Malangpariwara.com – Sebuah gong dipukul sebagai penanda dimulainya Expo Inovasi Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB), Senin (29/6/2026), di Gedung Samantha Krida.
Namun lebih dari sekadar seremoni pembukaan, momentum itu menjadi simbol kembalinya FTAB pada jati dirinya sebagai penghasil teknologi tepat guna yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Hal itu ditegaskan Wakil Rektor UB Bidang Informasi dan Sumber Daya, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., saat membuka kegiatan.
Menurutnya, FTAB kini kembali pada khittahnya sebagai fakultas yang berorientasi membangun kemandirian bangsa melalui penguasaan teknologi.
“Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem kembali ke khittahnya, yakni menjadikan bangsa ini lebih mandiri dan berdaulat melalui penguasaan teknologi,” tegas Prof. Unti.

Sebanyak 57 inovasi hasil karya mahasiswa FTAB dipamerkan dalam expo tersebut. Seluruh teknologi itu akan diterapkan di 57 kelurahan di Kota Malang melalui program Satu Kelurahan Satu Karya, sehingga inovasi kampus tidak berhenti di laboratorium, melainkan hadir sebagai solusi nyata di tengah masyarakat.

Prof. Unti menilai nilai investasi sekitar Rp10 juta untuk setiap teknologi bukanlah ukuran utama. Yang jauh lebih penting adalah dampak dan keberlanjutan pemanfaatannya.
“Nilainya mungkin terlihat kecil, tetapi manfaatnya sangat besar. Yang penting adalah keberlanjutannya,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan FTAB agar tidak berhenti pada penyerahan alat semata.
Menurutnya, harus tersedia layanan purna hibah sehingga masyarakat dapat melakukan perawatan maupun perbaikan ketika teknologi mengalami kendala.
“Harus jelas layanan purna hibahnya. Kalau alat rusak, masyarakat bisa memperbaiki di mana dan bagaimana. Jangan sampai teknologi ini hanya menjadi monumen tanpa manfaat jangka panjang,” pesannya.

Sementara itu, Dekan FTAB UB, Prof. Ir. Yusuf Hendrawan, S.T.P., M.App.Life.Sc., Ph.D., mengatakan expo tersebut merupakan puncak proses pembelajaran 856 mahasiswa yang dibimbing 12 dosen dalam menghasilkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, seluruh inovasi dikembangkan untuk menjawab persoalan di bidang pangan, lingkungan, industri, ekonomi sirkular, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Yang membanggakan, seluruh karya ini tidak berhenti sebagai prototipe di laboratorium. Hari ini, 57 inovasi tersebut akan diterapkan di 57 kelurahan di Kota Malang melalui gerakan Satu Kelurahan Satu Karya,” katanya.
Yusuf menegaskan, perguruan tinggi pada abad ke-21 tidak cukup hanya menghasilkan lulusan maupun publikasi ilmiah, tetapi juga harus mampu menjadi motor transformasi sosial melalui inovasi yang benar-benar dimanfaatkan masyarakat.
“Inovasi terbaik bukanlah yang paling banyak dipublikasikan, tetapi yang benar-benar digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut sekaligus mengembalikan identitas FTAB sebagai fakultas yang memiliki keunggulan dalam rekayasa teknologi tepat guna.
“FTAB memiliki pembeda dengan fakultas lain, yakni menghasilkan rekayasa teknologi tepat guna yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Itu yang menjadi identitas kami,” tambahnya.
Ketua panitia, Hendrik, menjelaskan bahwa seluruh inovasi merupakan hasil kolaborasi mahasiswa, dosen, pemerintah daerah, dan berbagai mitra. Ia berharap implementasi teknologi di masyarakat terus mendapatkan masukan agar manfaatnya semakin optimal.

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kota Malang. Camat Sukun, Dian, menilai masyarakat membutuhkan teknologi yang sederhana, mudah diterapkan, namun mampu memberikan dampak nyata.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian ialah alat pengolah sampah menjadi kompos yang diserahkan kepada Kelurahan Bandulan. Teknologi tersebut diharapkan menjadi solusi pengelolaan sampah perkotaan.
Lurah Bandulan, Lukman, mengaku terkesan karena alat tersebut memanfaatkan energi panel surya sehingga dapat beroperasi secara mandiri.
“Saya baru melihat teknologi dengan solar cell seperti ini. Sambil ngopi, alatnya bisa tetap berjalan sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan alat akan diawali melalui proyek percontohan di satu RT sebelum diperluas ke wilayah lain.
Pada akhir kegiatan, FTAB UB juga memberikan penghargaan kepada tiga kelompok inovasi terbaik. Juara III diraih Kelompok 24 dari Kelurahan Kesatrian, Juara II Kelompok 43 dari Kelurahan Purwodadi, sedangkan Juara I diraih Kelompok 52 dari Kelurahan Tlogomas.
Melalui Expo Inovasi Program 3M, FTAB UB menegaskan bahwa teknologi tidak selalu harus rumit dan mahal. Justru teknologi yang sederhana, mudah diterapkan, dan mampu menyelesaikan persoalan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian bangsa dari tingkat kelurahan.(Djoko W)







