Malangpariwara.com – Sebanyak 39 lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ma Chung resmi menyandang gelar apoteker setelah mengucapkan sumpah profesi, Rabu (7/10/2026), di Ijen Suites Resort & Convention Hall, Malang.
Yang membuat capaian Angkatan III ini menonjol bukan sekadar jumlah lulusan. Seluruh peserta berhasil lulus 100 persen Ujian Kompetensi Nasional (UKN), sekaligus menunjukkan kesiapan akademik dan profesional setelah menjalani pendidikan profesi selama dua semester.
Dari capaian akademik, 39 lulusan tersebut mencatat IPK rata-rata 3,60, dengan IPK tertinggi mencapai 3,97. Prestasi itu menjadi gambaran konsistensi proses pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu kefarmasian, tetapi juga kesiapan menjalankan profesi di tengah tuntutan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks.
Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Ma Chung, apt. Eva Monica, S.Farm., M.Sc., mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama antara mahasiswa, keluarga, dosen, preseptor, tenaga kependidikan, serta berbagai mitra wahana praktik.
Namun, menurutnya, keberhasilan akademik tersebut bukanlah garis akhir. Justru setelah sumpah diucapkan, para lulusan memasuki fase yang lebih berat karena setiap keputusan profesional akan berhadapan langsung dengan kepentingan dan keselamatan masyarakat.
“Hari ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab dan pengabdian yang lebih besar,” ujar Eva.
Ia berpesan agar para apoteker baru menjalankan profesinya dengan integritas, profesionalisme dan kompetensi, sekaligus memegang teguh sumpah yang telah diikrarkan.
Pesan serupa disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ma Chung, Dr. apt. Rollando, S.Farm., M.Sc. Menurutnya, sumpah profesi tidak boleh berhenti sebagai seremoni, tetapi harus menjadi pedoman dalam setiap keputusan yang diambil seorang apoteker.
Mulai dari ketelitian dalam pelayanan, keterbukaan memberikan informasi obat, menjaga kerahasiaan pasien hingga memastikan keselamatan pasien harus menjadi bagian dari praktik profesional sehari-hari.
“Gelar apoteker adalah sebuah pencapaian; menjadi apoteker yang dipercaya adalah tugas sepanjang kehidupan,” tegas Rollando.
Ia juga mendorong para apoteker baru untuk tidak berhenti pada praktik pelayanan konvensional. Salah satu ruang pengembangan yang dapat digarap adalah obat herbal dan pemanfaatan bahan alam, yang menjadi salah satu kekhasan pengembangan keilmuan di Universitas Ma Chung.
Potensi tersebut, kata dia, dapat dikembangkan melalui penelitian, pengembangan produk, industri maupun pelayanan kefarmasian. Namun, inovasi bahan alam tetap harus dibangun di atas standar mutu, keamanan dan pembuktian ilmiah yang kuat.
Farmasi Harus Bertemu Teknologi dan Kebutuhan Manusia
Sementara itu, Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, MS., M.Sc., menempatkan sumpah apoteker dalam konteks yang lebih luas.
Menurutnya, profesi apoteker tidak lagi berdiri sendiri. Perkembangan kesehatan membuat bidang farmasi bersinggungan dengan kedokteran, teknologi, data, industri, ekonomi, regulasi hingga perilaku manusia.
Kondisi tersebut sejalan dengan tema besar Universitas Ma Chung pada 2026, yakni “fostering transformative convergence” atau mendorong pertemuan berbagai bidang untuk menghasilkan perubahan yang berdampak.
“Bagi seorang apoteker, farmasi bertemu dengan kedokteran, teknologi, data, industri, ekonomi, regulasi, dan perilaku manusia. Pertemuan itu menjadi transformatif membawa perubahan dan berdampak besar ketika menghasilkan sesuatu yang lebih baik bagi manusia,” ujarnya.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa tantangan apoteker baru tidak berhenti pada kemampuan memahami obat. Mereka dituntut mampu membaca perubahan teknologi kesehatan, memahami kebutuhan pasien, beradaptasi dengan perkembangan industri serta tetap menempatkan keselamatan dan kepentingan manusia sebagai orientasi utama.
Di sisi lain, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Jawa Timur, apt. Adi Wibisono, M.Kes., mengingatkan para apoteker baru untuk tidak berjalan sendiri ketika memasuki dunia profesi.
Ia meminta lulusan memanfaatkan organisasi profesi sebagai ruang memperoleh informasi dan dukungan, termasuk dengan menghubungi pengurus cabang PD IAI apabila membutuhkan akses informasi terkait profesi kefarmasian.
Prosesi Sumpah Apoteker Angkatan III akhirnya tidak hanya menjadi penanda berakhirnya pendidikan profesi selama dua semester. Dengan kelulusan UKN 100 persen dan capaian akademik yang kuat, 39 lulusan Universitas Ma Chung kini memasuki fase baru yang menuntut pembuktian lebih besar: mengubah kompetensi menjadi pelayanan, ilmu menjadi solusi, dan sumpah profesi menjadi pengabdian nyata bagi masyarakat.(Djoko W)







