Inovasi Mahasiswa UMM, Budidaya Nila Sistem Bioflok Jadi Solusi Lahan Sempit

Malangpariwara.com – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan peran nyata melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak dengan menghadirkan solusi budidaya ikan nila berbasis sistem Bioflok di Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari.

Program ini menjadi alternatif bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan, sekaligus mendukung ketahanan pangan lokal.

Selama 30 hari pelaksanaan, mulai 24 Januari hingga 22 Februari 2026, mahasiswa tidak hanya membangun kolam percontohan berbahan terpal, tetapi juga memberikan pelatihan menyeluruh kepada warga.

Kegiatan ini melibatkan sekitar 20–25 masyarakat desa, mulai dari petani, pemuda karang taruna, ibu rumah tangga hingga perangkat desa.

Dosen Pembina Lapangan (DPL), Festy Putri Ramadhani, M.P., menjelaskan bahwa program ini dirancang agar berkelanjutan dan dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Menurutnya, metode bioflok dipilih karena efisien, ramah lingkungan, dan tidak membutuhkan lahan luas.

“Budidaya ikan nila dengan sistem bioflok sangat cocok untuk skala rumah tangga. Selain hemat air, sistem ini juga memanfaatkan bakteri untuk mengolah limbah menjadi pakan tambahan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa lintas disiplin ilmu seperti agribisnis, komunikasi, hukum, informatika, dan perikanan turut berkolaborasi. Setiap bidang memiliki peran penting, mulai dari teknis budidaya hingga pendampingan komunikasi dan strategi pemasaran hasil panen.

Kolam percontohan yang dibangun berdiameter dua meter dengan tinggi satu meter, dilengkapi rangka besi dan terpal khusus. Sebanyak 1.000 benih ikan nila ukuran 5–7 cm ditebar dengan pengelolaan pakan dan kualitas air yang terjadwal secara rutin.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman warga yang signifikan. Nilai rata-rata peserta pelatihan meningkat dari 55 pada pre-test menjadi 85 pada post-test.

Hal ini menunjukkan efektivitas program dalam meningkatkan kapasitas masyarakat.

Program diawali dengan observasi kebutuhan desa dan perencanaan partisipatif, dilanjutkan pelatihan teknis seperti pembuatan kolam, pemilihan benih, manajemen pakan, hingga pengendalian kualitas air dan strategi pemasaran.

Pendampingan juga dilakukan secara berkala untuk mengatasi kendala di lapangan, termasuk perubahan cuaca.

Antusiasme warga menjadi salah satu kunci keberhasilan program ini. Meskipun masa panen belum sepenuhnya tercapai, pertumbuhan ikan menunjukkan hasil yang menjanjikan dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi.

Program ini diharapkan mampu membuka peluang baru bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein hewani sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga. Ke depan, tim KKN merekomendasikan pengembangan melalui penambahan kolam, pembentukan kelompok budidaya, serta dukungan dari pemerintah desa.

“Harapannya, model budidaya ini dapat direplikasi di desa lain dan menjadi sumber ekonomi baru yang berkelanjutan,” pungkas Festy.(Djoko W)