Malangpariwara.com – Upaya mewujudkan kemandirian industri kesehatan nasional memasuki babak baru.
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Persyarikatan Muhammadiyah resmi memulai pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di kawasan Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6).
Proyek strategis ini digadang-gadang menjadi salah satu penguat rantai pasok alat kesehatan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk medis impor.

Peletakan batu pertama (groundbreaking) dilakukan di atas lahan milik UMM yang memiliki luas sekitar 14 hektare.
Sebanyak tiga hektare di antaranya disiapkan sebagai kawasan industri terpadu yang akan menjadi pusat pengembangan sektor kesehatan berbasis kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri.
Sejumlah tokoh nasional hadir dalam momentum tersebut, mulai Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, hingga jajaran pimpinan UMM.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus tersebut bukan sekadar investasi bisnis, melainkan bagian dari gerakan besar Muhammadiyah dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui sektor kesehatan.
Menurutnya, Muhammadiyah selama ini tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan pelayanan sosial, tetapi juga terus mengembangkan kekuatan ekonomi yang berorientasi pada kemaslahatan publik.
Pabrik infus ini menjadi salah satu manifestasi konsep socio-religious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa.
“Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegas Haedar.
Ia menambahkan, agama tidak hanya berbicara mengenai aspek spiritual dan ritual keagamaan, tetapi juga mengatur kehidupan sosial dan ekonomi yang mampu memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat.
“Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah dalam industri kesehatan dipandang sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemandirian bangsa di sektor yang sangat strategis,” tukasnya.
Lebih dari sekadar fasilitas produksi, kawasan industri ini juga akan menjadi ruang integrasi antara pendidikan tinggi dan dunia usaha.
Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa keberadaan pabrik akan terhubung dengan pengembangan Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang dirancang sebagai pusat riset dan inovasi kesehatan.
Melalui konsep tersebut, mahasiswa, peneliti, dan industri dapat berkolaborasi dalam menghasilkan berbagai inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi kesehatan.
“Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri,” ujarnya.
Keberadaan pabrik infus ini diproyeksikan memberikan manfaat ganda. Di satu sisi memperkuat ketersediaan produk medis bagi rumah sakit Muhammadiyah dan fasilitas kesehatan lainnya, sementara di sisi lain membuka peluang pengembangan riset, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga penciptaan lapangan kerja baru.
Target operasional pada tahun 2027 menjadikan proyek ini sebagai salah satu investasi kesehatan terbesar yang melibatkan sinergi antara organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, dan dunia industri.
Langkah tersebut sekaligus mempertegas posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi kebutuhan bangsa.
Di tengah tantangan global sektor kesehatan dan tingginya kebutuhan alat medis nasional, pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia menjadi simbol optimisme bahwa kemandirian kesehatan Indonesia dapat dibangun dari kolaborasi, inovasi, dan semangat pengabdian untuk masyarakat luas. (Djoko W)






