Malangpariwara.com – Isu krisis moral dan minimnya dampak sosial dari praktik keberagamaan menjadi sorotan dalam Pengajian Persyarikatan dan Peningkatan SDM di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (27/2/2026).
Kegiatan yang digelar di Hall Dome UMM itu mengangkat tema Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial.
Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., yang juga menjabat Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan bahwa kecerdasan tanpa ketakwaan justru bisa menjadi ancaman bagi peradaban.
Menurutnya, ibadah tak boleh berhenti pada rutinitas tahunan, tetapi harus melahirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
“Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya.
Ia menjelaskan, takwa semestinya tidak hanya berhenti pada kesalehan personal, tetapi menjelma menjadi karakter sosial.
Ibadah seperti salat dan puasa akan kehilangan makna jika tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah.
Baginya, agama harus hadir dalam realitas sosial, bukan sekadar simbol.

“Problem besar umat hari ini bukan pada minimnya ritual, melainkan pada lemahnya dampak sosial dari keberagamaan. Paradoks meningkatnya aktivitas ibadah yang tidak selalu berbanding lurus dengan menurunnya korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan,” ucapnya.
“Dalam konteks itu, sekularisasi dipahaminya bukan sekadar pemisahan agama dan dunia, melainkan kegagalan menghadirkan nilai ilahiah di ruang publik,” lanjutnya.
“Karena itu, Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus tampil sebagai etos perubahan yang menyentuh struktur sosial, bukan hanya wacana normatif,” tegasnya.
Integritas dalam Keilmuan

Dadang juga mengingatkan pentingnya integritas dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ia menilai, ilmu tanpa iman berpotensi melahirkan kesombongan bahkan kehancuran.
Kemajuan teknologi, termasuk senjata pemusnah massal, menurutnya lahir dari kecerdasan yang tak dibimbing nilai takwa. Karena itu, spiritualitas dan intelektualitas harus berjalan beriringan.
“Dalam konteks peningkatan SDM, dapat ditekankan bahwa tradisi membaca dan belajar merupakan fondasi kebangkitan. Rendahnya literasi menjadi salah satu sebab lemahnya daya saing bangsa,” katanya.
“Padahal, wahyu pertama telah memerintahkan membaca sebagai jalan peradaban. Karena itu, penguatan spiritualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. SDM Muhammadiyah, harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” pungkasnya.
Pertahankan Etos Kerja Muhammadiyah

Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa etos kerja dan kepedulian sosial merupakan ruh gerakan Muhammadiyah yang harus terus dijaga.
Ia menyebut Ramadan sebagai momentum refleksi untuk memperkuat empati serta kolaborasi di lingkungan kampus.
“Melalui momentum Ramadhan, semoga kita diberi kekuatan hati untuk berbahu-bahu memberikan yang terbaik bagi umat dan bangsa,” ungkapnya.
“Pengajian ini pun tidak sekadar menjadi forum tausiyah. Tetapi ruang konsolidasi nilai tempat spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan sebagai wajah persyarikatan yang mencerahkan,” pungkasnya. (Djoko W)






