Malangpariwara.com – Komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan kembali diwujudkan melalui lawatan strategis ke Jepang pada 17–23 Juni 2026.
Kunjungan ke Shimonoseki City University, Miyazaki University, dan mitra industri kehutanan Nosuta Kabushi tidak sekadar mempererat hubungan akademik, tetapi juga membuka peluang beasiswa, riset internasional, hingga akses karier global bagi mahasiswa dan lulusan.
Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa kunjungan ke Shimonoseki City University merupakan undangan kehormatan dalam peringatan 70 tahun berdirinya perguruan tinggi tersebut.
Momentum itu sekaligus menjadi ajang memperkuat kemitraan yang telah terjalin selama satu dekade.
Menurut Salis, hasil konkret dari kerja sama tersebut mulai dirasakan mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP).
UMM telah memperoleh kuota bagi 12 mahasiswa untuk melanjutkan studi magister di Shimonoseki City University melalui skema beasiswa.
“Kita sudah ada slot dua belas mahasiswa yang dipersiapkan, nanti lulus mereka akan kuliah S2 di Shimonoseki di bawah beasiswa mereka,” ujarnya.
Tak berhenti pada program pendidikan, kolaborasi kedua institusi juga akan berkembang ke bidang riset dan pengembangan bisnis.
Pada September mendatang, delegasi Shimonoseki University yang terdiri dari mahasiswa, profesor, dan tim akademik dijadwalkan berkunjung ke UMM untuk menindaklanjuti berbagai program kerja sama.
Salah satu fokus kolaborasi adalah pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi, seperti salmon, stroberi, dan kopi, yang diharapkan mampu memperkuat sinergi antara dunia akademik dan sektor industri.
“Nanti September empat orang mahasiswa bersama dua orang profesor, serta ada lima belasan orang yang ke mari akan kerja sama dengan kita untuk pengembangan riset, kajian, dan juga peluang usaha kopi di Jepang,” tambahnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program internasional tersebut, UMM juga menghadirkan Japan Corner, fasilitas pembelajaran bahasa dan budaya Jepang yang dilengkapi pengajar penutur asli.
Kehadiran pusat pembelajaran ini diprioritaskan bagi mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Jepang, namun juga terbuka bagi seluruh sivitas akademika yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Jepang.
“Nanti belajar bahasa Jepangnya di situ, tapi Japan Corner juga membuka untuk mahasiswa yang lain yang mau belajar Jepang boleh datang ke situ,” jelas Salis.
Dalam agenda yang sama, delegasi UMM juga mengunjungi Miyazaki University. Hubungan emosional yang telah terbangun melalui empat dosen UMM yang merupakan alumni kampus tersebut menjadi modal penting untuk memperluas kolaborasi, khususnya pada bidang riset bersama, pertukaran dosen, dan mobilitas mahasiswa.
Sementara itu, sektor industri juga menjadi perhatian serius dalam lawatan tersebut.
Bersama perusahaan kehutanan Jepang, Nosuta Kabushi, UMM sepakat memperluas kerja sama melalui pembangunan Forestry Japan Training Center di kawasan Pujon Hill.
Pusat pelatihan ini akan menjadi sarana pembekalan mahasiswa kehutanan sebelum mengikuti program magang maupun bekerja di Jepang.
Mitra industri Jepang bahkan siap berinvestasi dalam penyediaan kurikulum, tenaga ahli, serta berbagai fasilitas penunjang.
“Mereka akan invest tenaga, kurikulum, perlengkapan untuk Forestry Japan Training Center di Pujon Hill, sehingga membuka peluang dari teman-teman kehutanan untuk berkarir internasional,” ungkapnya.
Melalui rangkaian kerja sama tersebut, UMM semakin menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi berorientasi global.
Internasionalisasi tidak lagi sebatas pertukaran mahasiswa, tetapi juga mencakup penguatan riset, hilirisasi inovasi, pengembangan bisnis, hingga penciptaan jalur karier internasional bagi lulusan.
Langkah strategis ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing lulusan UMM di pasar kerja global sekaligus memperkuat posisi kampus sebagai salah satu perguruan tinggi Indonesia yang aktif membangun jejaring internasional berkelanjutan.( Djoko W)






