Malangpariwara.com – Konsorsium riset kopi nasional Community of Climate Resilient of Nusantara Coffee (CiCoFest Coffee Indonesia) menggelar Rapat Koordinasi Nasional Hibah Penelitian BIMA dalam skema Kolaborasi Penelitian Strategis di Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Forum ini menjadi ajang temu para peneliti dan akademisi lintas perguruan tinggi untuk mengevaluasi capaian riset tahun 2025 sekaligus merumuskan arah strategis pengembangan kopi Nusantara pada 2026.
Kegiatan yang dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik dan Sains Universitas Ibn Khaldun Bogor tersebut dihadiri perwakilan dari Universitas Jember, Universitas Padjadjaran, Universitas Borneo Tarakan, dan Universitas Teuku Umar, serta mitra kelompok tani hutan dari Jember dan Banyuwangi.
Ketua Konsorsium CiCoFest, Dr. Elida Novita, S.TP., M.T., IPM dari Program Studi Teknik Pertanian Universitas Jember, menegaskan bahwa konsorsium ini dibentuk untuk menjawab tantangan keberlanjutan perkebunan kopi rakyat di Indonesia.
“Tiga tahun perjalanan dengan lebih dari 15 perjanjian kerja sama menjadi pijakan awal CiCoFest dalam mengorkestrasi kolaborasi, agar kopi rakyat tumbuh lestari dan mampu menyejahterakan petani melalui rantai pasok yang adil dan tertelusur,” ujarnya.
Sepanjang 2025, riset hibah BIMA CiCoFest difokuskan di dua wilayah utama Jawa Timur, yakni Kelurahan Gombengsari di Banyuwangi serta sejumlah desa di Kabupaten Jember seperti Sidomulyo (Silo), Pakis-Panti, dan Seputih-Mayang.
Di Gombengsari, penelitian menunjukkan potensi besar agroforestri kopi sebagai penyerap karbon.
Dari luas 371 hektare, tercatat serapan karbon mencapai 2.178,44 ton per hektare, dengan nilai tertinggi di Lingkungan Lerek sebesar 769,21 ton per hektare.
Temuan ini memperkuat posisi agroforestri kopi sebagai solusi mitigasi perubahan iklim.
Tak hanya itu, nilai ekonomi jasa ekosistem kawasan ini juga mencapai Rp1,64 miliar per tahun, mencakup manfaat pangan, air bersih, ekonomi karbon, keanekaragaman hayati, hingga potensi ekowisata.
Bahkan, keberadaan burung langka paok pancawarna (Hydrornis guajanus) turut ditemukan, menandakan tingginya nilai ekologis kawasan tersebut.
Sementara itu, di Desa Sidomulyo, Jember, pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA) menunjukkan tingkat keberlanjutan perkebunan kopi rakyat berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan indeks 63,80.
Modal sosial menjadi kekuatan utama petani dengan indeks 81,01, sementara infrastruktur menjadi kelemahan utama dengan nilai 45,87, terutama terkait akses jalan menuju kebun.
Di wilayah Pakis-Panti, produktivitas kopi robusta mencapai 196,18 ton per tahun dari lahan seluas 1.031 hektare yang dikelola sekitar 532 petani.
Sistem agroforestri dengan tanaman penaung seperti durian, alpukat, cengkeh, dan pisang terbukti mampu menjaga stabilitas pendapatan petani sepanjang tahun.
Dalam pengembangan riset, CiCoFest juga memanfaatkan teknologi modern seperti drone untuk pemetaan spasial serta pemodelan sistem dinamis melalui causal loop diagram.
Pendekatan ini mengintegrasikan berbagai aspek, mulai dari produksi kopi, pengelolaan limbah, hingga pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.
Sejumlah publikasi ilmiah juga telah dihasilkan, di antaranya artikel pada Journal of Coffee Science (Scopus Q3), serta naskah yang tengah dalam proses publikasi di jurnal nasional dan internasional.
Dalam sesi ilmiah, Dr. Devi Maulida Rahmah dari Universitas Padjadjaran menekankan pentingnya ekonomi sirkular dalam industri kopi sebagai strategi menghadapi krisis iklim.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mengurangi emisi karbon sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan.
Sebagai langkah ke depan, CiCoFest menetapkan empat agenda strategis riset 2026, meliputi penguatan data neraca karbon, pengembangan model ekowisata kopi berkelanjutan, simulasi sistem agroforestri berbasis ekonomi hijau, serta penyusunan policy brief Kopi Nusantara.
Dukungan kuat juga datang dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember yang akan memfasilitasi workshop, penguatan desa binaan perhutanan sosial, pelatihan masyarakat, hingga kuliah umum dengan menghadirkan pakar nasional dan internasional.
Dengan kolaborasi lintas sektor yang terus diperkuat, CiCoFest optimistis model kopi Nusantara berketahanan iklim berbasis perhutanan sosial dapat diperluas ke berbagai daerah di Indonesia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga kelestarian lingkungan. (Djoko W)






