MALANGPARIWARA.COM — Mahasiswa Fakultas Bioindustri, Pertanian, dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB) tidak hanya membawa pulang medali dari Nusantara Creative Competition (NCC) 4 2026.
Mereka juga membawa dua gagasan yang menyasar persoalan nyata: deteksi dini burnout mahasiswa melalui kecerdasan buatan dan penguatan regenerasi petani melalui platform digital.
Dua inovasi tersebut ikut mengantarkan Fakultas Bioindustri, Pertanian, dan Kehutanan meraih Piala Juara Umum, sekaligus Piala Juara 2, dalam NCC 4 dan National Essay Competition (NESCO) 3 yang digelar di Universitas Udayana, Bali, pada 19–20 September 2026.
Capaian itu semakin lengkap dengan raihan medali emas, medali perak, dan medali perunggu yang diraih mahasiswa dalam berbagai kategori kompetisi.
Salah satu karya unggulan yang diusung adalah MINDCARE: Sistem Deteksi Dini Burnout Mahasiswa Berbasis Artificial Intelligence sebagai Upaya Preventif Krisis Kesehatan Mental di Perguruan Tinggi.
MINDCARE menawarkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu mengidentifikasi indikasi burnout mahasiswa sejak dini.
Gagasan tersebut menempatkan teknologi sebagai instrumen pendukung dalam mengenali kondisi mahasiswa sebelum tekanan yang dialami berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Persoalan burnout dipandang tidak bisa dilepaskan dari dinamika kehidupan mahasiswa. Beban akademik, tuntutan prestasi, aktivitas organisasi, persoalan sosial hingga kecemasan terhadap masa depan dapat menjadi tekanan tersendiri.
Karena itu, MINDCARE diarahkan pada aspek preventif. Sistem tersebut digagas untuk membantu mahasiswa lebih mengenali kondisi dirinya sekaligus menjadi sarana pendukung dalam memperoleh perhatian dan penanganan yang lebih awal.
Gagasan kedua menyasar persoalan berbeda, tetapi sama-sama dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui AGRIMATCH: Inovasi Platform Digital Penghubung Pemilik Lahan dan Petani Muda dalam Mendukung Regenerasi Pertanian di Kota Malang, mahasiswa menawarkan pemanfaatan teknologi digital untuk mempertemukan pemilik lahan dengan generasi muda yang berminat mengembangkan sektor pertanian.
AGRIMATCH berangkat dari tantangan regenerasi petani dan akses generasi muda terhadap lahan. Platform tersebut dirancang sebagai ruang penghubung sehingga lahan yang tersedia memiliki peluang untuk dikelola oleh petani muda.
Gagasan ini sekaligus menunjukkan bahwa teknologi digital tidak harus berhenti pada sektor ekonomi digital. Teknologi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan struktural di sektor pertanian, termasuk membuka ruang keterlibatan generasi muda.
Sapu Berbagai Medali
Prestasi mahasiswa Fakultas Bioindustri, Pertanian, dan Kehutanan dalam NCC 4 dan NESCO 3 tidak berhenti pada dua karya tersebut.
Medali emas dan Juara 2 diraih Angelica Saor Retno L.H, Nadia Ramadhani Putri Risdianto, Ni Nyoman Ratna Puspita Arsa Putri, Manggar Soroiyawa Laia, dan Desman Christino Providensia Hura.
Sementara medali perak diraih Qeis Mukhtar, Revand Christ Zomen Simanjuntak, Manggar Soroiyawa Laia, Ardiana Sulthanah Ahmad, dan Novita Joy Tarigan.
Prestasi berikutnya berupa medali perak dan perunggu diraih Revand Christ Zomen Simanjuntak, Simson Siregar, Josua P Butarbutar, Reynaldy Butarbutar, dan Pison Tambunan.
Sedangkan medali perunggu sekaligus Favorite Poster diraih Angel Elisabeth Silitonga dan Ester Eveline.
Rangkaian capaian tersebut menjadi fondasi diraihnya Piala Juara Umum NCC 4 2026 oleh Fakultas Bioindustri, Pertanian, dan Kehutanan.
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa kompetisi nasional dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan sekaligus menerjemahkan persoalan di masyarakat menjadi inovasi yang lebih konkret.
MINDCARE berbicara tentang kesehatan mental mahasiswa. AGRIMATCH menyasar keberlanjutan dan regenerasi pertanian. Keduanya memperlihatkan satu pola yang sama: inovasi mahasiswa diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
Capaian di Bali tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk tidak berhenti pada prestasi akademik.
Kompetisi dapat menjadi ruang untuk mengasah keberanian mengemukakan gagasan, menguji solusi, dan menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan.
Semangat tersebut juga sejalan dengan kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam memperkuat kualitas pendidikan, membuka peluang produktif bagi generasi muda, serta mendorong inovasi yang memberi dampak sosial dan lingkungan.(Djoko W)






