MALANGPARIWARA.COM – Usia boleh bertambah, tetapi persaudaraan tak boleh ikut menua. Prinsip itulah yang terus dijaga keluarga besar alumni SMA Islam ’87 melalui Kumpul Ngaji bertajuk “Seduluran Saklawase” di Kota Malang, Minggu (20/9/2026).
Digelar mulai pukul 09.00 WIB di kediaman Rahmad alias Londo Heci, Bukit Dieng Blok O Nomor 7, pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi.
Kumpul Ngaji sekaligus menjadi momentum mengirim doa untuk persiapan pranikah putra Rahmad serta memperkuat ikatan alumni yang telah terjalin sejak masa sekolah.

Tausiyah Ustaz Anas Yusuf menjadi bagian utama kegiatan dengan tema “Membangun Peradaban Keluarga SAMAWA (Sakinah, Mawaddah wa Rahmah)”.
Pesannya tegas: rumah tangga yang kokoh tidak cukup dibangun dengan cinta, tetapi membutuhkan komitmen, komunikasi, perhatian, dan kemampuan menekan ego.
“Suami dan istri harus memiliki komitmen bersama untuk merengkuh kehidupan baru. Jangan berjalan sendiri-sendiri, karena keluarga adalah perjalanan yang harus dijalani bersama,” tegas Ustaz Anas.
Ia mengatakan, kehidupan rumah tangga akan selalu berhadapan dengan perbedaan. Karena itu, pasangan suami istri harus membangun kebiasaan saling mendengar dan memahami, bukan sekadar menuntut untuk dimengerti.
“Jangan egois. Jangan hanya menuntut pasangan memahami kita. Kita juga harus belajar memahami pasangan,” pesannya.
Menurutnya, komunikasi menjadi fondasi penting dalam menjaga keluarga tetap harmonis. Perhatian sederhana terhadap kondisi pasangan juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun rumah tangga yang penuh kasih sayang.
Bagi Ustaz Anas, keluarga SAMAWA bukan kondisi yang otomatis hadir setelah pernikahan. Ia harus dibangun melalui proses panjang, dengan kesediaan suami dan istri untuk saling menguatkan ketika menghadapi persoalan.
“Keluarga SAMAWA dibangun bersama, bukan oleh salah satu pihak saja,” pungkasnya.
Rawat Persaudaraan Alumni
Ketua Pengurus Pengajian, Djoko W, mengatakan Kumpul Ngaji diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan sesaat.
Forum tersebut diupayakan menjadi agenda yang berlangsung istiqamah sekaligus menjadi ruang memperkuat silaturahmi alumni.
“Semoga acara Kumpul Ngaji ini bisa istiqamah dan menjadi ajang silaturahmi,” ujarnya.
Kehadiran para alumni menunjukkan bahwa hubungan yang dibangun sejak bangku SMA tidak berhenti pada kenangan masa lalu. Persaudaraan terus diberi ruang untuk tumbuh melalui kegiatan keagamaan, doa, dan kebersamaan.
Dari sebuah pertemuan sederhana, pesan yang dibawa pun menjadi lebih luas: menjaga persaudaraan antarsesama alumni sekaligus menguatkan keluarga sebagai fondasi kehidupan.
Seduluran Saklawase bukan sekadar slogan. Ia dirawat melalui pertemuan, doa, kepedulian, dan kesediaan untuk terus hadir satu sama lain.(Djoko W)









