Waspada Virus Nipah, Dosen FK UB Ungkap Risiko Fatal dan Tantangan Deteksi

Malangpariwara.com – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD, menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap potensi ancaman virus Nipah.

Meskipun hingga saat ini virus tersebut belum ditemukan di Indonesia.

Virus Nipah dikenal sebagai penyakit infeksi emerging dengan tingkat fatalitas tinggi dan dampak serius terhadap kesehatan manusia.

dr. Milanitalia menjelaskan bahwa virus Nipah tergolong sangat berbahaya karena mampu menyerang organ-organ vital dalam tubuh manusia.

Infeksi virus ini dapat menembus sistem saraf pusat dan menyebabkan peradangan otak atau ensefalitis.

“Virus ini dapat berkembang sangat cepat, mulai dari demam tinggi, penurunan kesadaran, hingga pasien mengalami koma,” jelasnya.

Selain menyerang sistem saraf, virus Nipah juga dapat menimbulkan peradangan hebat pada paru-paru.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gagal napas akut yang berujung pada meningkatnya risiko kematian pasien.

Menurut dr. Milanitalia, kombinasi gangguan pada otak dan paru inilah yang membuat virus Nipah memiliki angka kematian yang relatif tinggi dibandingkan infeksi virus lainnya.

Tantangan Mendeteksi Virus Nipah

Dalam praktik klinis sehari-hari, dr. Milanitalia mengungkapkan tantangan utama dalam mendeteksi virus Nipah adalah kemiripan gejala awalnya dengan penyakit infeksi lain.

Oleh karena itu, dokter perlu memiliki kewaspadaan tinggi terhadap tanda-tanda klinis tertentu.

“Gejala yang perlu menjadi alarm antara lain demam tinggi yang tidak membaik, sesak napas, penurunan kesadaran, serta kejang. Perubahan kondisi yang cepat harus segera dicurigai sebagai infeksi yang lebih serius,” ujarnya

Ia menambahkan virus Nipah dapat menyerang berbagai kelompok usia, namun risiko lebih tinggi terjadi pada kelompok rentan.

Lansia, anak-anak, serta individu dengan kondisi imunitas rendah atau immunocompromised menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus.

Apabila kelompok tersebut terinfeksi, dampak klinis yang muncul dapat lebih berat dan progresif.

Penanganan Virus Nipah

Terkait penanganan pasien, dr. Milanitalia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun terapi khusus untuk virus Nipah.

Penanganan medis masih bersifat suportif dan simptomatik.

“Pasien dengan demam diberikan obat penurun panas, pasien dengan sesak napas diberikan oksigen. Jika terdapat kecurigaan virus Nipah, pasien harus dirawat di ruang isolasi dan dipisahkan dari pasien lain,” jelasnya.

Selain itu, tenaga medis diwajibkan menerapkan protokol pengendalian infeksi secara ketat. Mulai dari penggunaan alat pelindung diri, mencuci tangan dengan benar, hingga penerapan standar isolasi yang sesuai.

Menurutnya, kesiapan tenaga kesehatan menjadi faktor kunci dalam mencegah penularan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Menanggapi wacana karantina dan pembatasan mobilitas, dr. Milanitalia menyampaikan bahwa langkah skrining harus diperkuat, khususnya pada individu dengan risiko tinggi.

Ia menilai pengalaman pandemi COVID-19 memberikan pelajaran penting tentang pentingnya deteksi dini.

“Skrining di bandara dan terminal harus dilakukan secara ketat agar virus yang belum ada di Indonesia tidak masuk melalui perjalanan internasional,” tegasnya.

Kesiapan Fasilitas Kesehatan

Dari sisi kesiapan fasilitas kesehatan, dr. Milanitalia menilai rumah sakit di Kota Malang dan wilayah Jawa Timur pada umumnya telah memiliki ruang isolasi khusus untuk menangani penyakit infeksi emerging.

Namun demikian, ia berharap kesiapan tersebut tidak sampai diuji oleh terjadinya wabah besar.

“Jangan sampai kita kembali menghadapi situasi pandemi seperti COVID-19,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Milanitalia juga menekankan pentingnya peran institusi pendidikan kedokteran dalam meningkatkan kesadaran publik.

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, menurutnya, berperan aktif melalui kegiatan sosialisasi, seminar, serta edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Upaya edukasi tersebut ditujukan agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar terkait virus Nipah dan tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.

Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik dalam menyikapi isu virus Nipah.

“Waspada bukan berarti takut berlebihan. Masyarakat cukup menerapkan protokol kesehatan, menggunakan masker di area berisiko, rajin mencuci tangan, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala,” pungkasnya. (Djoko W)