Didukung IEEE Internasional, Tim Polinema Bangun Sistem Air Bersih Cerdas Berbasis IoT di Wringinsongo

Tumpang, Kabupaten Malang

Malangpariwara.com — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dosen dan tenaga pengajar Politeknik Negeri Malang (Polinema) di tingkat internasional.

Sebanyak delapan dosen Polinema berhasil meraih pendanaan bergengsi dari program IEEE Tech4Good 2025 yang diselenggarakan IEEE Humanitarian Technologies Board (HTB), lembaga teknik terbesar dan paling berpengaruh di dunia.

Melalui program bertajuk Wringinsongo Inclusive Clean Water System, tim Polinema menghadirkan solusi sistem air bersih cerdas berbasis Internet of Things (IoT) untuk warga Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Program ini menjadi jawaban atas persoalan distribusi air bersih yang selama bertahun-tahun dihadapi masyarakat di kawasan lereng Gunung Semeru tersebut.

Program dipimpin oleh Prof. Dr. Ratna Ika Putri bersama tujuh anggota tim lintas disiplin, yakni Ferdian Ronilaya (Teknik Elektro), Sapto Wibowo (Teknik Elektronika), Muhammad Akhlis Rizza (Teknik Mesin), Muhammad Afif Hendrawan (Informatika), Zakiyah Amalia (Mekatronika), Dwi Ratnaningsih (Teknik Sipil), dan Evi Suwarni (Administrasi Bisnis).

Kolaborasi lintas bidang itu menjadi kekuatan utama program, karena proyek ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur air bersih, tetapi juga integrasi teknologi digital, pengelolaan sistem, hingga pemberdayaan masyarakat desa.

Ironi Desa Kaya Sumber Air

Desa Wringinsongo sebenarnya memiliki sumber mata air melimpah yang dikelola melalui BUMDES Tirta Jaya Kreasi. Namun di balik potensi tersebut, warga masih menghadapi persoalan distribusi air yang belum optimal.

Tandon air yang berada di area persawahan terpencil sering meluap pada malam hari akibat tidak adanya sistem kendali otomatis.

Sebaliknya, saat kebutuhan warga meningkat pada siang hari, pasokan justru kerap berkurang karena kapasitas tampung terbatas dan tidak adanya sistem pemantauan real-time.

Pompa air selama ini juga bekerja tanpa kontrol sehingga boros energi dan mempercepat kerusakan peralatan. Akibatnya, layanan air bersih baru mampu menjangkau sekitar 300 kepala keluarga.

Melihat kondisi tersebut, tim Polinema merancang solusi terpadu yang memadukan penguatan infrastruktur fisik dengan teknologi IoT berbasis pemantauan digital.

Infrastruktur dan Teknologi Digital Terintegrasi

Pada sisi infrastruktur, program ini mencakup pembangunan tandon beton baru berkapasitas 8.000 liter, pemasangan pompa submersible stainless steel berdaya 3–4 kW, serta pembangunan jaringan perpipaan PVC sepanjang satu kilometer guna memperluas distribusi air bersih ke 100 rumah tangga tambahan.

Selain itu, dipasang pula tiga unit lampu penerangan jalan berbasis panel surya di area tandon untuk menunjang keamanan dan mempermudah pemeliharaan pada malam hari.

Sementara pada sisi teknologi, sistem pemantauan air berbasis IoT menjadi keunggulan utama program ini.

Sebanyak lima titik pemantauan debit air dipasang menggunakan sensor hall effect yang terhubung dengan perangkat ESP32 dan dapat dipantau secara real-time melalui dashboard berbasis website.

Ketinggian air tandon dipantau menggunakan sensor ultrasonik industri berstandar IP67 yang tahan cuaca.

Seluruh data dikirim menggunakan teknologi LoRa 915MHz menuju pusat kontrol di Balai Desa dan tersimpan pada layanan cloud Firebase untuk analisis distribusi air secara berkelanjutan.

Dengan sistem tersebut, pengurus BUMDES kini dapat memantau kondisi tandon, debit distribusi, hingga operasional pompa langsung melalui ponsel atau komputer tanpa harus datang ke lokasi tandon yang sulit dijangkau.

Pelatihan Jadi Kunci Keberlanjutan

Tim Polinema menilai keberhasilan teknologi tidak hanya ditentukan oleh perangkat, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam mengelolanya. Karena itu, program ini juga dilengkapi pelatihan intensif bagi pengurus BUMDES dan masyarakat.

Pelatihan pertama diikuti 20 pengurus BUMDES Tirta Jaya Kreasi yang difokuskan pada pengoperasian dashboard IoT, pembacaan data distribusi air, deteksi gangguan sistem, hingga perawatan perangkat sensor.

Sementara pelatihan kedua diikuti 30 peserta yang mendapatkan pembelajaran mengenai perawatan panel surya, sistem baterai LiFePO4, hingga langkah penanganan gangguan sederhana.

Seluruh materi disusun dalam bahasa yang mudah dipahami dan dilengkapi modul praktik agar masyarakat benar-benar mampu mengoperasikan sistem secara mandiri.

“Kami ingin memastikan bahwa setelah program ini selesai, masyarakat dan BUMDES benar-benar mandiri dalam mengelola sistem ini. Karena itu pelatihan menjadi bagian penting dari keseluruhan program,” ujar Prof. Dr. Ratna Ika Putri.

Dampak Jangka Panjang bagi Desa

Dengan selesainya program tersebut, layanan air bersih di Desa Wringinsongo kini diproyeksikan meningkat dari 300 menjadi 400 kepala keluarga.

BUMDES Tirta Jaya Kreasi juga diperkirakan memperoleh tambahan pendapatan dari perluasan layanan pelanggan yang nantinya dapat digunakan kembali untuk pengembangan dan pemeliharaan sistem.

Program senilai total USD 13.750 ini didanai melalui kolaborasi IEEE Tech4Good sebesar USD 8.450, Polinema USD 3.000, Pemerintah Desa Wringinsongo USD 2.000, serta kontribusi BUMDES Tirta Jaya Kreasi sebesar USD 300.

Polinema pun berkomitmen memberikan pendampingan teknis selama dua tahun ke depan guna memastikan keberlanjutan program berjalan optimal.

Kepala Desa Wringinsongo, Heri Firmansyah, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi tersebut.

“Kolaborasi antara IEEE, Polinema, dan masyarakat Wringinsongo ini kami yakini akan memberikan manfaat jangka panjang yang signifikan bagi warga desa kami,” katanya.

Program ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi vokasi mampu tampil di panggung internasional dengan menghadirkan teknologi tepat guna yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Inovasi bukan sekadar kecanggihan teknologi, melainkan solusi nyata yang manfaatnya langsung dirasakan warga.(Djoko W)