Malangpariwara.com – Departemen Statistika Universitas Brawijaya (UB) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang memetakan potensi ekonomi kreatif (ekraf) di lima kecamatan untuk mendukung perencanaan pembangunan berbasis data. Hasil riset tersebut mengelompokkan wilayah Kota Malang ke dalam dua klaster dengan karakteristik ekonomi berbeda.
Hasil penelitian dipaparkan dalam diskusi bersama di Kantor Bappeda Kota Malang, Senin (5/10/2026). Kegiatan ini menjadi forum untuk menyelaraskan temuan akademik dengan kondisi lapangan sekaligus merumuskan arah pengembangan ekraf di Kota Malang.
Dosen Departemen Statistika UB, Rahma Fitriani, menjelaskan bahwa penelitian menganalisis pola spasial ekonomi kreatif selama periode 2022–2025. Hasilnya, Kecamatan Klojen dan Lowokwaru masuk Klaster 1, sedangkan Kecamatan Blimbing, Kedungkandang, dan Sukun masuk Klaster 2.
Klojen dan Lowokwaru dinilai memiliki karakteristik sebagai kawasan pusat pendidikan dan industri. Aktivitas ekonomi digital, termasuk pengembangan aplikasi dan gim, serta sektor kuliner turut mewarnai potensi ekonomi di kedua wilayah tersebut.
Sementara itu, tiga kecamatan dalam Klaster 2 masih memerlukan penguatan kapasitas industri. Khusus Kedungkandang, Rahma menyoroti potensi lahan dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan untuk menopang kegiatan industri.
Hasil pemetaan ini diharapkan membantu pemerintah menentukan pendekatan pengembangan ekonomi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah, bukan menerapkan kebijakan yang seragam di seluruh kecamatan.
Data Ekraf Dinamis, Pemutakhiran Jadi Tantangan
Statistisi Muda Bappeda Kota Malang, Riza Saadiah, mengatakan sektor ekonomi kreatif memiliki kontribusi penting terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yang menjadi salah satu indikator kinerja utama Wali Kota Malang.
Saat ini, Bappeda Kota Malang bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang juga menjalankan Program Kelurahan Cinta Statistik (Cantik). Program tersebut melibatkan mahasiswa UB dan Universitas Negeri Malang (UM) dalam pengumpulan data melalui kuesioner perhitungan PDRB ekonomi kreatif.
Menurut Riza, hasil penghitungan PDRB ekraf masih dalam tahap penyusunan laporan akhir. Karena itu, penelitian bersama Departemen Statistika UB diharapkan memperkaya analisis terhadap temuan lapangan.
Tantangan lain muncul dari dinamika pelaku usaha. Sebagian pelaku ekraf tidak lagi beroperasi, sementara data yang tersedia perlu terus diperbarui agar tetap mencerminkan kondisi sebenarnya.
Untuk mendukung pemutakhiran, mahasiswa Program Studi Sains Data UB yang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Bappeda membantu memetakan persebaran pelaku ekraf berdasarkan data mentah hasil riset Bappeda pada 2025.
Perencana Muda Subkoordinator Inovasi dan Daya Saing Daerah Bappeda, Zakaria, mengusulkan agar analisis spasial ekonomi kreatif dilakukan secara berkala. Ia juga mendorong pembentukan forum bersama untuk membahas hasil penelitian sehingga temuan akademik dapat ditindaklanjuti secara berkelanjutan.
Riset untuk Kebijakan Pembangunan
Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kota Malang, Yogi Handoyo Waseso, menyambut positif kontribusi perguruan tinggi dalam menyediakan masukan berbasis riset ilmiah bagi penyusunan kebijakan publik.
Ia menegaskan, Bappeda terbuka terhadap hasil penelitian dosen maupun mahasiswa PKL untuk menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan daerah.
Kolaborasi Bappeda dan Departemen Statistika UB ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
Melalui pemetaan yang diperbarui secara berkala, pemerintah diharapkan memiliki dasar data yang lebih kuat untuk mengidentifikasi potensi wilayah, memperkuat kapasitas pelaku usaha, dan menyusun strategi pengembangan ekonomi kreatif yang sesuai dengan kebutuhan setiap kecamatan di Kota Malang.(Djoko W)






