Deteko, Inovasi FK UB Padukan Teh Hijau dan Kopi Hijau untuk Jaga Kesehatan Jantung

Malangpariwara.com – Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) kembali menghadirkan inovasi berbasis riset melalui produk minuman fungsional Deteko, perpaduan teh hijau dan kopi hijau yang dirancang untuk membantu menjaga kesehatan jantung serta menekan risiko sindrom metabolik.

Produk tersebut diperkenalkan oleh Wakil Dekan FK UB, Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP(K), Ph.D., pada Kamis (9/7/2026).

Menariknya, pengembangan Deteko bukanlah riset instan.

Produk ini lahir dari perjalanan penelitian selama 12 tahun yang berangkat dari keinginan menghadirkan minuman sehat yang tetap akrab dengan kebiasaan masyarakat Indonesia sebagai penikmat teh dan kopi.

Menurut Prof. Saifur, Deteko dikembangkan sebagai minuman fungsional yang dapat menjadi pendamping terapi medis, khususnya bagi penderita sindrom metabolik.

“Konsep awal Deteko adalah mengembangkan minuman fungsional yang disukai masyarakat sehingga dapat menjadi terapi tambahan selain obat-obatan yang tersedia di pasaran, terutama untuk pasien dengan sindrom metabolik,” ujarnya.

Sindrom metabolik merupakan kumpulan gangguan kesehatan yang terjadi secara bersamaan, seperti obesitas sentral atau perut buncit, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, trigliserida tinggi, hingga rendahnya kolesterol baik (HDL).

Kondisi tersebut diketahui menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Sebagai dokter spesialis jantung, Prof. Saifur mengaku prihatin dengan meningkatnya jumlah penderita sindrom metabolik. Karena itu, ia berharap Deteko dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan penyakit kardiovaskular.

“Saya ingin masyarakat menjadi lebih sehat dengan mengonsumsi Deteko dua kali sehari. Berdasarkan uji klinis, produk ini mampu membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi kegemukan, memperbaiki kadar kolesterol, serta menurunkan risiko serangan jantung di masa mendatang,” jelasnya.

Keunggulan utama Deteko terletak pada penggunaan teh hijau dan kopi hijau yang telah melalui proses dekafeinasi, sehingga kadar kafeinnya jauh lebih rendah tanpa menghilangkan kandungan senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan.

Menurut Prof. Saifur, langkah tersebut penting karena konsumsi kafein berlebih dapat memicu jantung berdebar (palpitasi), yang berisiko bagi penderita penyakit jantung dan dapat menyebabkan sesak napas hingga pingsan.

Lebih dari sekadar produk minuman, Deteko merupakan hasil riset akademik yang didukung bukti ilmiah.

Selama proses pengembangannya, tim peneliti FK UB secara konsisten menghasilkan publikasi internasional.

“Kami menerbitkan sedikitnya tiga jurnal internasional setiap tahun. Selama dua belas tahun pengembangan, berarti sudah ada sekitar tiga puluh enam publikasi ilmiah internasional. Itu menunjukkan bahwa produk ini memiliki dasar ilmiah yang kuat,” ungkapnya.

Saat ini Deteko telah mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).

Tahap berikutnya, tim peneliti menargetkan memperoleh izin edar dari BPOM agar produk dapat dipasarkan secara lebih luas kepada masyarakat.

Untuk mewujudkan hal tersebut, FK UB membuka peluang kolaborasi dengan industri pengolahan teh dan kopi, sekaligus mitra pemasaran sebagai bagian dari proses hilirisasi hasil riset kampus.

“Harapannya ada kerja sama dengan industri, hilirisasi bersama pabrik-pabrik, dan ke depan kami juga ingin membangun kedai sebagai media edukasi sekaligus memperkenalkan Deteko kepada masyarakat,” pungkas Prof. Saifur.

Dengan hadirnya Deteko, FK UB menunjukkan bahwa hasil penelitian di perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk inovatif yang berpotensi memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat hilirisasi riset di Indonesia.(Djoko W)