Pendarahan Jadi Alarm Kanker Serviks, Neni Bersyukur JKN Hadir di Masa Sulit

MALANGPARIWARA.COM  – Tubuh kerap memberi tanda sebelum penyakit berkembang lebih jauh. Persoalannya, tidak semua orang mampu mengenali tanda tersebut sebagai alarm kesehatan.

Pengalaman itu dirasakan Ardianing Timur (42), atau akrab disapa Neni. Rasa sakit pada perut yang disertai pendarahan membuatnya memilih tidak menunda pemeriksaan.

Keputusan sederhana itu kemudian mengungkap kenyataan yang tidak pernah dibayangkannya: kanker serviks stadium satu.

“Saat itu saya mencoba berobat dan setelah diperiksa dokter, saya didiagnosis kanker serviks stadium satu. Kemudian saya dirujuk ke rumah sakit di Malang untuk menjalani operasi angkat rahim,” ujar Neni, Kamis (27/8).

Diagnosis tersebut menjadi titik balik bagi Neni. Keluhan yang semula dirasakan sebagai gangguan kesehatan biasa ternyata membutuhkan penanganan serius.

Setelah menjalani pemeriksaan dan penanganan awal, Neni melanjutkan proses pengobatan di Kota Malang.

Berdasarkan pertimbangan dokter, ia memilih RS Lavalette Malang sebagai tempat menjalani pemeriksaan lanjutan hingga tindakan operasi.

“Saya waktu itu diberi pilihan untuk ke Malang atau Surabaya. Saya memilih Malang karena dokter juga lebih menyarankan untuk ke Malang,” katanya.

Sesampainya di RS Lavalette, Neni menjalani pemeriksaan sekaligus persiapan operasi. Proses pelayanan yang diterimanya berlangsung cepat. Dua hari setelah kontrol, tindakan operasi pengangkatan rahim dapat dilakukan.

Di tengah rasa cemas menghadapi operasi, dukungan keluarga dan pelayanan tenaga kesehatan menjadi kekuatan tersendiri bagi Neni. Terlebih, ia tidak harus menghadapi kekhawatiran mengenai biaya pelayanan kesehatan yang menjadi tanggungan sesuai ketentuan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Pelayanan rumah sakit sangat baik dan cepat. Masa penyembuhan saya juga cukup baik. Yang paling membuat saya lega, selama menjalani pelayanan sebagai peserta JKN saya tidak dikenakan biaya pelayanan yang menjadi tanggungan sesuai ketentuan. Saya sangat bersyukur dan terbantu,” tuturnya.

Bagi Neni, pengalaman tersebut membuat manfaat JKN terasa nyata. Ketika penyakit datang tanpa diperkirakan, kepesertaan JKN memberikan perlindungan sehingga dirinya dapat menjalani rangkaian pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis.

Namun, ada pelajaran lain yang jauh lebih penting dari pengalaman tersebut. Neni mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh perubahan kondisi tubuh.

Pendarahan, rasa sakit yang tidak biasa, maupun keluhan yang terus berulang, menurutnya, sebaiknya tidak dibiarkan tanpa pemeriksaan.

Ia sendiri tidak pernah menyangka bahwa keluhan yang dirasakannya ternyata menjadi tanda penyakit serius.

“Kalau ada keluhan yang tidak biasa, jangan takut untuk segera periksa. Saya sendiri tidak menyangka sakit perut dan pendarahan ternyata menjadi tanda penyakit yang serius,” pesannya.

Pengalaman Neni menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap kesehatan dimulai dari keberanian mendengarkan sinyal tubuh.

Memeriksakan diri ketika muncul keluhan bukan berarti menunggu sakit menjadi parah, melainkan langkah untuk mengetahui kondisi kesehatan dan mendapatkan penanganan yang tepat dari tenaga medis.

Di saat bersamaan, memastikan kepesertaan JKN tetap aktif juga menjadi bagian dari kesiapan menghadapi risiko kesehatan. Sebab, kebutuhan pelayanan medis tidak selalu datang setelah seseorang merasa siap.

Kini, setelah melewati masa sulit tersebut, Neni memandang kesehatan dengan cara berbeda.

Baginya, sehat bukan sesuatu yang patut dianggap biasa, sementara perlindungan kesehatan perlu dipersiapkan sebelum dibutuhkan.

“Sekarang saya semakin sadar bahwa kesehatan itu sangat berharga. Selagi sehat, kita harus menjaga diri dan memastikan JKN tetap aktif. Karena kita tidak pernah tahu kapan membutuhkan pelayanan kesehatan,” pungkasnya.(Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *