Ini Yang Diterapkan Mendikbud, Konsep 6 C Dalam Kampus Merdeka

MALANG – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menerapkan Konsep 6C dalam kebijakan kampus merdeka.

.
Hal ini disampaikan Plt. Sekretaris Ditjen Dikti Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Prof.drh. Aris Junaidi Ph.D pada saat mensosialisasikan Kebijakan Tentang Kampus Merdeka di Universitas Brawijaya, Jumat (14/2/2020).

.
Konsep 6 C yang terdiri dari Computational Thinking,Creative, Critical thinking, Collaboration, Communication, dan Compassion, diterapkan agar tercipta lulusan perguruan tinggi yang berkompeten.

.
Untuk menambah kompetensi lulusan, di tahun ini pemerintah juga menerapkan Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB).
PMMP merupakan program magang satu hingga dua semester pada BUMN. Dalam program magang tersebut, mahasiswa akan mendapatkan peningkatan kompetensi dan sertifikat magang.

.
“Sebanyak 124 BUMN telah disiapkan untuk tempat magang agar terciptanya kompetensi kualitas lulusan perguruan tinggi,”ungkapnya..

.
Kampus merdeka merupakan sebuah program yang memberikan keleluasaan perguruan tinggi untuk berkembang dalam meningkatkan kualitas dan daya saingnya.
Dalam program Kampus Merdeka perguruan tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela dapat mengambil SKS di luar perguruan tinggi sebanyak 2 semester (setara dengan 40 sks), dapat mengambil SKS di prodi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak satusemester (setara dengan 20 sks), serta menerapkan kegiatan mahasiswa di luar kampus seperti magang, proyek didesa, mengajar disekolah, pertukaran pelajar, penelitian, kegiatan wirausaha, studi/proyek independen, dan proyek kemanusiaan.

.
Rektor UB Prof.Dr.Ir.Nuhfil Hanani A.R., M.S., mengatakan bahwa Kampus Merdeka merupakan pendewasaan mahasiswa.
Sebelum di gulirkan kebijakan kampus merdeka, UB telah mempunyai visi, misi, dan tujuan yang sejalan dengan kampus merdeka.

.
“Sejalan dengan akan diimplementasikannya kebijakan Kampus Merdeka, UB akan mengadakan workshop tentang bagaimana implementasi kampus merdeka. Penafsiran tentang Kampus Merdeka bisa berbeda. Sehingga hari ini kita bisa mengundang orang yang berkompeten tentang Kampus Merdeka agar tidak terjadi salah tafsir,” tutup Prof. Nuhfil Hanani.(*) ( JKW )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *