NGAWI, Malangpariwara.com – Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) XV dan Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Peparpeda) III Jawa Timur 2026 bukan sekadar ajang perebutan medali.
Gelaran yang melibatkan lebih dari 8.000 kontingen dari 38 kabupaten/kota ini juga dituntut mampu melahirkan atlet potensial sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat daerah penyelenggara.
Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., menegaskan, Popda dan Peparpeda menjadi bagian penting dari proses regenerasi atlet Jawa Timur. Dari kompetisi pelajar inilah diharapkan muncul bibit-bibit unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional, baik pada Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) maupun Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Ajang ini sangat spektakuler. Kita ingin menjaring atlet-atlet yang benar-benar berbobot dan berkualitas untuk kepentingan Popnas hingga PON mendatang,” ujar Sri Untari.
Besarnya partisipasi daerah menunjukkan tingginya antusiasme terhadap penyelenggaraan kompetisi tersebut. Kota Surabaya tercatat mengirimkan kontingen terbesar dengan lebih dari 500 orang. Posisi berikutnya ditempati Kota Malang dan Kabupaten Malang, sedangkan Kota Batu menjadi daerah dengan kontingen terkecil, yakni 46 atlet.
Namun, bagi Sri Untari, keberhasilan penyelenggaraan tidak cukup diukur dari jumlah peserta, kelancaran pertandingan, maupun raihan medali. Dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat Ngawi juga harus menjadi indikator penting.
Ia menilai, kedatangan ribuan atlet, pelatih, ofisial, dan pendamping selama kegiatan berlangsung berpotensi menciptakan perputaran uang yang besar. Sektor penginapan, kuliner, transportasi, perdagangan hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpeluang menikmati dampak langsung dari kegiatan tersebut.
Karena itu, Sri Untari meminta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) serta KONI setempat melakukan penghitungan secara terukur terhadap nilai transaksi ekonomi selama Popda dan Peparpeda berlangsung.
“Kita bersama pemerintah kabupaten/kota tidak hanya menggerakkan olahraga, tetapi juga ekonomi. Saya meminta Dispora dan KONI setempat menghitung nilai perputaran ekonomi yang terjadi di Ngawi, sehingga terlihat nyata kontribusi gelaran ini terhadap geliat UMKM dan ekonomi rakyat,” tegasnya.
Menurutnya, penyelenggaraan event olahraga berskala besar harus mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas. Prestasi atlet tetap menjadi tujuan utama, tetapi kesempatan ekonomi bagi masyarakat sekitar juga tidak boleh terabaikan.
Sementara itu, pembukaan Popda XV dan Peparpeda III Jawa Timur 2026 turut dimeriahkan penampilan grup musik Guyon Waton. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur bersama jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyerukan pentingnya sportivitas dan integritas bagi seluruh atlet pelajar tingkat SMP sederajat.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kompetisi bukan semata-mata tentang kemenangan, melainkan juga pembentukan karakter, mental tanding, dan sikap kesatria. Melalui ajang ini, Jawa Timur diharapkan terus memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung atlet nasional.(Djoko W)






