Malangpariwara.com – Suasana berbeda mewarnai prosesi wisuda di Universitas Brawijaya, Jumat (11/4/2026).
Untuk pertama kalinya, mahasiswa internasional tampil dalam format paduan suara bertajuk “Boys of Peace” di Gedung Samantha Krida, menyuguhkan harmoni lintas budaya yang sarat pesan perdamaian.
Penampilan ini menjadi salah satu momen paling mencuri perhatian dalam rangkaian acara wisuda.
Sebanyak 11 mahasiswa asing dari berbagai negara bersatu dalam satu panggung, menyuarakan nilai kemanusiaan dan persatuan melalui musik di hadapan wisudawan dan tamu undangan.

Koordinator kegiatan, Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kehadiran Boys of Peace merupakan bentuk partisipasi aktif mahasiswa internasional dalam memeriahkan wisuda.
Meski para peserta bukan berasal dari latar belakang paduan suara profesional, konsep yang diusung tetap mampu menghadirkan makna mendalam.
“Formatnya kami buat sederhana dalam bentuk choir. Ini pertama kalinya mereka tampil dengan konsep paduan suara murni di acara wisuda,” ujarnya.
Grup ini terdiri dari mahasiswa asal Filipina, Kazakhstan, Vietnam, Timor Leste, Myanmar, Madagaskar, dan Pakistan.
Keberagaman latar belakang tersebut menjadi kekuatan utama dalam membangun harmoni, baik secara musikal maupun simbolis.
Mereka didampingi satu mahasiswa lokal sebagai vokalis utama, Seviola Syahputri dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Dalam penampilannya, Boys of Peace membawakan dua lagu legendaris milik Michael Jackson, yakni Heal the World dan Earth Song.
Kedua lagu tersebut dipilih karena mengandung pesan universal tentang kepedulian terhadap sesama, lingkungan, serta pentingnya menjaga perdamaian dunia.
Salah satu anggota, Doan Thu Thuy, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi asal Vietnam, mengaku bangga dapat tampil di momen spesial tersebut.
“Ini pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya sempat gugup, tetapi sangat bangga bisa berdiri di panggung di depan banyak orang,” ungkapnya.
Aulia menambahkan, pemilihan lagu juga disesuaikan dengan kemampuan peserta yang sebagian besar bukan penyanyi profesional.
Meski relatif mudah dipelajari, lagu-lagu tersebut tetap memiliki kekuatan pesan yang kuat. Namun di balik penampilan yang memukau, proses persiapan tidak lepas dari tantangan.
Keterbatasan waktu latihan menjadi kendala utama, mengingat para anggota masih aktif menjalani perkuliahan di jenjang sarjana maupun magister.
Perbedaan jadwal akademik serta bertepatan dengan masa ujian tengah semester membuat latihan tidak bisa diikuti secara lengkap.
“Kami hanya sempat latihan tiga sampai empat kali dan tidak pernah full. Selalu ada yang berhalangan, bahkan sempat terkendala cuaca,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, tim menyiasati dengan merekam sesi latihan agar dapat dipelajari secara mandiri oleh anggota yang tidak hadir.
Metode ini dinilai cukup efektif untuk menjaga kekompakan saat tampil.
Meski dengan berbagai keterbatasan, penampilan Boys of Peace tetap berlangsung lancar dan sukses menghadirkan suasana hangat serta menyentuh.
Harmoni suara yang tercipta memberikan pengalaman berbeda dalam prosesi wisuda.
Mahasiswa asal Myanmar, Kay Zin Linn, mengungkapkan motivasinya bergabung dalam grup tersebut adalah untuk memberikan kesan bermakna bagi para wisudawan.
“Saya ingin menyampaikan pesan positif dan emosional, sekaligus mewakili latar belakang saya dalam paduan suara internasional ini,” ujarnya.
Lebih dari sekadar hiburan, kehadiran Boys of Peace menjadi simbol nyata kolaborasi lintas budaya di lingkungan kampus.
Musik terbukti mampu menyatukan perbedaan bahasa, budaya, dan latar belakang menjadi satu harmoni yang indah.
Aulia berharap penampilan ini dapat menjadi awal terbukanya ruang partisipasi yang lebih luas bagi mahasiswa internasional dalam berbagai kegiatan kampus ke depan.
“Ini bukan sekadar penampilan, tetapi pesan tentang pentingnya persatuan dalam keberagaman.
Perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan untuk menciptakan harmoni dan menyuarakan perdamaian bersama,” pungkasnya.(Djoko W)






