Malangpariwara.com – Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menjadi fakultas pertama di lingkungan Universitas Brawijaya yang menerapkan sistem filtrasi limbah pada lemari asam laboratorium.
Inovasi tersebut merupakan bagian dari penerapan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sekaligus mendukung konsep Smart Green Campus yang tengah dikembangkan kampus.
Sistem filtrasi ini dirancang untuk menetralkan limbah asam hasil aktivitas laboratorium sebelum dilepaskan ke lingkungan.
Melalui pemasangan filter khusus pada seluruh lemari asam, senyawa asam berbahaya dapat diserap dan diurai, kemudian dinetralkan menggunakan larutan basa sehingga memenuhi baku mutu lingkungan.
Langkah tersebut menjadi bentuk komitmen FTAB UB dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta SDGs 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, S.T.P., M.App.Life.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa laboratorium sebagai pusat riset harus mampu menghasilkan inovasi tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.
“Laboratorium harus menjadi tempat lahirnya inovasi, tetapi tidak boleh meninggalkan jejak pencemaran. Dengan sistem filtrasi ini, limbah asam tidak langsung terbuang ke lingkungan. Ini merupakan yang pertama di Universitas Brawijaya dan kami berharap dapat menjadi standar baru bagi laboratorium lainnya,” ujarnya.
Selain berfungsi menyaring limbah, sistem tersebut juga telah terintegrasi dengan platform monitoring digital Smart Green Campus.
Melalui sistem ini, performa filter, jadwal penggantian karbon aktif, hingga hasil uji kualitas udara dapat dipantau secara berkala guna memastikan efektivitas pengelolaan limbah laboratorium.
FTAB UB juga memperkuat budaya laboratorium hijau melalui edukasi kepada mahasiswa dan tenaga laboran.
Edukasi tersebut meliputi penggunaan bahan kimia secara efisien, prosedur pembuangan limbah yang aman, hingga pelaksanaan audit limbah secara berkala sebagai bagian dari penguatan penerapan K3.
Menurut Prof. Yusuf, keberhasilan mewujudkan kampus hijau harus dimulai dari lingkungan laboratorium karena menjadi salah satu pusat aktivitas akademik yang menggunakan berbagai bahan kimia.
“Komitmen green campus akan terlihat nyata jika dimulai dari laboratorium. Langkah ini mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya besar dalam melindungi kesehatan sivitas akademika, menjaga kualitas udara dan air di lingkungan kampus, sekaligus menjadi contoh tata kelola laboratorium yang berkelanjutan,” katanya.
Melalui inovasi tersebut, FTAB UB menegaskan posisinya sebagai pelopor pengelolaan laboratorium ramah lingkungan di Universitas Brawijaya.
Penerapan sistem filtrasi berbasis K3 ini diharapkan dapat menjadi model bagi fakultas lain dalam mewujudkan riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.(Djoko W)






