MALANGPARIWARA.COM – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, Anggota DPD RI Lia Istifhama melakukan napak tilas sejarah dan spiritual di lingkungan pesantren yang memiliki ikatan erat dengan perjalanan keluarganya.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum mengenang perjuangan sang ayah, almarhum KH. Masykur Hasyim, yang pernah menimba ilmu di Pesantren Tambakberas setelah sebelumnya belajar di Pondok Pesantren Canga’an, Bangil.
Dalam kesempatan itu, Ning Lia bersilaturahmi dengan Mundjidah Wahab atau yang akrab disapa Bu Mun.
Hadir pula Mujtahidur Ridho (Gus Edo), menantu sekaligus salah satu pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
“Alhamdulillah, hari ini saya bisa napak tilas sejarah NU di Tambakberas. Ini juga sekaligus menjadi napak tilas spiritual bagi saya, sebab ayah saya pernah menimba ilmu di sini,” ujar Ning Lia.
Menurutnya, Tambakberas bukan hanya bagian penting dari sejarah Nahdlatul Ulama, tetapi juga memiliki makna emosional yang mendalam bagi keluarganya.
Karena itu, menjelang Muktamar NU, ia merasa perlu kembali mengunjungi pesantren yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa tersebut.
Dalam pertemuan bersama Bu Mun, Ning Lia mengaku memperoleh banyak pelajaran berharga, terutama mengenai kepemimpinan, pengabdian kepada masyarakat, hingga pentingnya menjaga kesehatan agar tetap mampu melayani umat.
Ia mengaku kagum melihat sosok Mundjidah Wahab yang tetap aktif di berbagai kegiatan pendidikan, sosial, dan keagamaan meski telah menyelesaikan masa tugas sebagai Bupati Jombang periode 2018–2023. Bahkan, menurut Gus Edo, aktivitas Bu Mun selepas menjabat justru tidak pernah surut.
“Beliau memberi pelajaran penting bagi saya sebagai politisi muda, bahwa merawat umat dimulai dari merawat diri sendiri. Saya juga beruntung mendapatkan resep minuman sehat yang sudah beliau konsumsi secara rutin selama puluhan tahun,” ungkap Ning Lia.
Usai bersilaturahmi, Ning Lia menyusuri sejumlah area di kompleks Pondok Pesantren Tambakberas.
Napak tilas itu menjadi perjalanan yang sarat makna, sekaligus menghidupkan kembali jejak sejarah para ulama pendiri NU yang lahir dari lingkungan pesantren tersebut.
Di sepanjang perjalanan, ia juga menyempatkan diri berinteraksi dengan para santri.
Sapaan hangat para santri dibalas dengan penuh keakraban, disertai pesan motivasi agar generasi muda pesantren terus berani bermimpi dan mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan.
Ning Lia menegaskan bahwa latar belakang sebagai santri bukanlah penghalang untuk berkiprah di ruang publik, termasuk di dunia politik.
“Almarhum ayah saya adalah alumni santri Tambakberas yang kemudian menjadi anggota dewan. Alhamdulillah, saya sebagai putrinya kini mendapat amanah menjadi Anggota DPD RI mewakili Jawa Timur. Kalian semua juga bisa menjadi apa pun yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tuturnya.
Napak tilas tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pesantren telah menjadi bagian penting dalam melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang mengabdikan diri bagi umat dan negara.
Menjelang Muktamar NU ke-35, semangat perjuangan yang diwariskan para ulama di Tambakberas diharapkan terus menginspirasi generasi Nahdliyin untuk melanjutkan pengabdian dengan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.(Djoko W)






