UB Cetak Konselor Sebaya, Mahasiswa Dibekali Skill Deteksi Dini Krisis Mental

Malangpariwara.com – Tim Layanan Konseling Universitas Brawijaya (UB) membekali mahasiswa dengan keterampilan konselor sebaya guna meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental di lingkungan kampus.

Kegiatan ini digelar oleh Subdirektorat Layanan Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual, dan Perundungan UB, Sabtu (11/4/2026), di Lantai 8 Gedung Rektorat UB.

Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa diajarkan mengenali tanda-tanda awal krisis kesehatan mental, baik pada diri sendiri maupun orang di sekitar.

Materi ini diharapkan mampu mendorong mahasiswa lebih peka serta sigap dalam memberikan dukungan awal.

Psikolog Ahmad Yafi menegaskan bahwa peran konselor bukan sekadar memberi solusi, melainkan membantu individu menemukan keputusan terbaiknya sendiri.

“Konselor yang baik mampu memahami dan memvalidasi perasaan klien, bukan menggurui,” ujarnya.

Ia menambahkan, empati menjadi kunci utama dalam proses konseling.

Budaya empati di lingkungan kampus dinilai penting agar mahasiswa berani berbicara, terbuka, dan mampu berkomunikasi secara asertif.

“Ketika budaya empati tumbuh, mahasiswa tidak lagi memendam masalah. Interaksi yang sehat akan terbentuk, dan ini menjadi fondasi budaya baru di kampus,” jelasnya.

Selain itu, peserta juga dibekali keterampilan dasar konseling (micro skills) seperti teknik eksplorasi, klarifikasi, dan parafrase, yang penting bagi konselor sebaya dalam membantu teman menghadapi persoalan emosional.

Sementara itu, pemateri lain, Muhammad Sunarto, memaparkan materi manajemen krisis kesehatan jiwa, termasuk penanganan kondisi darurat seperti depresi berat, kecemasan, hingga ide bunuh diri.

Ia juga menjelaskan bahwa tindakan restrain hanya boleh dilakukan sebagai langkah terakhir setelah upaya de-eskalasi tidak berhasil, dan harus dilakukan secara aman serta beretika.

Melalui kegiatan ini, UB mendorong terbentuknya sistem pendampingan yang lebih proaktif di kalangan mahasiswa.

Tidak hanya sebagai penerima layanan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam memberikan dukungan psikologis bagi sesama.

“Harapannya, mahasiswa semakin terbuka dan mampu saling mendukung, terutama saat ada teman yang membutuhkan bantuan,” tutup Ahmad.(Djoko W)