Jakarta, Selasa 12 Mei 2026
Malangpariwara.com – Semangat menjaga lingkungan terus ditunjukkan Wutmaili Romuty, pengajar SMKN 3 Ambon sekaligus penerima Penghargaan Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan tahun 2018.
Pria yang akrab disapa Uce itu melakukan kunjungan pribadi ke Kampung Proklim Lestari 2025 RW 01, Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (12/5/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk bersilaturahmi sekaligus bertukar pengalaman dengan sesama penerima Kalpataru, Sutarno, terkait pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.
Wutmaili Romuty sendiri dikenal sebagai pendiri Rumah Edukasi Sampah LAKPONA MAILI Eco Friendly yang berada di RT 01 RW 05, Kelurahan Batu Meja, Kecamatan Sirimau, Ambon.
Sosok asal Kota Ambon itu pernah mencatat prestasi nasional setelah menerima Penghargaan Kalpataru pada Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Taman Wisata Alam Batu Putih, Tangkoko, Bitung.
Penghargaan tersebut diserahkan Presiden RI yang diwakili Menko Perekonomian saat itu, Darmin Nasution.

Uce dinilai berhasil menginisiasi berbagai teknologi tepat guna dan inovasi pengelolaan sampah sederhana yang bermanfaat bagi masyarakat.
Berbagai inovasi yang dikembangkannya antara lain alat daur ulang limbah kertas menjadi paper block dan acoustic, pemanfaatan pelepah pisang untuk kap lampu dan kertas seni, alat pirolisis sampah organik menjadi briket biomassa, pemanfaatan kulit durian sebagai bahan energi terbarukan, hingga digester biogas dari galon bekas.

Tak hanya itu, ia juga mengembangkan pembasmi rayap organik berbasis pembakaran sampah tanpa mencemari udara, alat komposter pupuk cair (uce pot), mesin gergaji limbah kayu, hingga modifikasi mesin bor untuk membuat kancing dari limbah tempurung kelapa.
Dalam kunjungannya ke Kampung Proklim Sunter, Uce mengaku mendapatkan banyak pembelajaran baru terkait pengelolaan sampah rumah tangga berbasis lingkungan RT.
“Yang saya dapatkan dari kunjungan hari ini adalah berbagi ilmu mengelola sampah rumah tangga, manajemen pengelolaan sampah menjadi sumber ekonomi, serta motivasi agar penerima Kalpataru tetap konsisten mengedukasi masyarakat tentang pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga tertarik dengan teknologi pengelolaan sampah berbasis RT yang diterapkan di Kampung Proklim Sunter. Menurutnya, sistem tersebut sangat memungkinkan untuk diterapkan di Ambon.
“Saya akan mengadopsi kegiatan Pak Sutarno di tempat kami di Ambon,” tambahnya.
Kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi dan saling berbagi pengalaman antar pegiat lingkungan sangat penting dalam memperkuat gerakan pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan di berbagai daerah Indonesia.(Djoko W)






