Prof. Elfi Anis Saati Pamerkan Beras Analog untuk Balita Stunting hingga Kapsul Mawar Penambah Hb, Bukti Hilirisasi Riset Halal UMM

Malangpariwara.com – Hilirisasi hasil riset perguruan tinggi kembali mendapat panggung dalam kegiatan nasional yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/7/2026).

Di tengah kehadiran Menteri Pertanian RI Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., serta Ketua MCEBI PTMA Dr. Endang Rudiatin, M.Si., perhatian pengunjung tertuju pada stan Pusat Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (P3 Halal) UMM.

Produk hasil karya yang di tampilkan .(Djoko W)

Stan tersebut menampilkan beragam inovasi pangan fungsional dan produk kesehatan hasil penelitian dosen UMM yang tidak hanya telah mengantongi sertifikat halal, tetapi juga mulai diarahkan menuju proses hilirisasi agar dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha.

Sosok di balik berbagai inovasi tersebut adalah Guru Besar Teknologi Hasil Pertanian UMM sekaligus Ketua P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. Menurutnya, seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil pembinaan P3 Halal bersama para peneliti UMM serta mitra usaha.

“Alhamdulillah, saya mewakili Pusat Studi P3 Halal UMM diminta untuk memamerkan produk-produk yang sudah kami bina dan telah memperoleh sertifikat halal,” ujar Prof. Elfi.

Beragam produk yang dipamerkan menunjukkan bagaimana riset kampus diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Salah satunya adalah inovasi berbasis pigmen bunga mawar yang diolah menjadi minuman herbal.

Agar lebih mudah diterima masyarakat, formulasi tersebut dipadukan dengan jahe sehingga menghasilkan cita rasa yang lebih nyaman dikonsumsi tanpa mengurangi manfaat kesehatannya.

Selain itu, P3 Halal juga memperkenalkan kopi rempah hasil kolaborasi bersama mitra binaan di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Produk tersebut menjadi contoh bagaimana penelitian kampus dapat bersinergi dengan pelaku usaha lokal untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.

Inovasi lain yang menjadi perhatian adalah beras analog, pangan fungsional berbasis bahan baku lokal yang dirancang untuk kelompok masyarakat dengan kebutuhan gizi khusus.

UMM mengembangkan beras analog tinggi protein bagi balita stunting, sekaligus beras analog yang diperkaya zat besi (Fe) dan kalsium (Ca) bagi ibu hamil dan ibu menyusui.

Menurut Prof. Elfi, pengembangan beras analog tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan alternatif pangan bergizi yang mampu mendukung perbaikan status gizi masyarakat tanpa bergantung pada satu jenis bahan pangan.

“Inovasi ini merupakan hasil riset kami untuk memberikan alternatif pangan bergizi berbasis bahan baku lokal yang dapat mendukung perbaikan status gizi masyarakat,” jelasnya.

Tidak hanya berfokus pada pangan, P3 Halal juga menampilkan berbagai hasil penelitian di bidang kesehatan. Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah kapsul berbahan bubuk bunga mawar dan bayam merah yang diformulasikan untuk membantu meningkatkan kadar hemoglobin (Hb) pada penderita anemia.

Produk tersebut dikembangkan dalam konsep gizi holistik. Selain kapsul, peneliti juga melengkapinya dengan minuman herbal sehingga proses konsumsi menjadi lebih nyaman dan tidak menimbulkan rasa enek yang sering dialami penderita anemia saat mengonsumsi suplemen.

“Kami mengembangkan kapsul bubuk bunga mawar dan bayam merah untuk membantu menaikkan kadar hemoglobin penderita anemia. Selain kapsul, kami lengkapi dengan minuman herbal agar penderita tidak merasa enek saat mengonsumsinya. Jadi pemenuhan gizi tidak hanya dari kandungan nutrisinya, tetapi juga memberikan rasa nyaman dan menyenangkan,” ungkap Prof. Elfi.

Stan P3 Halal UMM juga memamerkan sejumlah buku hasil penelitian dosen, termasuk inovasi tim Biologi mengenai pemanfaatan tanaman beluntas dalam penelitian kesehatan reproduksi pria.

Kehadiran berbagai produk tersebut memperlihatkan luasnya cakupan riset yang dikembangkan UMM, mulai dari pangan, kesehatan, hingga pemanfaatan tanaman lokal berbasis sains.

Bagi Prof. Elfi, tantangan terbesar penelitian bukan sekadar menghasilkan publikasi ilmiah, melainkan memastikan hasil riset dapat diterapkan dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Karena itu, P3 Halal terus mendorong hilirisasi melalui sertifikasi halal, pendampingan usaha, hingga kemitraan dengan industri agar inovasi kampus mampu berkembang menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Pameran inovasi ini sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya solusi berbasis riset terhadap persoalan bangsa.

Di tengah tantangan stunting, anemia, ketahanan pangan, dan penguatan industri halal nasional, UMM menunjukkan bahwa hasil penelitian dapat diwujudkan menjadi produk nyata yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat daya saing Indonesia.(Djoko W)