Malangpariwara.com – Gemerlap panggung Malang Fashion Runway (MFR) Series #7 bertajuk FANTASTISCA di Grand Hall Malang Town Square (MATOS), 11–12 Juli 2026, tidak hanya menghadirkan parade busana karya desainer lokal.
Lebih dari itu, ajang tahunan tersebut dinilai menjadi bukti semakin kuatnya ekosistem industri kreatif Kota Malang yang mampu menggerakkan roda perekonomian, membuka peluang bagi pelaku UMKM, hingga menciptakan efek berganda bagi berbagai sektor usaha.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang hadir membuka kegiatan tersebut memberikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan Malang Fashion Runway.

Menurutnya, ajang ini telah berkembang menjadi ruang strategis bagi lahirnya kreativitas sekaligus penguatan industri fashion lokal.
“Malang Fashion Runway bukan hanya panggung apresiasi seni di bidang fashion, tetapi juga momentum strategis untuk membangun dan memperkuat industri kreatif Kota Malang,” ujar Wahyu.
Ia menegaskan, perkembangan industri fashion di Kota Malang merupakan refleksi dari semakin tingginya kreativitas masyarakat.
Berbagai karya yang ditampilkan para desainer lokal menjadi bukti bahwa Kota Malang memiliki sumber daya kreatif yang terus berkembang dan layak mendapatkan ruang untuk tumbuh.
Menurut Wahyu, sektor fashion memiliki peran penting dalam memperkuat ekonomi kreatif.
Kota Malang saat ini dihuni banyak desainer muda berbakat, pelaku UMKM fashion, hingga komunitas kreatif yang terus menghadirkan inovasi serta mampu menghasilkan produk dengan daya saing tinggi.
Kondisi tersebut, lanjutnya, selaras dengan komitmen Pemerintah Kota Malang dalam membangun kota yang ramah terhadap industri kreatif sekaligus memberikan ruang yang luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Wahyu juga mengingatkan bahwa Kota Malang telah mencatatkan sejarah setelah resmi ditetapkan sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO pada November 2025 dalam kategori Media Arts.
Pengakuan internasional itu menjadi modal besar untuk memperluas jejaring industri kreatif sekaligus memperkuat posisi Kota Malang di tingkat global.
Predikat tersebut, menurutnya, harus dimanfaatkan sebagai pemacu semangat para pelaku industri kreatif untuk terus berinovasi.
Ia berharap para desainer lokal mampu menjadi motor penggerak ekonomi melalui terciptanya multiplier effect, mulai dari meningkatnya produksi, terbukanya lapangan pekerjaan, hingga berkembangnya berbagai sektor pendukung.
“Saya percaya Malang Fashion Runway menjadi ajang yang tepat untuk mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas para pelaku fashion sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap seni dan budaya yang terus berkembang,” katanya.
Lebih jauh, Wahyu menilai MFR merupakan contoh nyata kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri kreatif, komunitas, dan dunia usaha dalam membangun ekosistem fashion yang berkelanjutan.
Sinergi tersebut diharapkan mampu memperluas pasar produk lokal, meningkatkan daya saing, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemerintah Kota Malang pun berharap kegiatan seperti Malang Fashion Runway terus berkembang sehingga semakin banyak produk fashion lokal yang dikenal masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, antusiasme terhadap penyelenggaraan MFR Series #7 juga terlihat dari jumlah peserta yang melampaui target.
Mall Director MATOS, Fifi Trisjanti, mengungkapkan panitia awalnya hanya menargetkan 50 desainer. Namun, tingginya minat membuat jumlah peserta meningkat menjadi 58 desainer.
“Acara tahun ini benar-benar spektakuler. Target kami 50 desainer, tetapi yang ikut mencapai 58. Kalau tidak kami stop, jumlahnya bisa sampai 70 peserta karena banyak desainer baru yang ingin bergabung,” ungkap Fifi.
Besarnya animo tersebut bahkan mendorong penyelenggara untuk mempertimbangkan penambahan durasi acara pada tahun depan dari dua hari menjadi tiga hari agar mampu mengakomodasi semakin banyak peserta.
Menurut Fifi, para desainer telah menanyakan jadwal penyelenggaraan MFR jauh-jauh hari agar memiliki waktu cukup untuk mempersiapkan koleksi terbaik mereka.
Hal itu menunjukkan bahwa Malang Fashion Runway kini telah menjadi agenda yang dinanti oleh komunitas fashion, baik dari Kota Malang maupun daerah lain.
Tidak hanya menghadirkan pertunjukan busana, penyelenggaraan MFR juga memberikan dampak ekonomi yang dirasakan langsung masyarakat.
Salah satu sektor yang menikmati manfaat tersebut adalah usaha jasa jahit yang mengalami peningkatan pesanan menjelang pelaksanaan acara.
“Dengan adanya MFR, penjahit di Kota Malang penuh pesanan. Ini menunjukkan dampak ekonomi yang luar biasa karena usaha jahit yang biasanya sepi menjadi ramai,” pungkas Fifi.
Melalui penyelenggaraan Malang Fashion Runway Series #7, Kota Malang kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat industri kreatif di Indonesia.
Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi kreatif, ajang ini tidak sekadar menjadi ruang unjuk karya para desainer, melainkan juga menjadi penggerak ekonomi yang menghubungkan kreativitas, budaya, dunia usaha, dan kesejahteraan masyarakat dalam satu panggung yang sama.(Djoko W)




mencuri perhatian datang dari desainer asal Jakarta, Migi Rihasalay, yang memperkenalkan koleksi perdana brand Kinikita Kidswear.





