadi lebih serius,” katanya.
Keberhasilan inovasi tersebut mengantarkan BESTIE menjadi salah satu inovasi unggulan SDN Lesanpuro 3. Pada 2026, inovasi ini kembali diajukan dalam pelaporan inovasi daerah sebagai bagian dari keikutsertaan pada Innovative Government Award (IGA) Kemendagri 2026.
Kehadiran BESTIE menunjukkan bahwa transformasi digital di dunia pendidikan tidak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperkuat sistem perlindungan anak.
Dengan memadukan teknologi, empati, dan keberanian mendengar suara peserta didik, SDN Lesanpuro 3 membuktikan bahwa sekolah ramah anak bukan sekadar slogan, melainkan budaya yang dibangun melalui inovasi nyata.(Djoko W)






