Malangpariwara.com – Suasana kebersamaan terasa kuat dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban yang digelar keluarga besar Jamaah Musholla Nurul Iman gadang regency begitu kompak dalam kebersamaan, pada perayaan Iduladha 1447 Hijriah.
Puluhan ekor sapi disembelih di sejumlah titik, melibatkan warga, relawan, hingga jamaah yang bergotong royong sejak pagi hari.
Momentum kurban tahun ini tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan juga ruang mempererat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Proses penyembelihan hingga distribusi daging dilakukan bersama-sama dengan penuh kekompakan.

Anggota DPRD Kota Malang, H. Rokhmad, S.Sos, yang juga dikenal sebagai ustaz dewan, mengungkapkan bahwa dirinya turut berpartisipasi.
“Alhamdulillah tahun ini di tiga titik Yakni masjid Alfallah, mushola Nurul iman dan Gudang Bawang Kepuh bandung Rejosari.
Ini menunjukkan semangat berbagi masyarakat masih sangat luar biasa,” ujarnya.
Menurut Rokhmad, keberhasilan pelaksanaan kurban bukan hanya karena banyaknya hewan yang disembelih, tetapi juga karena kuatnya budaya gotong royong yang tumbuh di tengah masyarakat.
Sejak pagi, warga tampak saling berbagi tugas. Ada yang bertanggung jawab menyiapkan konsumsi, mengatur distribusi kupon, menimbang daging, hingga membersihkan lokasi penyembelihan. Bahkan, sebagian relawan telah bekerja sejak beberapa hari sebelumnya untuk memastikan seluruh proses berjalan lancar.
“Semua bergerak bersama tanpa melihat siapa dan dari mana. Ada yang mencari sapi, memberi makan hewan kurban, memotong daging, sampai membagikan kepada warga. Alhamdulillah sebelum ashar seluruh kegiatan sudah selesai,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rokhmad juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga kekompakan dan semangat organisasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia mengutip Surat As-Saff ayat 4 yang menggambarkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berjuang dalam barisan yang teratur layaknya bangunan kokoh.
Menurutnya, pelaksanaan kurban menjadi contoh nyata bagaimana sebuah kebersamaan dapat menghasilkan pekerjaan besar apabila dijalankan dengan koordinasi yang baik.
“Ada ketua panitia, sekretaris, bendahara, relawan lapangan, semua punya peran masing-masing. Kalau semuanya berjalan bersama, pekerjaan berat akan terasa ringan,” tuturnya.
Ia menilai semangat seperti ini harus terus dirawat dan tidak hanya muncul saat Iduladha. Budaya saling membantu, kata dia, merupakan fondasi penting dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
“Ketika ada kerja bakti, warga sakit, terkena musibah, atau ada bencana, semangat kebersamaan itu harus tetap hidup. Bangsa ini kuat karena gotong royong,” ujarnya.
Lebih jauh, Rokhmad mengingatkan bahwa makna kurban sejatinya bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat buruk dalam diri manusia. Ia mencontohkan keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai simbol kepatuhan, keikhlasan, dan pengorbanan.
“Kita sekarang tidak diperintahkan menyembelih manusia. Yang harus disembelih adalah ego, kesombongan, dan rasa paling benar dalam diri kita. Itu esensi kurban yang sebenarnya,” katanya.
Pelaksanaan kurban di lingkungan Perumahan Gadang Regency Cahaya Raya menjadi gambaran bahwa nilai kepedulian sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat Kota Malang.
Melalui semangat berbagi dan gotong royong, Iduladha tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi penerima daging kurban, tetapi juga memperkuat persaudaraan antar warga.(Djoko W)






