MALANGPARIWARA.COM – Perubahan nama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) menjadi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) bukan sekadar perubahan nomenklatur.
Perubahan yang resmi bergulir sejak Mei 2026 tersebut menjadi momentum untuk memperluas arah pengembangan keilmuan, terutama melalui penguatan basic science dan applied science.
Dekan FSTeM UB, Prof. Dr. Sukir Maryanto, menegaskan hal itu saat menyambut 1.138 mahasiswa baru dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2Maba) FSTeM UB, Kamis (13/8/2026).

Menurut Prof. Sukir, mahasiswa perlu memahami filosofi di balik nama baru FSTeM agar tidak melihat perubahan tersebut sebatas pergantian nama fakultas. Penekanan STEM diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara sains dasar, teknologi, dan kebutuhan masyarakat maupun dunia industri.
Ia menjelaskan, huruf “e” pada FSTeM merujuk pada technology, bukan engineering. Karena itu, pengembangan keilmuan di lingkungan fakultas tidak hanya berhenti pada penguasaan teori dan sains dasar, tetapi juga diarahkan agar menghasilkan teknologi yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata.
“Perubahan nama ini membawa filosofi pengembangan yang tidak hanya berfokus pada basic science, tetapi juga applied science. Kami mendorong seluruh departemen untuk mengembangkan program studi berbasis terapan agar hilirisasi teknologi bisa berlangsung secara dinamis dan fluid,” ujar Prof. Sukir.
Dorongan tersebut, lanjutnya, juga menyasar departemen yang saat ini belum memiliki program studi berbasis applied science.
Departemen Kimia, misalnya, diharapkan dapat mengikuti langkah departemen lain dalam menghadirkan pendidikan yang lebih dekat dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
Penguatan orientasi terapan tersebut dinilai penting di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja.
Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang sanggup menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi.
Di sisi lain, FSTeM UB juga mencatat penerimaan mahasiswa baru yang relatif stabil di tengah kecenderungan penurunan jumlah mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi akibat tekanan ekonomi nasional.
Tahun ini, sebanyak 1.138 mahasiswa baru diterima FSTeM UB. Jumlah tersebut tidak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya yang mencapai 1.159 mahasiswa.
Fakultas juga berupaya memberikan ruang bagi mahasiswa yang menghadapi kendala ekonomi.
Sejumlah skema keringanan biaya disiapkan, mulai dari pembebasan pembayaran hingga mekanisme cicilan atau angsuran sesuai ketentuan yang berlaku.
Namun, penguatan FSTeM tidak hanya berhenti pada aspek akademik.
Prof. Sukir menekankan pentingnya integritas sebagai fondasi mahasiswa yang dipersiapkan menjadi ilmuwan dan profesional.
Kejujuran ilmiah, keberanian bertanya, keberanian mencoba, serta sikap pantang menyerah ketika menghadapi kegagalan menjadi nilai yang terus ditanamkan sejak mahasiswa memasuki lingkungan kampus.Seluruh civitas akademika juga diwajibkan menaati kode etik universitas.
Fakultas menegaskan bahwa pelanggaran terhadap aturan akademik maupun tata tertib kampus dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk sanksi berat bagi pelanggaran serius.
Komitmen terhadap tata kelola juga diperkuat melalui penerapan Zona Integritas dan Reformasi Birokrasi.
Digitalisasi layanan administrasi terus dikembangkan untuk menciptakan pelayanan yang lebih transparan, efektif, dan mudah diakses mahasiswa.
Pada saat yang sama, FSTeM UB berupaya membangun lingkungan kampus yang aman dan mendukung perkembangan mahasiswa.
Fakultas menyediakan Unit Layanan Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual (ULKPKKS), sosialisasi kesehatan mental, serta fasilitas yang mendukung mahasiswa penyandang disabilitas.
Sekitar 10 mahasiswa disabilitas tercatat mendapatkan dukungan fasilitas agar dapat menjalani aktivitas akademik secara lebih nyaman dan setara.
Karena itu, pelaksanaan PK2Maba tahun ini juga diarahkan sebagai ruang pengenalan kampus yang edukatif dan humanis.
Kegiatan tidak diarahkan pada tindakan kekerasan yang berpotensi menimbulkan trauma fisik maupun mental, melainkan pada pengenalan lingkungan akademik, fasilitas, budaya, etika, dan nilai-nilai kehidupan kampus.
Mengusung tema “Honoring the Legacy and Shaping the Future”, FSTeM UB ingin membawa warisan panjang keilmuan MIPA ke dalam arah baru yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dengan fondasi sains dasar yang kuat, pengembangan applied science, hilirisasi teknologi, serta penanaman integritas akademik, FSTeM UB menargetkan lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan industri masa depan.(Djoko W)






