Harta Karun Ma Chung Diburu, Jejak Pendiri hingga Lulusan 1946 Dikumpulkan

MALANGPARIWARA.COM, MALANG – Museum Ma Chung tak sekadar menjadi ruang pajang benda-benda lama. Di balik foto, buku, ijazah dan artefak yang dikumpulkan, tersimpan jejak panjang perjalanan Ma Chung sekaligus nilai yang diwariskan para pendirinya.

Rektor Universitas Ma Chung, Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, MS., M.Sc., (ist)

Rektor Universitas Ma Chung, Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, MS., M.Sc., mengatakan museum tersebut terus dikembangkan untuk menggali sejarah Ma Chung sejak 1946, termasuk berbagai cerita yang mendahului lahirnya institusi tersebut.

“Ma Chung itu salah satu filosofi yang dipegang para pendiri adalah minum air ingat sumbernya. Kalau sudah sukses, balaslah budi kepada dari mana Anda berasal,” ujar Stefanus. Sabtu (19/9/26) diacara Chifest 2026.

Menurutnya, proses pengumpulan koleksi melibatkan alumni generasi awal hingga anak, cucu dan cicit mereka.

Sejumlah keluarga menyerahkan foto, buku, ijazah hingga artefak yang selama puluhan tahun tersimpan sebagai warisan keluarga.

“Cucu, cicit. Karena ini bukan hanya warisan budaya, tetapi ada nilai-nilai di baliknya yang ingin dikembangkan,” katanya.

Tim Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Ma Chung turut membantu menghimpun dan mendokumentasikan berbagai peninggalan tersebut.

Sebagian hasil penggalian sejarah juga telah dituangkan dalam bentuk buku.
Stefanus sendiri menjadi saksi perjalanan awal Universitas Ma Chung.

Sebelum kampus diresmikan pada 7 Juli, ia telah bergabung dan bertemu sejumlah pendiri utama, di antaranya Mochtar Riady, Murdaya Poo, Sugeng Hendarto, Kuntjoro Loekito dan Effendy Sudargo.

Dari para pendiri itu, ia menangkap visi jangka panjang Ma Chung. Bahkan, pengembangan kampus pernah dirancang dalam perspektif 500 tahun.

“Bukan tahunnya 500, tetapi menunjukkan bahwa Ma Chung dibuka untuk jangka panjang. Komitmen para pendiri untuk memberi kontribusi kepada masyarakat Kota Malang dan Indonesia dalam jangka panjang,” jelasnya.

Kini, penggalian sejarah itu memasuki babak baru. Riset dan inovasi juga akan menjadi bagian dari perjalanan museum. Stefanus menyebut ada upaya menggali apa yang disebut budayawan sebagai “harta karun” Ma Chung, yakni jejak kontribusi komunitas keturunan Tionghoa yang telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

“Banyak orang keturunan itu memberi kontribusi yang berarti bagi Indonesia. Itu yang perlu digali,” tegasnya.

Museum juga disiapkan sebagai jembatan antargenerasi. Setiap lulusan Ma Chung didorong menyumbangkan buku ke perpustakaan dengan mencantumkan nama, angkatan dan program studi.
Dengan demikian, jejak alumni tidak berhenti ketika mereka meninggalkan kampus. Kelak, anak, cucu atau keluarga mereka dapat menemukan kembali nama dan kisah pendahulunya sebagai bagian dari sejarah Ma Chung.

Museum pun bukan sekadar menyimpan masa lalu, tetapi menyiapkan ingatan untuk generasi yang akan datang.(Djoko W)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *