Bendera Raksasa Berkibar di Tebing Coban Putri, Siswa SD Mupat Tanamkan Nasionalisme dan Cinta Alam

BATU, MALANGPARIWARA.COM – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya dirayakan dengan upacara dan pengibaran bendera di lapangan.

Di Kota Batu, semangat kemerdekaan justru dibawa ke medan yang menantang ketika siswa SD Muhammadiyah 4 Kota Malang (SD Mupat) membentangkan bendera Merah Putih raksasa di tebing Coban Putri, Senin (17/8/2026).

Aksi tersebut menjadi pemandangan istimewa. Dengan latar tebing dan kawasan alam terbuka, para siswa yang memiliki kemampuan dasar panjat dinding turun langsung melakukan pembentangan bendera raksasa.

Mereka tergabung dalam ekstrakurikuler Mupat Climbers Club, yang selama ini menjadi wadah pengembangan minat sekaligus keterampilan panjat bagi siswa.

Kegiatan itu diikuti ratusan peserta yang terdiri atas siswa, guru, dan wali murid. Tidak sekadar menjadi atraksi memperingati kemerdekaan, pembentangan Merah Putih di tebing menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang dirancang SD Mupat melalui pengalaman nyata di luar ruang kelas.

Para siswa telah mendapatkan pembekalan kemampuan memanjat secara bertahap sejak ekstrakurikuler tersebut berdiri pada 2022.

Keterampilan itu kemudian berkembang tidak hanya sebagai aktivitas olahraga, tetapi juga menjadi sarana untuk melatih keberanian, kedisiplinan, konsentrasi, kerja sama, serta kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi medan yang menantang.

Bagi SD Mupat, pembentangan bendera di tebing juga bukan pengalaman pertama. Sebelumnya, aksi serupa dilakukan di Lembah Kera untuk memperingati HUT ke-79 RI.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan siswa dalam belajar menghadapi tantangan sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri melalui kegiatan yang memiliki tujuan jelas.

Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Hana Ayudah, M.Pd., menegaskan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan siswa harus memiliki nilai pembelajaran dan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

“Setiap aktivitas pembelajaran harus bermakna dan mendalam. Kegiatan siswa SD Mupat tidak hanya sekadar program, tetapi merupakan proses yang terus-menerus dianalisis, direfleksikan, dan ditindaklanjuti. Pada akhirnya, proses tersebut diharapkan menjadi semakin baik dan membawa perubahan nyata,” ujar Hana.

Bagi SD Mupat, pembentangan bendera di tebing juga bukan pengalaman pertama.(Ist)

Perkembangan ekstrakurikuler panjat di SD Mupat pun menunjukkan hasil yang membanggakan. Sejumlah siswa telah menorehkan prestasi dalam berbagai kompetisi hingga tingkat nasional. Sekolah juga terus memberikan ruang dan fasilitas agar potensi tersebut dapat berkembang secara terarah.

Di tengah berkibarnya Merah Putih di tebing Coban Putri, SD Mupat sekaligus menandai dimulainya ekstrakurikuler Pecinta Alam SD Mupat atau Mupala. Ekstrakurikuler baru ini diarahkan menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk mengenal alam secara langsung sekaligus membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan.

Mupala tidak hanya mengajarkan bagaimana siswa menghadapi medan alam terbuka. Lebih jauh, mereka dikenalkan pada pentingnya kepedulian lingkungan, kerja sama, kemandirian, kedisiplinan, keselamatan, hingga tanggung jawab.

Konsep tersebut melengkapi pendidikan karakter yang selama ini dikembangkan melalui Mupat Climbers Club. Jika panjat memberikan ruang bagi siswa untuk mengasah keberanian dan keterampilan menghadapi tantangan, kegiatan pecinta alam memperluas pengalaman mereka melalui interaksi langsung dengan lingkungan.

Hana menilai pembelajaran tidak semestinya dibatasi oleh ruang kelas. Aktivitas olahraga, kegiatan alam, organisasi siswa hingga kegiatan kebangsaan dapat menjadi ruang pendidikan yang sama pentingnya ketika dirancang dengan tujuan dan refleksi yang jelas.

“Setiap aktivitas pembelajaran di sekolah, baik intrakurikuler, ekstrakurikuler maupun kokurikuler, harus memberikan pengalaman yang bermakna dan mendalam bagi siswa,” tegasnya.

Di tengah berkibarnya Merah Putih di tebing Coban Putri, SD Mupat sekaligus menandai dimulainya ekstrakurikuler Pecinta Alam SD Mupat atau Mupala.(Ist)

Karena itu, pembentangan bendera raksasa di tebing Coban Putri memiliki makna yang lebih luas dari sekadar perayaan HUT ke-81 RI. Di balik Merah Putih yang terbentang di dinding tebing, terdapat proses panjang berupa latihan, persiapan, keberanian mengambil tantangan, kedisiplinan menjalankan prosedur keselamatan, serta kolaborasi antara siswa, guru dan orang tua.

Semangat kemerdekaan pun diterjemahkan dalam bentuk yang dekat dengan dunia anak-anak: berani mencoba, mampu bekerja sama, bertanggung jawab, mencintai lingkungan dan bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Dengan pendekatan tersebut, SD Mupat berupaya menjadikan momentum kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengalaman pendidikan yang dapat membekas dan membentuk karakter siswa dalam jangka panjang. (Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *