UB Jadi Lokasi Syuting Film 3726 MDPL, Sinergi Kampus dan Industri Kreatif Hadirkan Pengalaman Nyata bagi Mahasiswa

MALANGPARIWARA.COM  – Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan kiprahnya sebagai kampus yang terbuka terhadap kolaborasi lintas sektor.

Kali ini, perguruan tinggi negeri tersebut dipercaya menjadi salah satu lokasi utama pengambilan gambar film 3726 MDPL garapan sutradara ternama, Fajar Bustomi, sebuah kolaborasi yang tidak hanya menghadirkan suasana berbeda di lingkungan kampus, tetapi juga membuka ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa melalui keterlibatan langsung dalam industri perfilman nasional.

Andini Hanggura pemeran utama dalam salah satu adegan Film 3726 MDPL yang diambil disalah satusudut Kampus FBiPK.(Ist)

Sejak Rabu (5/8/2026), berbagai sudut kampus dipenuhi aktivitas kru produksi, kamera, peralatan syuting, hingga para pemeran film.

Gedung Rektorat, Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK), Kantin CL, taman kampus, hingga kawasan UB Forest disulap menjadi latar cerita yang merepresentasikan kehidupan mahasiswa dalam film adaptasi novel tersebut.

Pemilihan Universitas Brawijaya bukan tanpa alasan. Atmosfer akademik yang kuat, lingkungan hijau, serta kawasan UB Forest dinilai mampu menghadirkan nuansa autentik yang dibutuhkan dalam kisah 3726 MDPL, sebuah film yang mengangkat perjalanan mahasiswa, persahabatan, perjuangan meraih mimpi, serta kepedulian terhadap kelestarian alam dan konservasi.

Prosesi pembukaan syuting dihadiri Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., Dekan FBIPK Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D., Sekretaris Universitas Dr. Tri Wahyu Nugroho, jajaran pimpinan universitas, tim Falcon Pictures, kru produksi, hingga mahasiswa yang akan terlibat selama proses produksi berlangsung.

Rektor UB, Prof. Widodo, menyampaikan rasa bangga atas kepercayaan yang diberikan kepada Universitas Brawijaya sebagai lokasi syuting film nasional.

Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan riset, tetapi juga mampu menjadi ruang kolaborasi bagi tumbuhnya kreativitas dan inovasi bersama industri.

“Film bukan sekadar hiburan. Film adalah media pendidikan yang mampu menanamkan nilai, membangun karakter, serta menginspirasi generasi muda untuk ikut berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan generasi muda tidak cukup hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik.

Integritas, etika, dan moral tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk pemimpin masa depan. Karena itu, kolaborasi dengan industri kreatif dinilai mampu memperkaya proses pembelajaran mahasiswa sekaligus memperluas wawasan mereka terhadap dunia profesional.

Prof. Mangku Purnomo dekan FBiPK.(Ist)

Sementara itu, Dekan FBIPK UB, Prof. Mangku Purnomo, menjelaskan bahwa pemilihan kawasan fakultas dan UB Forest sangat berkaitan dengan alur cerita film. Tokoh utama dalam novel merupakan mahasiswa kehutanan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap konservasi dan kecintaan pada alam bebas.

Menurutnya, kondisi lingkungan FBIPK dan UB Forest menghadirkan lanskap yang sesuai dengan kebutuhan visual cerita sehingga mampu memperkuat karakter dan suasana yang ingin dibangun dalam film.

“Ketika tim Falcon Pictures melakukan survei lokasi, mereka melihat kawasan ini sangat sesuai dengan kebutuhan cerita. Karena itu FBIPK dan UB Forest dipilih sebagai bagian dari lokasi pengambilan gambar,” jelasnya.

Ia berharap kolaborasi tersebut menjadi awal kerja sama yang lebih luas antara Universitas Brawijaya dengan industri kreatif nasional, sehingga semakin banyak ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar langsung dari para praktisi.

Hal senada disampaikan sutradara Fajar Bustomi. Ia mengaku terkesan dengan lingkungan Universitas Brawijaya yang menurutnya memiliki atmosfer akademik yang kuat sekaligus memberikan energi positif selama proses produksi berlangsung.

Baginya, melakukan syuting di lingkungan kampus menghadirkan tanggung jawab moral untuk menghasilkan karya terbaik. Bahkan ia menyebut film merupakan hasil kerja kolektif yang lahir dari kontribusi banyak pihak.

“Film adalah karya kolaboratif. Ketika kami syuting di Universitas Brawijaya, artinya 3726 MDPL juga menjadi karya Universitas Brawijaya, bukan hanya karya saya,” ungkapnya.

Dosen FBiPK Rifqi Rahmat Hidayatullah, turut menjadi bagian dalam Proses Pembuatan Film. Selain itu kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa dalam hal magang kru. Foto: Humas UB: Sukana.(Ist)

Lebih dari sekadar memanfaatkan fasilitas kampus sebagai lokasi syuting, kerja sama tersebut juga memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa.

Melalui program magang yang dibuka secara resmi oleh UB, sekitar 500 mahasiswa mengikuti seleksi dengan mengirimkan CV dan portofolio.

Setelah melalui tahapan seleksi administrasi dan workshop, sebanyak 25 mahasiswa terpilih mengikuti program magang bersama Falcon Pictures selama 5 hingga 21 Agustus 2026. Mereka ditempatkan pada 12 divisi produksi, mulai tahap persiapan hingga pelaksanaan syuting.

Tak hanya itu, sejumlah mahasiswa lainnya juga terlibat dalam proses casting sebagai pemeran maupun figuran. Salah satunya Erika, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB, yang mengaku memperoleh pengalaman berharga dengan menyaksikan secara langsung proses produksi film profesional.

Program tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa memahami bagaimana koordinasi antar divisi dilakukan, bagaimana manajemen produksi berjalan, hingga bagaimana sebuah karya film lahir melalui kerja sama berbagai profesi di balik layar.

Kolaborasi antara Universitas Brawijaya dan Falcon Pictures menjadi contoh nyata implementasi konsep pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).

Mahasiswa tidak hanya memperoleh teori di ruang kuliah, tetapi juga belajar langsung dari industri yang sesungguhnya.

Di sisi lain, keterlibatan UB dalam produksi film 3726 MDPL turut memperkenalkan wajah kampus kepada publik melalui medium perfilman nasional.

Sinergi ini sekaligus memperkuat posisi Universitas Brawijaya sebagai kampus yang adaptif terhadap perkembangan industri kreatif, membuka jejaring kemitraan yang lebih luas, serta mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berkembang.(Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *