Malangpariwara.com – Di tengah perjuangan mewujudkan pendidikan tinggi yang setara bagi semua, Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan bukti nyata bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana.Kampus yang dikenal sebagai Kampus Putih ini mengantarkan salah satu mahasiswanya, Akhmad Ali Akbar, lulus dengan segudang prestasi—meski harus menjalani hari-hari perkuliahan menggunakan kursi roda.
Bagi Akbar, perjalanan akademiknya bukan hanya tentang meraih gelar sarjana, tetapi juga tentang menaklukkan batasan.

Sejak awal menjejakkan kaki di kampus, ia merasakan dukungan yang tak setengah hati. Akses ramah disabilitas, mulai dari jalur khusus kursi roda hingga kemudahan mobilitas di berbagai fasilitas, menjadi pintu pembuka bagi kemandiriannya selama menempuh studi.
Namun, di balik kemudahan fasilitas tersebut, tidak ada jalan pintas dalam urusan akademik.
Akbar tetap menghadapi standar yang sama dengan mahasiswa lainnya—tugas yang menumpuk, ujian yang menantang, dan tuntutan berpikir kritis yang tak bisa ditawar.
Justru dari situlah semangatnya tumbuh: membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi.
“Dukungan kampus membuat saya tidak merasa sendiri dalam menjalani proses ini. Tapi untuk akademik, semuanya tetap sama. Itu yang membuat saya semakin termotivasi,” ungkapnya.
Tak hanya bersinar di ruang kelas, Akbar juga aktif menempa diri di organisasi. Ia pernah dipercaya sebagai bagian dari Kementerian Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa, hingga akhirnya mengemban peran strategis sebagai Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Studi Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi 2024.
Di bawah kepemimpinannya, kegiatan tersebut berhasil meraih posisi tiga besar terbaik di tingkat universitas—sebuah capaian yang tak lepas dari kerja keras dan kolaborasi tim.
Langkahnya melampaui batas kampus. Akbar turut berkiprah di komunitas sosial Turun Tangan Malang, dari staf humas hingga dipercaya menjadi ketua umum.
Di sana, ia belajar tentang arti kepemimpinan, menghadapi dinamika, dan bertumbuh dari setiap tantangan.
Kini, di penghujung masa studinya, Akbar tak hanya membawa ijazah, tetapi juga cerita tentang keteguhan dan harapan.
Ia percaya bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya menuju keberhasilan.
“Jangan berhenti bermimpi. Terus berdoa dan berusaha, karena mimpi itu punya caranya sendiri untuk menjadi nyata,” pesan lulusan Program Studi Psikologi ini.
Kisah Akbar menjadi pengingat bahwa inklusivitas bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan tentang membuka ruang yang setara bagi setiap individu untuk tumbuh. Dan di sanalah, mimpi-mimpi menemukan jalannya—tanpa batas.(Djoko W)






