MALANGPARIWARA.COM – Semangat kemerdekaan di RW 13, Kelurahan , Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tahun ini dikemas dalam konsep “Harmoni dalam Keberagaman”.
Wilayah yang terdiri atas lima RT tersebut menampilkan kekayaan budaya dan keberagaman agama sebagai kekuatan untuk mempererat persatuan warga.

Yang menjadi pembeda, perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di RW 13 melibatkan enam unsur lintas agama. Masing-masing ditampilkan melalui tenda keberagaman, yakni Agama Islam di RT 02, Agama Katolik di RT 01, Agama Kristen Protestan dari Paguyuban Graha Dewata, Agama Hindu di RT 03, Agama Konghucu di RT 04, serta Buddha di RT 05.
Pameran tenda keberagaman tersebut juga dilombakan.
Penilaian dilakukan oleh Lurah Merjosari, Muhammad Syaiful Arif, S.Si., sebagai bagian dari upaya memberikan ruang bagi warga untuk menampilkan identitas budaya dan agama sekaligus pesan persatuan.

Ketua RW 13, Edy Wasno, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekedar memeriahkan peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi gambaran nyata kerukunan antar umat beragama di lingkungan RW 13.
“Tujuan utamanya memberikan gambaran bahwa perbedaan agama dan latar belakang bukan penghalang untuk hidup rukun. Justru keberagaman ini menjadi kekuatan bagi warga RW 13,” ujar Edy.
Menurutnya, kegiatan bersama juga diarahkan menjadi sarana pendidikan karakter bagi anak-anak dan generasi muda agar sejak dini memahami pentingnya toleransi, kebersamaan dan gotong royong sebagai nilai penting dalam kehidupan berbangsa.
Edy Wasono membeb1erkan bahwa rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di RW 13 berlangsung pada Minggu, 16 Agustus 2026, di kawasan Joyo Agung, Merjosari.

Pada pagi hari, kegiatan diawali persiapan panitia dan senam bersama, dilanjutkan tari Gandrung Banyuwangi, sambutan lurah, lomba mewarnai anak, pembagian doorprize, penampilan seni, hingga pertunjukan Reog.
Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan penampilan tari RW 13, menyanyikan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta lintas agama, sambutan Ketua RW, potong tumpeng bersama para ketua RT dan paguyuban, pembagian hadiah lomba mewarnai, serta hiburan dan doorprize.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, RW 13 ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga merawat persatuan di tengah keberagaman.
Bagi warga RW 13, perbedaan bukan jarak yang memisahkan, melainkan ruang untuk saling mengenal, menghormati dan berjalan bersama sebagai bagian dari Indonesia.

Lurah Merjosari Muhammad Syaiful Arif mengapresiasi antusiasme warga RW 13.
Menurutnya, meski RW 13 tergolong masih muda dan belum genap berusia 10 tahun, masyarakat mampu menunjukkan kekompakan melalui kegiatan yang meriah sekaligus sarat makna.
“Harapan saya bukan acara seremoni saja, tetapi berlanjut menjadi kekompakan dan kebersamaan warga RW 13,” katanya.
Ia menilai kondisi wilayah RW 13 yang cukup tersebar, termasuk di kawasan Jalan Joyo Agung dan sejumlah klaster permukiman, menjadi tantangan tersendiri dalam membangun komunikasi antar warga.
Karena itu, kegiatan bersama seperti peringatan HUT RI dinilai penting sebagai ruang untuk menyatukan masyarakat.
Syaiful juga menegaskan bahwa keberagaman budaya dan agama merupakan ciri khas RW 13 yang harus terus dirawat.
“Keanekaragaman dan keberagaman budaya serta agama bisa menjadi sebuah persatuan dan kesatuan untuk bersama-sama membangun bagian dari Kelurahan Merjosari,” ujarnya.
Pemerintah Kelurahan Merjosari, lanjutnya, juga memberikan perhatian terhadap pengembangan RW 13 melalui berbagai program pembangunan, termasuk program RT Berkelas.
Dukungan sarana berupa tenda berukuran 3×3 meter dan 4×6 meter menjadi bagian dari fasilitas yang menunjang kegiatan masyarakat.(Djoko W)










